Berjalan menikmati sedikit bagian dari kota Jakarta, menuju suatu perpustakaan di tengah kota, sambil beberapa kali mengabadikan momen lewat gawai. Pandanganku menyapu apa yang ada di sekeliling; berawan, langit terik, tapi di bagian yang lain mulai mendung.
Pandanganku bukan hanya pada cuaca, tapi pada manusia-manusia yang ada. Mereka semua terlihat biasa saja; menjalani aktivitas, menunggu pesanan, duduk di bahu jalan, memainkan ponsel. Kemudian di salah satu gang di kelurahan Cikini yang aku lewati, beberapa orang tua tengah berbincang-bincang mengisi waktu luang.
Ya, mereka terlihat biasa saja.
Beberapa menit juga aku memperhatikan sebuah pemandangan yang selalu berulang di mana-mana, bagi-bagi makanan di hari Jum'at.
Temanku menyeletuk, “Eh Jum'at berkah, mau juga, boleh nggak ya, kita kesana supaya dapat?” Celetukan ringan karena lapar di siang hari yang sudah dirasa. Tentu saja, “Jangan, kita bisa beli di warung, ada yang lebih berhak” kata temanku yang lain. Ya, pandangan umum. Lagi, aku melihat mereka—yang membagikan makanan, dan yang mengantre di depannya—biasa saja.
Tapi siapa yang tahu, bapak ojol yang sedari tadi duduk di bahu jalan itu tengah gundah karena belum dapat orderan sejak pagi, atau orang tua yang tengah berbincang di gang itu tengah memiliki penyakit yang sulit disembuhkan, atau pria yang sedang memainkan ponselnya tengah pusing memikirkan tagihan biaya rumah tangga, atau mungkin memikirkan tunggakkan uang pendidikan yang belum dilunasi. Serta kemungkinan-kemungkinan lainnya, yang bisa jadi lebih parah dari yang aku kira.
Tapi dari sudut pandangku, semua orang terlihat biasa saja. Orang lain juga pasti melihat aku biasa saja. Orang tidak akan peduli terhadap masalah berat apa yang menimpa selain dirinya. Orang lain akan tetap berjalan dengan hidupnya sendiri, tak peduli.
Maka benarlah kata seorang penulis perjalanan, bahwa, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Jika aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.”
Artinya, tak perlu mengaharap simpati dari orang lain. Akan lelah kita, jika mengharapkan sesuatu yang ternyata orang itu tidak begitu peduli. Maka berjalanlah, karena sejatinya yang kita miliki adalah Allah, hanya Allah.













