Refleksi Diri lewat Hindia.
Akhir-akhir ini kayaknya konsep waktu dan ruang bener-bener maksa gue buat merefleksi diri dan mikir. Bukan, ini semua bukan karena ada peristiwa besar seperti gue tertimpa musibah dan jadi mikir kalau hidup itu gak ada yang tau kapan berakhirnya, jadi jangan disia-siakan (setidaknya untuk saat ini). Ini sesederhana dan bermula dari gue yang dengerin lagu-lagunya Hindia.
Gue masih ingat, beberapa bulan yang lalu, seorang teman pernah ngetweet yang isinya dia makasih banyak ke Hindia atas lagu Evaluasi yang bikin dia bangkit lagi dari keterpurukannya. Karena penasaran, gue dengerin lagunya di saat itu juga. Setelah denger, gue bereaksi seperti “Oooh, ini lagunya.” Udah. Gitu aja. Gak ngasih kesan yang berarti di gue.
Selang beberapa bulan berlalu sampai akhirnya ke pertengahan bulan September. Ada teman gue juga yang sering banget denger lagu Peradaban oleh .Feast. Gue pun penasaran (lagi), lalu dengerin. Dan mulai mencari-cari sedikit tentang .Feast di Spotify & Youtube. Lalu akhirnya bermuara ke Hindia. Pertama kali lagu yang gue denger adalah lagu Membasuh. Di sini gue langsung ‘klik’ dengan lagunya. Mungkin karena musiknya yang lebih ‘halus’ dibanding Evaluasi. Juga featuring Rara Sekar, vokalis Banda Neira (sudah bubar dari lama, tapi gue sedihnya sampai sekarang), kesukaan juga.
Pas denger lagu Membasuh, itu sambil liat video musiknya. Di beberapa bagian lagunya, gue nahan nangis yang rasanya pengen keluar gak berhenti-berhenti. Gimana ya. Nahannya sampai yang bikin dada sesak sendiri. Akhirnya gue lepas bendungan di mata dan dia ngalir di pipi. Gue resapi lagi liriknya, sambil ulang-ulang bagian video yang gue suka. Sampai akhirnya gue ulang-ulang terus video musiknya, lagi dan lagi. Kalau lo liat Spotify gue, pasti gue selalu repeat lagu ini di waktu-waktu itu. Iya, gue tipe yang kalau lagi suka satu lagu, bisa dengerin lagu itu seharian penuh bahkan beberapa hari. Gila. Sesuka itu. Di KRL, ojek online, bahkan saat mandi, gue setel.
Akhirnya penasaran dengan lagu Hindia lainnya, lanjut ke lagu Evaluasi. Nangis, juga. Gue gak ngerti ini Hindia (Baskara) bikin liriknya dapet ilham dari mana. Dia bisa gitu nyampein pesannya lewat lagu ke pendengar dengan tepat guna. Makna lirik, paduan musik, penekanan yang berulang, elemen tarik napas di awal lagu, semua porsinya pas. Setidaknya bagi gue.
Dari suka karyanya, gue mulai cari-cari tau tentang sosok diri Hindia ini, Baskara Putra. Iseng nonton wawancara dia, kalau gak salah di Ngobam, segmen Youtubenya Gofar Hilman. Dan gue makin tersihir sama ini orang. Pinter, cuy. Pinter banget. Gue suka caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dengan pemilihan diksinya, juga penjelasan dibalik premis jawabannya. Berujung ke nontonin wawancara-wawancara lainnya di Youtube. Dan ya emang pinter. Dan gue selalu kagum aja sama orang yang omongannya pinter, gitu.
Sesuka itu dengan Hindia aka Baskara, gue jadi cerita ke orang-orang terdekat. Salah satunya bilang kalau lagu kesukaannya itu yang judulnya Secukupnya. Saat itu, gue belum pernah dengerin lagu tersebut. Heran gak, kenapa gue bisa klaim kalau gue kagum sama Baskara padahal belum denger semua lagunya? Mungkin jawaban singkatnya gini; ya gue pengen pengalaman dengerin lagu-lagunya Hindia jadi sebuah ‘perjalanan spiritual’ buat gue. Gue gak pengen denger lagunya cuma buat asal lewat kayak dulu awal pertama kali denger lagunya. Gue pengen fokusin telinga dan hati di tiap lagu biar lirik dan musik bisa gue resapi dengan baik. Dan iya, enak juga lagu Secukupnya. Sesak juga dengernya, apalagi sambil nonton video musiknya dengan konsep penceritaan yang kayak gitu. Diulang-ulang juga. Sama kayak lagu-lagu lainnya yang akhirnya sudah gue dengerin semua. Dan sesuka itu. Bagi yang temenan sama gue di Spotify, jangan bosen liat gue listening to Hindia mulu, ya. Hehe.
Detik ini gue ngetik post ini, spontan setelah dengerin podcast Makna Talks bersama Baskara. Iseng liat podcast Makna, dan liat kalau ada episode sama Baskara. Gue dengerin. Dan emang ya, kalau pinter mah emang pinter aja. Maksud gue gini, orang pinter tuh banyak, tapi yang bisa bikin orang lain ngerti omongan pinter lo lewat hal sederhana dan bikin yang denger mau jadi orang pinter juga tuh gak banyak. Dan omongan pinternya tuh yang ngalir aja gitu, kayak di sehari-hari emang cara lo ngomong seperti itu, gak dibikin-bikin.
Pikiran dan perasaan mentah yang berusaha disampaikan Baskara lewat lagu-lagunya (Hindia) dan wawancara-wawancara, nyampe banget di gue sebagai penikmat musik dan pikirannya. Juga konsep album Hindia mendatang yang berjudul ‘Membasuh’ yang gue suka banget. Gue coba ringkas sepengertian gue dari wawancara di Makna Talks; Ini album bagaikan teman dekat lama lo yang menyapa kembali dan ngajak lo bercerita tentang hidup selama kalian gak berkabar. Saling dengar, saling bicara. Yin dan yang. Porsi yang seimbang.
Karena ya gitu, hidup gak selalu senang, sedih juga bagian darinya. Maka dari itu, kalau senang dirayakan, kenapa sedih nggak? Mari, kita rayakan kesedihan bersama.