Secukupnya, ya. Ku tak ingin ada yang terluka terlalu dalam. Entah karena akhir yang tak indah, atau rasa yang tak lagi sama.
Dan dalam kasusku, yang berlebihan selalu berujung kecewa.
seen from United States

seen from Colombia
seen from United States
seen from T1
seen from China
seen from Kyrgyzstan
seen from United States
seen from Italy

seen from United States

seen from United States
seen from Kyrgyzstan

seen from T1
seen from United States

seen from Sweden

seen from Spain

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Malaysia
seen from China
Secukupnya, ya. Ku tak ingin ada yang terluka terlalu dalam. Entah karena akhir yang tak indah, atau rasa yang tak lagi sama.
Dan dalam kasusku, yang berlebihan selalu berujung kecewa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kalau hari ini terjadi hal buruk, aku cuma bisa menghela nafas.
Lalu bilang sama diri sendiri,
"Besok juga kamu pasti sudah mentertawakan apa yang terjadi hari ini. Bersedihlah, secukupnya."
-Sastrasa
Kita hanyalah manusia yang tidak tahu apa-apa, meraba-raba perihal hidup, mencari tahu banyak hal meski pada akhirnya tidak semua hal perlu diketahui. Keterbatasan bukan kepayahan. Secukupnya, semampunya, dan terus mengupayakan. Kita berikhtiar bukan berkelakar. Hai 2021, aku siap!
Ikhtiar
Ekspektasi dan Hal-hal Kecil yang Terlupakan
Seorang teman berkata:
“Orang yang paling bahagia adalah orang yang tak pernah berharap.”
Kata-kata itu sungguh membuatku tercekat.
Apa yang kulakukan selama ini apakah termasuk toxic postivity?
Manusia sering kali berusaha mengontrol hidupnya namun lupa bahwa banyak hal yang tidak dapat kita kontrol dalam hidup. Berekspektasi tinggi terhadap suatu hal atau orang lain umum kita lakukan, namun kita jarang untuk bersiap menghadapi kegagalan dan penolakan. Seringkali kegagalan dan penolakan membuat kita merasa sedih, marah, ataupun kecewa. Kemudian hal itu terus berlarut-larut dan membawa dampak negatif bagi kita. Sadar tak sadar, kebiasaan ini justru membuat kita lebih sulit untuk berbahagia.
Karena terbiasa berekspektasi tinggi, sering kali kita membanding-bandingkan banyak hal. Kita pun jadi sulit bersyukur dan menghargai suatu proses. Kebiasaan melihat sesuatu dari hasli maupun kulit luar saja tentu membutakan kita ketika menyikapi suatu hal. Enggan melihat lebih dekat tentu membuat kita jauh dari sikap bijaksana dalam menilai sesuatu. Hasilnya, kita seringkali lupa dengan berkat-berkat lainnya yang ada disekeliling kita.
Kita lupa bersyukur akan tempat tinggal.
Kita lupa bersyukur akan penghasilan.
Kita lupa bersyukur akan kemudahan-kemudahan lainnya.
Mungkin saat ini adalah saat terbaik kita untuk tenang sejenak, bersyukur dengan nikmat yang kita terima. Yang mungkin bagi kita biasa, tapi di luar sana banyak yang menganggap hal itu istemewa. Tak usah terlalu berharap, jalani saja hidup ini sebaik yang kita bisa. Nikmati prosesnya dan detali-detail kecil di dalamnya. Semoga dengan ini dapat membuat kita lebih bijaksana dalam memandang segala sesuatu.
Karena lebih bahagia jika tidak berharap.
Secukupnya saja.
Karena ketenangan batin dan mental merupakan hal terpenting bagi jiwamu.
Love, Hedia.
Refleksi Diri lewat Hindia.
Akhir-akhir ini kayaknya konsep waktu dan ruang bener-bener maksa gue buat merefleksi diri dan mikir. Bukan, ini semua bukan karena ada peristiwa besar seperti gue tertimpa musibah dan jadi mikir kalau hidup itu gak ada yang tau kapan berakhirnya, jadi jangan disia-siakan (setidaknya untuk saat ini). Ini sesederhana dan bermula dari gue yang dengerin lagu-lagunya Hindia.
Gue masih ingat, beberapa bulan yang lalu, seorang teman pernah ngetweet yang isinya dia makasih banyak ke Hindia atas lagu Evaluasi yang bikin dia bangkit lagi dari keterpurukannya. Karena penasaran, gue dengerin lagunya di saat itu juga. Setelah denger, gue bereaksi seperti “Oooh, ini lagunya.” Udah. Gitu aja. Gak ngasih kesan yang berarti di gue.
Selang beberapa bulan berlalu sampai akhirnya ke pertengahan bulan September. Ada teman gue juga yang sering banget denger lagu Peradaban oleh .Feast. Gue pun penasaran (lagi), lalu dengerin. Dan mulai mencari-cari sedikit tentang .Feast di Spotify & Youtube. Lalu akhirnya bermuara ke Hindia. Pertama kali lagu yang gue denger adalah lagu Membasuh. Di sini gue langsung ‘klik’ dengan lagunya. Mungkin karena musiknya yang lebih ‘halus’ dibanding Evaluasi. Juga featuring Rara Sekar, vokalis Banda Neira (sudah bubar dari lama, tapi gue sedihnya sampai sekarang), kesukaan juga.
Pas denger lagu Membasuh, itu sambil liat video musiknya. Di beberapa bagian lagunya, gue nahan nangis yang rasanya pengen keluar gak berhenti-berhenti. Gimana ya. Nahannya sampai yang bikin dada sesak sendiri. Akhirnya gue lepas bendungan di mata dan dia ngalir di pipi. Gue resapi lagi liriknya, sambil ulang-ulang bagian video yang gue suka. Sampai akhirnya gue ulang-ulang terus video musiknya, lagi dan lagi. Kalau lo liat Spotify gue, pasti gue selalu repeat lagu ini di waktu-waktu itu. Iya, gue tipe yang kalau lagi suka satu lagu, bisa dengerin lagu itu seharian penuh bahkan beberapa hari. Gila. Sesuka itu. Di KRL, ojek online, bahkan saat mandi, gue setel.
Akhirnya penasaran dengan lagu Hindia lainnya, lanjut ke lagu Evaluasi. Nangis, juga. Gue gak ngerti ini Hindia (Baskara) bikin liriknya dapet ilham dari mana. Dia bisa gitu nyampein pesannya lewat lagu ke pendengar dengan tepat guna. Makna lirik, paduan musik, penekanan yang berulang, elemen tarik napas di awal lagu, semua porsinya pas. Setidaknya bagi gue.
Dari suka karyanya, gue mulai cari-cari tau tentang sosok diri Hindia ini, Baskara Putra. Iseng nonton wawancara dia, kalau gak salah di Ngobam, segmen Youtubenya Gofar Hilman. Dan gue makin tersihir sama ini orang. Pinter, cuy. Pinter banget. Gue suka caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dengan pemilihan diksinya, juga penjelasan dibalik premis jawabannya. Berujung ke nontonin wawancara-wawancara lainnya di Youtube. Dan ya emang pinter. Dan gue selalu kagum aja sama orang yang omongannya pinter, gitu.
Sesuka itu dengan Hindia aka Baskara, gue jadi cerita ke orang-orang terdekat. Salah satunya bilang kalau lagu kesukaannya itu yang judulnya Secukupnya. Saat itu, gue belum pernah dengerin lagu tersebut. Heran gak, kenapa gue bisa klaim kalau gue kagum sama Baskara padahal belum denger semua lagunya? Mungkin jawaban singkatnya gini; ya gue pengen pengalaman dengerin lagu-lagunya Hindia jadi sebuah ‘perjalanan spiritual’ buat gue. Gue gak pengen denger lagunya cuma buat asal lewat kayak dulu awal pertama kali denger lagunya. Gue pengen fokusin telinga dan hati di tiap lagu biar lirik dan musik bisa gue resapi dengan baik. Dan iya, enak juga lagu Secukupnya. Sesak juga dengernya, apalagi sambil nonton video musiknya dengan konsep penceritaan yang kayak gitu. Diulang-ulang juga. Sama kayak lagu-lagu lainnya yang akhirnya sudah gue dengerin semua. Dan sesuka itu. Bagi yang temenan sama gue di Spotify, jangan bosen liat gue listening to Hindia mulu, ya. Hehe.
Detik ini gue ngetik post ini, spontan setelah dengerin podcast Makna Talks bersama Baskara. Iseng liat podcast Makna, dan liat kalau ada episode sama Baskara. Gue dengerin. Dan emang ya, kalau pinter mah emang pinter aja. Maksud gue gini, orang pinter tuh banyak, tapi yang bisa bikin orang lain ngerti omongan pinter lo lewat hal sederhana dan bikin yang denger mau jadi orang pinter juga tuh gak banyak. Dan omongan pinternya tuh yang ngalir aja gitu, kayak di sehari-hari emang cara lo ngomong seperti itu, gak dibikin-bikin.
Pikiran dan perasaan mentah yang berusaha disampaikan Baskara lewat lagu-lagunya (Hindia) dan wawancara-wawancara, nyampe banget di gue sebagai penikmat musik dan pikirannya. Juga konsep album Hindia mendatang yang berjudul ‘Membasuh’ yang gue suka banget. Gue coba ringkas sepengertian gue dari wawancara di Makna Talks; Ini album bagaikan teman dekat lama lo yang menyapa kembali dan ngajak lo bercerita tentang hidup selama kalian gak berkabar. Saling dengar, saling bicara. Yin dan yang. Porsi yang seimbang.
Karena ya gitu, hidup gak selalu senang, sedih juga bagian darinya. Maka dari itu, kalau senang dirayakan, kenapa sedih nggak? Mari, kita rayakan kesedihan bersama.
🍻

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Secukupnya
Banyak senangnya tuh baik, alhamdulillah, syukuri! Tapi kalau sampai lupa bahwa senang juga bagian dari cobaan, itu yang gak baik. Senanglah secukupnya. Setiap yang berlebihan itu memang menghanyutkan (red:membawa bahaya). Apalagi buat yang belum bisa berenang. Siapa? Aku jangan? wkwk.
Jadi, kemarin ada yang ngeluh ke temenku, aku ada disitu gak nguping karna sudah kedengeran dan dianya juga gak papa aku denger. wk.
“Kok hidup aku nih sekarang banyak cobaannya banget sih, astaghfirullah”
“Gak papa, itu sweet life”
“Tapi cobaannya tuh kaya dateng terus, padahal cobaan yang sebelumnya belum kelar, kaya numpuk semua”
“Gak papa, jalanin aja, just enjoy it!”
“Tapii.. binguung, sediiih”
“Hey, kemarin tuh pas kamu seneng-seneng juga cobaan, cuman gak kerasa soalnya cobaannya dibungkus hal yang nyenengin terus, sabar in shaa Allah ada jalan keluar”
Oh. ini yang juga suka aku lupa.
Ketahui Secukupnya
Aku rasa tidak semua informasi perlu untuk kita ketahui. Cukup hal yang menurut kita penting untuk keberlangsungan hidup kita dan hal yang membuat hari kita bahagia. Cukup itu yang perlu diketahui.
Jika semua hal ingin kita cari tahu, justru akan membebani diri kita sendiri, terlebih apabila diri kita belum siap untuk menerima hal tersebut. Itulah cikal bakal dari stres. Belum lagi kebenaran dari hal tersebut yang perlu untuk divalidasi agar tidak menjadi fitnah.
Maka dari itu ketahui secukupnya dan seperlunya saja, agar kita tetap waras dan bahagia.
Usaha=Hasil?
"Usaha tidak akan mengkhianati hasil."
Aku pikir kutipan itu hanya berlaku untuk orang yang usahanya tergembirakan oleh hasil.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang usahanya ternyata terkhianati oleh hasil setelah bersusah payah?
Aku pun bingung menjawabnya.
Coba kilas balik, lihat dan terka-lah lebih jauh, setelah semua kegagalan dan demotivasi itu, diri ini menjadi diri yang lebih baik dari yang sebelumnya. Belajar banyak, bukan?
Kalau ingin menangis sekarang tak apa, tak ada yang melarangmu, tak ada manusia yang tak berhak untuk bersedih. Ambil dua, tiga lembar tisu dan menangis secukupnya. Jangan hanya kau simpan sendiri, bagi kesedihanmu itu dengan orang yang kau percaya. Orang yang akan tetap berada di sampingmu sampai kau berhenti menangis.
Tak ada yang bisa menjamin. Hasil dari usahamu nanti juga tak pasti. Yang terjamin dan pasti, satu, ketika dirimu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka itu adalah sebuah bentuk penjagaan Allah terhadap dirimu.
Dirimu tidak yakin, hasil yang kau capai oleh usaha mu itu nantinya akan seterusnya jadi nikmat atau musibah, tapi yang kamu harus yakini segala sesuatu yang datang dari Allah pasti BAIK.
—Untuk yang sudah hebat hari ini
📍Di tempat dimana udara dingin berhembus dan suara jangkrik mengiringi.
Today’s playlist:
Secukupnya - Hindia