Aku tidak lagi sibuk memperbaiki prasangka orang.
Jika mereka memilih salah paham, biarlah.
Jika mereka memilih menilai buruk, silakan.
Aku tidak memiliki kewajiban menjelaskan diriku kepada setiap orang yang bahkan tidak ingin memahami.
Sebab aku telah belajar…
Banyak orang tidak melihat dengan mata,
tetapi dengan telinga.
Mereka mendengar cerita,
bukan mencari kebenaran.
Mereka menerima kabar,
tanpa menguji hati.
Lalu menjatuhkan vonis,
seolah mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang.
Padahal…
fitnah selalu berlari lebih cepat daripada kebenaran.
Sedangkan kebenaran berjalan tenang, karena ia tidak takut terlambat.
Aku tidak ingin menang di hadapan manusia,
tetapi kalah di hadapan Allah.
Cukuplah Allah yang mengetahui air mata yang tidak pernah kuceritakan.
Cukuplah Allah yang mengetahui luka yang tidak pernah kutunjukkan.
Cukuplah Allah yang menjadi saksi atas niat yang tidak pernah dipahami manusia.
Bukankah manusia hanya melihat apa yang tampak,
sedangkan Allah melihat apa yang tersembunyi?
Maka untuk apa lelah mengejar penilaian makhluk,
jika ridha Sang Pencipta jauh lebih berharga?
Hari ini mereka boleh salah menilaimu.
Esok mereka boleh tetap membencimu.
Namun ketika semua lisan telah diam,
semua telinga tak lagi mendengar,
dan semua manusia berdiri di Padang Mahsyar…
tidak ada lagi yang ditanya:
“Bagaimana manusia menilaimu?"
Yang ditanya hanyalah:
Bagaimana amalmu?
Bagaimana hatimu?
Untuk siapa engkau hidup?
Maka jangan habiskan umur untuk membersihkan namamu di hadapan manusia.
Bersihkanlah hatimu di hadapan Allah.
Karena nama baik di bumi bisa dirampas siapa saja,
tetapi kemuliaan di sisi Allah…
tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapa pun.









