Tentang perasaan Biasa-biasa Saja
Jika dianugerahi sebuah perasaan, saya selalu ingin memiliki perasaan biasa-biasa saja.
Ketika saya menyadari Tumblr diblokir oleh Kemenkominfo pada maret 2018 lalu karena merasa terancam sebab rumah tempat saya bebas mengutarakan isi hati dan pikiran telah digusur, saya mencak-mencak tidak keruan. Kesal sekali. Ya karena, harus dengan cara apa lagi saya melarikan isi otak dan hati dengan lega? Di mana lagi saya menemukan tempat nyaman dan aman untuk berkojah ria? (baca: meracau)
Lalu setelah seorang teman menyarankan men-download VPN untuk tetap bisa mengakses Tumblr, tanpa banyak mikir saya langsung men-downloadnya. Tentu saja ada sebagian teman yang menakut-nakuti bahwa VPN bahaya untuk ponsel, mudah terserang virus, risiko pencurian dan penjualan data dengan cara ilegal dan sebagainya. Saya waktu itu cuek-cuek saja. Karena sejauh saya memakai VPN, ponsel saya memang masih baik-baik saja. Tidak ada kendala berarti—selain saya menyadari ketika VPN diaktifkan, ponsel saya agak lemot.
Karena bagaimanapun, seseorang yang ingin memasuki rumahnya demi merebahkan diri dengan nyaman dan utuh, meski pintunya terkunci, ia akan nekat memasuki rumahnya kendati harus melewati jendela atau genteng, bukan?
Tentu saja saya juga memiliki harapan semoga Kemenkominfo atau siapapun itu yang memiliki hak atas Tumblr, dibukakan pintu hatinya untuk memastikan bahwa Tumblr akan baik-baik saja untuk para usernya di Indonesia. Tapi tetap dengan harapan yang biasa saja.
Waktu melesat jauh, harapan itu tiba-tiba meluap perlahan, menghilang bagai diterpa angin malam. Saya sudah tidak memiliki harapan itu lagi. Semacam—saya sudah tidak berharap Tumblr akan dibuka Kemenkominfo, supaya aksesnya efisien, supaya tidak merusak ponsel, supaya tidak ribet harus mengaktifkan VPN dan supaya supaya yang lain.
Selama masa pemblokiran, saya bahkan benar-benar sudah tidak merasa riweuh membuka Tumblr menggunakan VPN. Tidak menjadikannya beban yang berarti. Karena memang sudah seperti menjadi bagian dari ritual mengakses Tumblr. Selow saja.
Lalu, beredarlah berita bahwa Tumblr dibuka lagi. Orang-orang yang merasa kehilangan rumah, bersorak sorai bahagia karena bisa memasuki rumahnya kembali dengan tanpa harus lewat jendela atau genteng. Mereka kemudian kembali berbondong-bondong menghuni Tumblr lagi.
Saya? Biasa saja. Serius saya biasa saja. Karena diblokir atau tidak diblokir, memakai atau tidak memakai VPN, saya merasa biasa saja. Selama saya masih bisa mengakses, ya sok mangga atuh mau digimanain juga. A kind of, no matter what happen, i will be okay, gitu.
Belakangan ini, ketika Vice President dari pornHub tertarik untuk mengakuisisi Tumblr, saya juga biasa saja. Tidak sekhawatir itu perasaan saya. Selama saya masih akses dan bisa meluapkan pikiran dan perasaan, why worry? Lalu, setelah Tumblr akhirnya dibeli Wordpress? Entah kenapa, saya tetap merasa biasa saja. Datar.
Intinya saya sama sekali tidak berharap dan tidak memiliki harapan. Pasrah, sadah, sumarah. Ikhlas, rela, menerima. Mau Tumblr tetap diblokir, mau Tumblr harus diakses menggunakan VPN, mau Tumblr dibeli Pornhub atau Wordpress, mau Tumblr nggak bisa diakses sekalipun, ya sudah. Biasa saja. Saya hanya menggunakan sekenanya, semau saya, semampu saya.
Saya jadi berpikir. Jika saya dianugerahi Allah sebuah perasaan, saya ingin sekali merasakan perasaan biasa-biasa saja dalam segala hal yang ada di dunia seperti dalam hal ini. Yang perasaan tersebut tidak perlu membuat saya merasa khawatir berlebihan, merasa takut berlebihan, memiliki harap-harap cemas berlebihan, juga tidak merasa was-was berlebihan.
Sebab, memiliki perasaan biasa-biasa saja menjadikan hati saya tenang, tenteram dan aman. Sebab sesungguhnya, merasa biasa-biasa saja itu nikmat tiada tara dari Tuhan :)