The words from 00:00:
Berharap dunia mengembalikan investasi perasaan, waktu, serta tenaga yang kita tanamkan ke orang lain atau kegiatan yang spesifik; Seringkali kita dikecewakan karena buah hasilnya tidak manis.
Wishing the world pays back feelings, time, and effort investation that we plant into others or specific activity; Oftentimes we are disappointed because the fruit (as the result) is not sweet.
Saat ditanya tentang hal-hal yang membahagiakan, teman-teman Hindia memberikan respon video yang relative sederhana.
When they got asked about things that make them happy, Hindia's friends gave video responses that are relatively simple.
Mungkin selama ini semesta telah membayar ke masing-masing manusia, hanya saja dalam wujud atau bentuk dan wujud yang tidak kita sadari, karena sibuk mencari yang lain. Terekam dalam memori, tersimpan di depan mata.
Maybe, so far the universe has paid it to each humans, just not in the shape or form that we are aware of, because we're busy searching for the others. Recorded in (our) memory, stored in front of (our) eyes.
Berikut adalah serpihan-serpihan memori milik lebih dari seribu teman-teman Hindia.
The following is memory fragments of more than a thousand of Hindia's friends.
Song:
Selama ini
Kunanti
Yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang
So far
I'm waiting
For what I gave to come back
It hasn't come back home
Apa pun yang terbilang
Di daftar pamrihku seorang
Telat kusadar hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar
Whatever it says
On my very own list of calculated deeds [somekind of covert contract; wishing to be paid back]
I have realized it so late, that life is not
About reaping what you sow
Sedikit air yang kupunya
Milikmu juga bersama
I only have little amount of water
Yours too, it's ours together
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Can we still give
Even if it's not holy? ['it' ambigously refer to both the intention, action, and/or the person]
Can you continue to treat (or nurse [implied 'others']) ?
Even if it turns blue? [ambiguous it, but can be interpreted as we / our wound]
Cukup besar 'tuk mengampuni
'Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Big enough to forgive [Big referring to 'bigger person]
To love [not exclusively romantic - more to selfless, gentle affection]
Without considering the past
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
Even though it's dry*
Can we still wash [implied, 'others']?
Kita bergerak dan bersuara
Berjalan jauh tumbuh bersama
Sempatkan pulang ke beranda
'Tuk mencatat hidup dan harganya
We move and speak
(We) walk far and grow together
Take time to return to the veranda
To record life and its prices
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Can we still give
Even if it's not holy? ['it' ambigously refer to both the intention, action, and/or the person]
Can you continue to treat (or nurse [implied 'others']) ?
Even if it turns blue? [ambiguous it, but can be interpreted as we / our wound]
Cukup besar 'tuk mengampuni
'Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Big enough to forgive [Big referring to 'bigger person]
To love [not exclusively romantic - more to selfless, gentle affection]
Without considering the past
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
Even though it's dry*
Can we still wash [implied, 'others']?
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku di sini (2x)
My well dried up
It refilled back
I found it
The meaning of my life here (2x)
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Can we still give
Even if it's not holy? ['it' ambigously refer to both the intention, action, and/or the person]
Can you continue to treat (or nurse [implied 'others']) ?
Even if it turns blue? [ambiguous it, but can be interpreted as we / our wound]
Cukup besar 'tuk mengampuni
'Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Big enough to forgive [Big referring to 'bigger person]
To love [not exclusively romantic - more to selfless, gentle affection]
Without considering the past
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
Even though it's dry*
Can we still wash [implied, 'others']?
Wash
Membasuh
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
makna hidupku di sini (4x)
My well dried up
It refilled back
I found it
The meaning of my life is here (4x)
Notes:
This is my first draft, I will revisit this later and revise it. The bold, italic, and underlined parts are ones that I'm not sure about
As for context for the this:
Even though it's dry*
Walau kering
Can we still wash [implied, 'others']?
Bisakah kita tetap membasuh?
From what I can infer, it refers to well of life, salvation, love; and the act of washing as act of service or humility or love. So dry well can mean there's no love remaining from the source. So they wonder whether they can be of service without love / when they run out of love
Aside from that, I'm still understanding the song and discussion is welcomed!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lagi-lagi aku disentil sama lirik lagu yang ternyata maknanya dalem bgt. Hal kecil yang ternyata bisa buat aku sadar kalau hidup bukan melulu tentang take and give, tapi yang sebenarnya harus terjadi adalah give, give and give.
Tahun ini banyak banget belajar, gimana besarnya effort yang sengaja aku keluarin untuk membawa keceriaan dicircle yang mungkin tidak mengerti kondisi aku sebenarnya gimana.
Ditahun ini juga, aku berusaha mencoba menyelamatkan orang-orang yang menurutku berharga. Entah itu teman, sahabat, keluarga dari posisi sulit. Sedangkan diriku juga sama sulitnya saat itu.
Selalu melintas dipikiran, yang aku lakukan itu apa memang sudah benar?
Apa memang membuang kebebasan kepentingan diri sendiri untuk mereka itu sudah tepat? Aku ini sebenarnya sedang mencari apa?
Terkadang dimata orang lainpun aku belum tentu salah atau benar. Aku pun sama sekali tidak peduli. Aku merasa puas saja, ketika orang lain bisa merasa tenang dan nyaman setelah berbagi duka denganku. Lantas apa lagi yang aku dapat? Makna baru kehidupan tentunya, banyak sekali lagi pelajaran yang aku dapat.
Pada akhirnya, tanpa peduli apa yang aku akan dapat setelah aku memberi itu tidak ada. Tetapi pada kenyataanya semakin aku banyak memberi untuk orang lain disitulah aku juga memberi makna dikehidupanku.
Akhir-akhir ini kayaknya konsep waktu dan ruang bener-bener maksa gue buat merefleksi diri dan mikir. Bukan, ini semua bukan karena ada peristiwa besar seperti gue tertimpa musibah dan jadi mikir kalau hidup itu gak ada yang tau kapan berakhirnya, jadi jangan disia-siakan (setidaknya untuk saat ini). Ini sesederhana dan bermula dari gue yang dengerin lagu-lagunya Hindia.
Gue masih ingat, beberapa bulan yang lalu, seorang teman pernah ngetweet yang isinya dia makasih banyak ke Hindia atas lagu Evaluasi yang bikin dia bangkit lagi dari keterpurukannya. Karena penasaran, gue dengerin lagunya di saat itu juga. Setelah denger, gue bereaksi seperti “Oooh, ini lagunya.” Udah. Gitu aja. Gak ngasih kesan yang berarti di gue.
Selang beberapa bulan berlalu sampai akhirnya ke pertengahan bulan September. Ada teman gue juga yang sering banget denger lagu Peradaban oleh .Feast. Gue pun penasaran (lagi), lalu dengerin. Dan mulai mencari-cari sedikit tentang .Feast di Spotify & Youtube. Lalu akhirnya bermuara ke Hindia. Pertama kali lagu yang gue denger adalah lagu Membasuh. Di sini gue langsung ‘klik’ dengan lagunya. Mungkin karena musiknya yang lebih ‘halus’ dibanding Evaluasi. Juga featuring Rara Sekar, vokalis Banda Neira (sudah bubar dari lama, tapi gue sedihnya sampai sekarang), kesukaan juga.
Pas denger lagu Membasuh, itu sambil liat video musiknya. Di beberapa bagian lagunya, gue nahan nangis yang rasanya pengen keluar gak berhenti-berhenti. Gimana ya. Nahannya sampai yang bikin dada sesak sendiri. Akhirnya gue lepas bendungan di mata dan dia ngalir di pipi. Gue resapi lagi liriknya, sambil ulang-ulang bagian video yang gue suka. Sampai akhirnya gue ulang-ulang terus video musiknya, lagi dan lagi. Kalau lo liat Spotify gue, pasti gue selalu repeat lagu ini di waktu-waktu itu. Iya, gue tipe yang kalau lagi suka satu lagu, bisa dengerin lagu itu seharian penuh bahkan beberapa hari. Gila. Sesuka itu. Di KRL, ojek online, bahkan saat mandi, gue setel.
Akhirnya penasaran dengan lagu Hindia lainnya, lanjut ke lagu Evaluasi. Nangis, juga. Gue gak ngerti ini Hindia (Baskara) bikin liriknya dapet ilham dari mana. Dia bisa gitu nyampein pesannya lewat lagu ke pendengar dengan tepat guna. Makna lirik, paduan musik, penekanan yang berulang, elemen tarik napas di awal lagu, semua porsinya pas. Setidaknya bagi gue.
Dari suka karyanya, gue mulai cari-cari tau tentang sosok diri Hindia ini, Baskara Putra. Iseng nonton wawancara dia, kalau gak salah di Ngobam, segmen Youtubenya Gofar Hilman. Dan gue makin tersihir sama ini orang. Pinter, cuy. Pinter banget. Gue suka caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dengan pemilihan diksinya, juga penjelasan dibalik premis jawabannya. Berujung ke nontonin wawancara-wawancara lainnya di Youtube. Dan ya emang pinter. Dan gue selalu kagum aja sama orang yang omongannya pinter, gitu.
Sesuka itu dengan Hindia aka Baskara, gue jadi cerita ke orang-orang terdekat. Salah satunya bilang kalau lagu kesukaannya itu yang judulnya Secukupnya. Saat itu, gue belum pernah dengerin lagu tersebut. Heran gak, kenapa gue bisa klaim kalau gue kagum sama Baskara padahal belum denger semua lagunya? Mungkin jawaban singkatnya gini; ya gue pengen pengalaman dengerin lagu-lagunya Hindia jadi sebuah ‘perjalanan spiritual’ buat gue. Gue gak pengen denger lagunya cuma buat asal lewat kayak dulu awal pertama kali denger lagunya. Gue pengen fokusin telinga dan hati di tiap lagu biar lirik dan musik bisa gue resapi dengan baik. Dan iya, enak juga lagu Secukupnya. Sesak juga dengernya, apalagi sambil nonton video musiknya dengan konsep penceritaan yang kayak gitu. Diulang-ulang juga. Sama kayak lagu-lagu lainnya yang akhirnya sudah gue dengerin semua. Dan sesuka itu. Bagi yang temenan sama gue di Spotify, jangan bosen liat gue listening to Hindia mulu, ya. Hehe.
Detik ini gue ngetik post ini, spontan setelah dengerin podcast Makna Talks bersama Baskara. Iseng liat podcast Makna, dan liat kalau ada episode sama Baskara. Gue dengerin. Dan emang ya, kalau pinter mah emang pinter aja. Maksud gue gini, orang pinter tuh banyak, tapi yang bisa bikin orang lain ngerti omongan pinter lo lewat hal sederhana dan bikin yang denger mau jadi orang pinter juga tuh gak banyak. Dan omongan pinternya tuh yang ngalir aja gitu, kayak di sehari-hari emang cara lo ngomong seperti itu, gak dibikin-bikin.
Pikiran dan perasaan mentah yang berusaha disampaikan Baskara lewat lagu-lagunya (Hindia) dan wawancara-wawancara, nyampe banget di gue sebagai penikmat musik dan pikirannya. Juga konsep album Hindia mendatang yang berjudul ‘Membasuh’ yang gue suka banget. Gue coba ringkas sepengertian gue dari wawancara di Makna Talks; Ini album bagaikan teman dekat lama lo yang menyapa kembali dan ngajak lo bercerita tentang hidup selama kalian gak berkabar. Saling dengar, saling bicara. Yin dan yang. Porsi yang seimbang.
Karena ya gitu, hidup gak selalu senang, sedih juga bagian darinya. Maka dari itu, kalau senang dirayakan, kenapa sedih nggak? Mari, kita rayakan kesedihan bersama.
Pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalaku akhir-akhir ini seolah tak menemukan jawabannya, hingga kusadari bahwa yang perlu kulakukan hanyalah kembali membasuh hati agar tidak tertutup oleh kabut prasangka.
Tentang manusia dan interaksi yang begitu mudah berubah; tentang bagaimana aku harus belajar lagi, untuk tidak sembarangan menempatkan siapa saja di ruang VIP dalam hidupku—tempat yang seringkali membuatku terluka saat terlalu bergantung pada kehadiran manusia.
Aku pun kembali menengok ke dalam perigi keikhlasan di hati, bertanya apakah mata airnya sudah mengering atau masih meneteskan ketenangan.
Sebab ikhlas adalah akar dari setiap amal dan rasa. Maka perlu sering-sering membasuhnya, agar setiap hal yang datang bisa dilihat dari sudut pandang paling jernih dan bening.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bisakah kita tetap memberi walau tak suci?
Bisakah terus mengobati walau membiru?
Cukup besar ‘tuk mengampuni, ‘tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering, bisakah kita tetap membasuh?
Apakah keadaan kita harus sama jika kita ingin memberi? Karena kita bisa saling memberi meski keadaannya berbeda. Harusnya kita juga bisa saling mengobati, bagaimanapun keadaannya. Kita cukup besar untuk saling mengasihi. Kita juga cukup besar untuk melupakan kesalahan di masa lampau. Meskipun sedang tidak baik-baik saja, kita harusnya juga bisa saling membasuh kotoran-kotoran kita di masa lalu.
"Cukup besar ‘tuk mengampuni ‘Tuk mengasihi Tanpa memperhitungkan masa yang lalu Walau kering Bisakah kita tetap membasuh?" 010 of #2020Posts #Hindia #Membasuh #CheckpointCharlie #Diorama #NoFilter #RealmeXT (at Museum Angkut +) https://www.instagram.com/p/B8YhParFgsH/?igshid=15td6m1o6oc5o