Semuanya bisa menipu. Pikiran, perasaan, prasangka, pandangan, asumsi, firasat, kepercayaan, keyakinan, mimik muka, lambaian tangan, langkah kaki, perkataan, perilaku, uang, kekuasaan, cinta, juga diri sendiri. Semuanya bisa menjadi munafik. Hanya kenyataan dan waktu yang tidak pernah berbohong. Kenyataan mengungkap segalanya pada waktu yang telah ditentukan takdir. Kenyataan bahwa kita semua ditakdirkan hidup dengan semua kebohongan dan kemunafikan. Kenyataan pula yang melahirkan kutipan "aku lebih suka kejujuran yang pahit daripada kebohongan yang manis" dan kita acapkali mengkhianatinya dengan tidak bisa menerima kenyataan pahit (padahal kejujuran) dan memilih tetap dalam angan dan ilusi yang indah. Kembali menjadi munafik.
Akan tetapi, takdir itu muka dua, munafik juga. Ia yang mengadakan segala tipu daya dan teman-temannya yang tanpa kita sadari kita akui sebagai "KENYATAAN".