Selamat Wisuda, dan Refleksi Sederhana
Ngga kerasa sudah memasuki akhir bulan Juni di tahun 2021 ini. Udah hampir 6 bulan terlewati, dan ngga nyangka masih bisa bertahan sejauh ini.
Aku memasuki 2021 dengan keinginan yang ngga muluk: pengen menyelesaikan 3 target tahun 2020 yang belum terlaksana, sama bisa dapat kerja yang sesuai dengan keinginan. 3 target tahun 2020 itu adalah lulus, dapet sertifikat TOEFL dengan nilai yang bagus, dan bisa nyetir mobil.
Alhamdulillah, di awal tahun ini, aku bisa dapetin sertifikat TOEFL dengan nilai yang lumayan tersebut. Ngga expect bakalan bisa melewati 550, karena pas ngerjain soal beneran ngerasa banyak yang blong, terutama yang bagian grammar. Terus bagian reading juga susah, karena teksnya ternyata panjang banget dan menggunakan kosakata yang satu tingkat di atas kosakata yang biasa digunakan sehari-hari. Bahkan aku harus ngebaca salah satu teks sebanyak 3 kali cuman buat nangkep maksud bacaannya tuh apaan. But everything went well dan alhamdulillah diberikan nilai yang bagus.
Alhamdulillah juga tahun ini diberikan kesempata buat lulus. Bisa ngerjain skripsi di akhir tahun was definitely not something I would have expected. Apalagi dari Juni sampai September, aku beneran ngga ada progress. Baru tuh November akhir ada perkembangan, terus Desember beneran ngebut untuk mengerjakan skripsi, dan awal Januari diberikan kesempatan buat daftar sidang.
Ngga sampai situ, aku masih diberikan kesempatan diuji semesta dengan kepastian jadwal sidang yang ngga kunjung datang. Kalau biasanya H+7 daftar sidang tuh udah keluar nama dosen penguji dan tanggalnya, I have to wait for 1,5 months untuk bisa mendapatkan kepastian penguji dan jadwal sidang.
Selama sidang pun ngga yang lancar banget, cuman kayaknya universe sadar kalau aku udah lelah dan sidangnya berjalan dengan oke. Nilainya juga bagus dan memuaskan, untuk ukuran diriku yang malas ketika mengerjakan skripsi dan standarku yang “yaudah lah B aja gapapa”.
Tinggal nyetir aja nih yang belom. Sebenarnya kemarin udah ada rencana daftar tempat kursus habis kelar wisuda, cuman siapa sangka kasus Covid naik lagi dan akhirnya aku mengurungkan niat dan membatasi diri. Kemarin aja wisudanya di Solo, bareng sama kakak doang. Semoga aja kasusnya bisa turun dalam waktu dekat dan aku bisa latihan nyetir dengan nyaman.
Ahh.. Memandang 6 bulan terakhir, aku cuman bisa bersyukur dan bersyukur lagi. Masih diberikan nikmat sehat, punya sahabat dan kerabat yang mau menerima kehadiranku dan bahagia kalau aku ajak ketemu, mempunyai banyak kegiatan dan pengalaman yang bisa dibanggakan, dan seringkali semua hal itu membuat aku mikir, “keren juga lo, Li.”
Sedih pasti ada. Momen-momen depressing kayaknya bakalan selalu ada. Cuman aku berusaha untuk bisa manage itu dan membuat diriku ngga terlalu terdampak dengan hal tersebut.
Dalam spare waktu 6 bulan, gue udah bisa menyelesaikan magang gue di tempat yang sebelumnya, dapat magang di tempat gue sekarang, dapat pekerjaan full time di agensi, dapat skor TOEFL yang bagus, bisa mencapai target berat badan yang diinginkan, dan lulus dengan IPK nomer dua se-prodi di periode ini. I also have more time ketemu sama temen, baik itu bentuknya nongkrong, buka bersama, syawalan, ataupun ketemu karena aku bohong sama bos dan harus ngungsi ke Tamansiswa WKW.
I also got the chance to resign from my previous work karena ketidak cocokan pekerjaan. It was a hard and brave decision, apalagi di tengah pandemi yang membuat persaingan kerja makin rumit dan banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia. I am so proud karena aku berani mengambil keputusan yang menguntungkan untuk pengembangan diriku, rather than bertahan hanya karena takut sama segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Aku juga bangga sama diri sendiri karena berhasil menghilangkan burden karena memberikan ekspektasi yang berlebihan ke keluarga. I know I was not the brightest child in the family, cuman selama ini, I do so much thing cuman biar gue dianggap dan dapat ucapan ‘selamat’ dan ‘terima kasih’ dari anggota keluarga. Gue nyari kerja biar ngga merepotkan keluarga, gue ngurus pembebasan UKT dua kali biar ngga merepotkan keluarga, gue ngurus diri sendiri dan menyelesaikan semua permasalahan tanpa melibatkan keluarga, dan bahkan ngurus permohonan cumlaude karena berpikir hal itu bakalan bikin keluarga gue bangga.
But, ketika akhirnya kemarin gue mental breakdown dan konsul ke psikolog, I know I have wrong motivation. Gue seharusnya selalu memprioritaskan diri sendiri ketika mengambil segala bentuk keputusan: is it gonna be beneficial for me, is it gonna be something that improve me in the long run, is it gonna be something that i envision myself in, dan banyak lainnya. “I” should be the subject of the conversation, not other way around.
Dan habis sesi konseling itu, aku merasa lebih plong karena ekspektasikua terhadap keluarga beneran terangkat. I didn’t expect them to congratulate me on everything. Aku ngga masalah ketika mereka ngga bisa menghadiri wisudaku. Aku ngga masalah ketika ngga ada yang menyelamatiku ketika aku lulus dan cumlaude. I will be okay ketika akhirnya diterima bekerja dan bisa mengembangkan diriku ke depannya.
‘Aku’ yang harus selalu menjadi pertimbangan utama. ‘Aku’ yang harus selalu menjadi hal yang muncul di pikiran pertama kali.
Looking back, gue jadi bisa bersyukur karena masih diberikan kesempatan berjalan sejauh ini. Who would have thought anak terbully yang tinggal di salah satu kecamatan paling terpencil dari peradaban ternyata bisa mencapai banyak hal yang ngga terpikirkan sebelumnya? Siapa sangka malam-malam nangis dan merasa lemah tak berdaya itu ternyata diganti Allah dengan hadiah yang lebih indah.
One of my biggest dream adalah ketemu diriku yang berusia 10 tahun dan baru kelar nangis, setelah dihajar dan dijambak oleh teman sekelas. I really wanna hug him, membiarkan dia nangis di dalam pelukanku selama yang dia mau, dan memberikan rasa aman dan kenyamanan yang dia butuhkan; rasa yang ngga dia dapatkan selama dia hidup. Then, ketika akhirnya dia bisa berhenti dari tangisnya, I wanna tell him that everything will be okay.
You’ll discover Kpop and become a simp for a man that didn’t even know you’re exist, but other than that, you’re gonna be shining as bright as ever.
I should stop merendahkan kualitas diri dan menolak semua credit that actually due to me. Gue masih butuh untuk berlatih melihat my worth dan memberikan penghargaan ke diri sendiri. I need to appreciate myself more. Jika aku masih belum bisa mencintai diri sendiri sepenuhnya, at least I need to be my own best friend and support system.
Like... you’re literally got scholarship for 2 years? Menang lomba nasional yang diadain kementerian? Ikutan konferensi pemuda paling bergengsi dan ngalahin 4300 pendaftar lainnya DUA KALI? Dapet kesempatan magang, nyingkirin 738 dan 2000an saingan lainnya? Turun 23 kilogram?! You are that bitch. Give yourself some credit.
I still have a long way to go, tho. Aku masih sering ngerasa kaku ketika ada orang yang malu atau takut ketemu dengan diriku, padahal aku ngerasa masih belum banyak melakukan hal yang amazing buat orang lain. Aku masih sukar memberikan respon yang sesuai dan memaklumi rasa minder lawan bicaraku ketika mereka merasak takut, malu, segan, atau bahkan menghindariku karena ngerasa ngga selevel denganku. I mean, who am I? I am no president nor CEO, cuman mahasiswa biasa yang butuh 10 semester buat menyelesaikan studi S1-nya dan kebetulan dikasih kesempatan Tuhan to improve himself.
I have to understand their motives for doing that, but I also need to encourage my surrounding untuk lebih memanfaatkan kehadiranku jika memang aku bisa membantu, biar aku ada manfaatnya masih dikasih umur di dunia ini.
Di bagian akhir, gue cuman mengucapkan ke diri sendiri; selamat wisuda. You are fucking ace it. The bitch yang awalnya nangis karena takut sama Solo yang asing, yang kaku ketemu sama temen sekelompok ospek, yang ngga tahu bagaimana harus kenalan sama temen sekelas, yang ngga punya kenalan temen di kosan karena terlalu malu membuka diri, finally can finish his bachelor journey and got that long-awaited S.I.Kom. Gue bangga banget sama lo, Li.
Ditunggu petualangan lainnya. I stuck with you, so better do something yang bisa ngebuat aku bangga. I believe in you.