Kualitas Dosen: Dari Local Maxima ke Global Maxima
Sudah ada shifting positif latar belakang pendidikan dosen khususnya bidang STEM.
15-20 tahun lalu masih umum dosen S1-S3 di dalam negeri, bahkan kuliah di tempat dia mengajar.
5-10 tahun ke belakang, a big chunk dosen muda adalah S1-S2 di dalam negeri, jadi dosen, lalu S3 ke luar negeri. Naik satu anak tangga. LPDP/beasiswa kementerian adalah key enabler-nya saat beasiswa lain jauh lebih kecil acceptance rate-nya.
Bagaimanapun, kita masih bisa melihat dosen sebagai pekerjaan yang punya seleksi alamiahnya. Biasanya, mengajar di kampus yang punya support system dan familarity dengan kota/kampusnya.
Support system berarti kota kelahiran, dimana orangtua tinggal, kota dimana pasangan berasal, atau tempat pasangan bekarir. Support system punya kaitan kuat dengan adaptasi finansial saat jadi pengajar baru di kampus. Pentingnya aspek ini semakin kuat bila kampusnya semakin kecil.
Ada juga aspek familiarity dengan kota atau kampusnya. Familiarity dengan kota berkaitan dengan kultur kesukuan atau seberapa tidak asing (mungkin pernah travelling). Familiarity dengan kampus berkaitan dengan personal contact di kampus tersebut sebagai jembatan untuk beradaptasi atau memang alumni.
Dua hal yang mempengaruhi seleksi alamiah kandidat dosen baru ini membuat kampus-kampus di daerah lebih lambat berkembang.
Dewasa ini, rekrutmen dosen mencari lulusan-lulusan S3. Sebuah shifting untuk naik satu anak tangga. Tapi, lagi-lagi, dua aspek di atas sudah mensortir kandidat.
Jika digali lebih dalam, gaji dosen dan skema rekrutmen yang harus mulai dari bawah despite jam terbang kandidat membuat kampus-kampus likely dapat warga lokal atau alumni kampusnya sendiri.
Tentu kita tidak bisa mendiskredit kualitas kandidat manapun, tapi pool of talent-nya sempit dan yang terpilih adalah the best dari pool yang tersedia (local maxima).
Di sisi lain, kompetisi sangat berbeda di luar negeri. The top of the cream candidates bahkan "picky" memilih kampus dimana dia memulai karirnya mempertimbangkan starting package, seberapa atraktif, baik dari segi salary, starting grants, ataupun fasilitas lain seperti "allowance" menghire postdoc dan PhD students.
Membuat starting package menarik adalah cara kampus/negara ingin mendapat kandidat terbaik (global maxima). Itupun masih belum tentu diambil oleh kandidat karena pertimbangan pribadi seperti living cost, sekolah anak, budaya, dll.
Kita masih menunggu gebrakan serius bagaimana pekerjaan dosen ini makin atraktif, termasuk untuk mengajar di kampus-kampus di daerah. Kondisi saat ini hanya membantu yang besar makin melesat. Yang kecil dapat hikmahnya.
Satu hal lain yang saya sadari, dari segi kualitas kompetisi itu seperti air. Dia akan mencari jalan. Tanpa intervensi, kampus seperti UI & ITB bisa expect kandidat terbaik jebolan luar negeri. Sedangkan, kampus di daerah bisa expect kandidat kedua-terbaik DAN punya support system dan familiarity. Atau orang-orang yang "terpaksa" pulang kampung.
















