Bekas Sujud yang Hidup di Wajah dan Akhlak
Tidak semua bekas ibadah tampak sebagai tanda di kulit.
Sebagian bekas sujud justru hidup dalam cara seseorang berbicara, menatap, meminta maaf, dan menahan diri ketika mampu membalas.
Wajahnya mungkin biasa saja.
Tetapi ada teduh yang lahir dari seringnya ia merendah di hadapan Allah.
Ada malu yang membuatnya tidak mudah meninggikan diri di hadapan manusia.
Allah berfirman:
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)
Ayat ini mengajarkan bahwa sujud bukan sekadar gerakan yang selesai ketika dahi terangkat.
Sujud yang benar meninggalkan jejak.
Di wajah: bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk ditundukkan.
Di lisan: menjadi lebih hati-hati agar tidak melukai.
Di akhlak: menjadi lebih lembut kepada orang yang lemah.
Di dada: menjadi lebih lapang memaafkan.
Di langkah: menjadi lebih mudah kembali ketika tersesat.
Sebab orang yang benar-benar sujud tahu posisinya.
Ia pernah meletakkan bagian tubuh paling mulia ke tanah.
Maka tidak pantas baginya bangkit dengan kesombongan.
Tidak pantas lisannya merendahkan orang lain.
Tidak pantas ibadahnya berubah menjadi alasan untuk merasa paling bersih.
Bekas sujud bukan hiasan untuk dilihat manusia.
Bekas sujud adalah pelajaran agar seorang hamba semakin mengenal kelemahannya.
Jika shalat membuat kita lebih mudah marah, barangkali ada yang perlu diperiksa.
Jika banyak rukuk dan sujud, tetapi hati tetap keras kepada orang tua, keluarga, tetangga, dan saudara seiman, mungkin sujud itu belum turun ke akhlak.
Jika dahi sering menyentuh sajadah, tetapi lisan ringan membuka aib, mungkin kita perlu lebih lama memohon agar Allah melembutkan bagian dalam diri kita.
Sujud yang hidup tidak hanya membekas di wajah. Ia membekas pada cara seorang hamba memperlakukan makhluk Allah.
Maka mintalah kepada Allah bukan hanya wajah yang terlihat saleh.
Mintalah hati yang tunduk ketika tidak ada yang melihat.
Mintalah akhlak yang membaik setelah shalat.
Mintalah lisan yang lebih selamat setelah banyak berdoa.
Karena manusia bisa tertipu oleh rupa.
Tetapi Allah mengetahui apakah sujud kita benar-benar membawa kita pulang kepada-Nya.
Ya Allah, hidupkan sujud kami.
Jadikan ia sebab lembutnya hati, bersihnya lisan, dan baiknya akhlak.
Jauhkan kami dari sombong setelah beribadah, dan dari riya setelah beramal.
Tampakkan bekas ketaatan itu dalam wajah, ucapan, pilihan, dan perbuatan kami.
Aamiin.















