Selamat kembali, Tuan Pengelana, Lagi.
Kita 'bertemu' belum genap seminggu. Tapi kamu sudah sukses membuat hatiku tergugu. Gimana enggak? Hari pertama, aku menghabiskan waktu sepuluh jam dua puluh satu menit untuk bertukar cerita denganmu. Seru. Aku banyak tertawa setelah sekian lama. Aku merasa, oh, ternyata ada ya manusia di bumi ini yang bisa mengimbangi langkahku. Oh, ada seseorang yang akhirnya bisa nyambung kuajak bicara. Oh, ada seseorang yang seru. Aku belum buka hati, buatku kamu cuma teman cerita yang memenuhi sisi applikasi. Aku enggak merasa ada kupu-kupu di perutku, atau jantungku yang berdegup ketika menerima pesanmu. Aku merasa biasa saja bertukar cerita denganmu. Perhatian dan pertanyaan kecilmu buatku tersenyum sedikit. Hangat. Enak juga rasanya. Aku berhenti bertukar cerita dengan yang lain. Aku cuma terserap kepadamu. Sibuk membuka ruang obrolan denganmu. Tapi aku masih biasa saja, toh kalaupun deg-degan itu adalah reaksi wajar atas kegembiraan yang terjadi. Bukan rasa suka apalagi jatuh hati. Besoknya, dua jam lima puluh lima menit. Masih membuatku tersenyum. Aku merasa, oh, kayaknya kamu benar-benar bisa memahamiku. Mungkin. Lalu, kita berbincang soal sesuatu yang membuatku kurang nyaman kala itu. Aku belum siap kembali ke sana. Aku masih merasa hina membicarakannya. Lalu besoknya, tiga jam lima puluh satu menit. Aku meminta maaf atas kesalahanku hari kemarin. Aku enggak suka membuat orang lain gak nyaman. Kamu bilang, enggak apa-apa, tapi aku tahu rasa gak nyaman itu masih ada. Kamu mulai lama membalas pesanku. Kamu mulai sibuk. Tapi kamu masih memberi kabar. Kamu masih ramah. Kamu masih perhatian. Hangat. Aku suka rasa hangat itu. Aku juga bingung bagaimana harus menghadapinya, apakah aku boleh merasa hangat hanya karena pesan singkat? Besoknya, kamu sama sekali enggak membalas pesanku. Hatiku campur aduk. Aku tahu kamu enggak mungkin lupa begitu saja. Aku juga tahu alasan sebenar-benarnya kenapa kamu mengabaikanku seharian. Aku juga tahu kamu kemana. Aku tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan. Tapi baiklah, mungkin kita memang butuh jarak. Esoknya lagi, kamu membalas pesanku. Lama. Enggak lagi perhatian. Cuek. Berubah serratus delapan puluh derajat. Aku tahu. Ada yang salah. Aku juga tahu, sesuatu yang salah itu enggak bisa aku benahi. Kemarin, dua jam tiga puluh sembilan menit. Aku ingin membuat perbincangan kita kembali seru. Aku suka sensasi hangat yang muncul ketika membaca pesan-pesanmu. Kita bermain game. Berbincang banyak. Berbagi terlalu dalam. Tapi aku senang. Aku enggak merasa bersalah dan kehilangan apa-apa. Mungkin karena aku sudah siap membicarakannya. Aku bahagia. Malam itu menyenangkan, aku menikmati semua yang kita bicarakan. Aku enggak akan melupakan semuanya. Aku masih ingat dengan jelas dengan detil itu semua. Tapi memang dasar manusia, sulit untuk merasa cukup. Dan akupun enggak bisa berbuat lebih banyak, aku punya batasan dan prinsip yang enggak bisa aku langgar. Aku bersyukur kamu menghargainya. Tapi ternyata memang cukup sampai di situ. Cukup sampai kemarin serunya. Prinsip kita beda. Ternyata sebesar itu perbedaan prinsip aku dan kamu. Sebesar itu jarak yang ada. Jarak yang enggak bisa aku paksa.
Awalnya, aku ingin berhenti di kamu saja. Jujur, ini pertama kalinya untukku, merasa seseorang cukup. Setara. Seimbang. Enggak lebih, enggak kurang dariku. Aku ingin berhenti di kamu saja. Tapi enggak, itu cuma berlaku untukku, bukan buatmu. Aku merasa kamu cukup, tapi buatmu aku enggak cukup. Dan mungkin lagi-lagi, aku bertemu seseorang terlalu sama denganku. Sama keras kepalanya, sama egoisnya, sama berprinsipnya, sama. Enggak ada yang mau mengalah karena memang memegang teguh prinsip, enggak bisa ngalah. Masalah prinsip adalah sesuatu yang enggak bisa ditawar, kan?
Akhirnya, kamu jujur, kamu enggak bisa kayak gini. Aku ingin memberikanmu pujian atas kejujuranmu. Terima kasih sudah menjadi seseorang yang cukup dewasa untuk menolak dengan jujur. Hubungan bisa terjalin dengan baik jika ada persetujuan dari keduanya, maka dari itu jika kamu memilih enggak bisa, ya aku gak bisa maksa. Lalu kukatakan padamu bahwa gak ada yang bisa menyakitiku, karena betul adanya. Menjadi gagal, menjadi pilihan ke-sekian, menjadi tereliminasi bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Hal itu hanyalah satu dari sekian banyak hal yang terjadi di bumi ini. Dan aku sama sekali enggak merasa tersakiti. Jadi kamu enggak perlu merasa jahat, karena kamu enggak bisa menyakitiku.
Anehnya, dibanding merasa sedih, patah, dan terpuruk. Aku lebih merasa lega, senang dan menang. Aku merasa lega karena enggak perlu berlama-lama bersama seseorang yang ternyata memang enggak mau sama aku. Aku senang karena aku bisa memilih jalanku sendiri, aku enggak perlu memaksakan diri. Aku juga menang karena aku berhasil memegang prinsipku. Aku enggak goyah. Aku enggak gundah. Aku enggak tergoda apapun itu. Aku menang karena berhasil mengatur harapan dan perasaanku dengan baik. Ternyata patah hati bisa se-menyenangkan ini? Mungkin patah hati memang seharusnya dirayakan dan ditertawakan. Ah, ini adalah patah hati yang paling menyenangkan. Besok aku harus tumpengan. Atau mungkin karena aku memang belum sepenuhnya buka hati?
Entahlah, mungkin ini rasanya ketemu orang yang tepat di waktu dan tempat yang enggak tepat. Jadi ya, tetap enggak tepat. Eh, sebenarnya akupun belum seribu persen yakin sih kalau kamu orang yang tepat. Aku enggak berharap banyak, toh sejak awal aku hanya butuh teman bertukar cerita. Tapi ternyata cerita itu mahal sekali. Ceritaku terlalu mahal dan berharga, enggak seharusnya aku ceritakan pada sembarang orang. Dan ternyata cerita sederhana bisa berkembang menjadi sebuah harapan besar yang enggak pernah terbayangkan. (Ah, masalah harapan, harapan kan akan selalu muncul, bahkan jika berharap enggak punya harapan).
Halo, kamu, satu dari sekian tuan pengelana yang datang dan pergi. Setelah dua tahun tidak lagi menerima tuan pengelana singgah. Selamat kembali, tuan pengelana, dalam pengembaraanmu, lagi. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati di jalan.
Ohiya, kamu tenang saja. Biasanya seseorang yang berhasil membuatku tersenyum akan segera menemukan tujuannya. Atau bahkan kamu, sudah? Selamat ya.
Aku izin menjadikanmu tulisan ya, untuk memanjangkan ingatan dan pelajaran.
Untuk Artificial Intelligence.