Kita terlalu sibuk memperbaiki dunia,
hingga lupa menanyakan satu hal yang paling mendasar:
“Bagaimana shalatku hari ini?”
Kita sibuk mengatur hidup,
bahkan sibuk memperbaiki orang lain,
namun shalat kita tetap sama:
cepat, tergesa, kosong, tanpa rasa.
kita berharap hidup tenang
dari shalat yang tak pernah kita tenangkan.
Berapa lama lagi kita berdiri di hadapan Allah
dengan tubuh menghadap kiblat,
namun hati masih berkeliaran ke mana-mana?
Lidah membaca ayat-ayat agung,
namun pikiran sibuk dengan urusan dunia
yang bahkan belum tentu kita hidup sampai esok hari.
Bukankah shalat itu perjumpaan paling sakral
antara hamba dan Rabb-nya?
Lalu mengapa kita menjalaninya
seperti sekadar checklist kewajiban?
tapi kesombongan tak pernah ikut membungkuk.
Kita mengucap Allahu Akbar,
namun dunia masih lebih besar di dalam dada.
“Kenapa hidup terasa berat?”
“Kenapa doa seperti tak didengar?”
“Kenapa hati terus gelisah meski rajin beribadah?”
Padahal mungkin bukan Allah yang menjauh,
kitalah yang datang kepada-Nya
Shalat bukan sekadar gerakan.
Bukan pula sekadar bacaan yang dihafal sejak kecil.
Setiap berdiri adalah pengakuan:
Setiap rukuk adalah penyerahan:
aku tunduk, bukan pengendali hidupku.
Setiap sujud adalah kehancuran ego:
di titik terendah inilah aku paling dekat dengan-Mu.
Yang bersujud hanya tubuh,
sementara hati tetap liar,
keras, dan penuh tuntutan pada takdir.
Sudah berapa tahun kita shalat
namun tak pernah benar-benar menjadikan shalat
Tempat mengadu tanpa topeng.
Tempat menangis tanpa harus kuat.
Tempat meletakkan semua beban
yang tak sanggup kita pikul sendiri.
Shalat seharusnya membuat kita pulang
dengan hati yang lebih lapang,
bukan sekadar selesai lalu kembali sibuk
mengejar dunia yang tak pernah kenyang.
Maka mungkin pertanyaan yang paling jujur adalah:
apakah selama ini kita shalat untuk Allah,
atau sekadar agar merasa “sudah menggugurkan kewajiban”?
Sudah saatnya kita berhenti memperbaiki hidup
tanpa memperbaiki shalat.
Sudah saatnya kita belajar kembali
makna gerakan dan bacaan shalat,
agar setiap Allahu Akbar benar-benar mengerdilkan dunia,
dan setiap sujud benar-benar meruntuhkan keakuan.
tak akan mudah putus asa,
tak akan mudah jauh dari Allah.