Sebenarnya Doa-doa Itu Menanti Kita Siap
Mungkin pernah pada satu titik kita merasa stuck. Rasanya sudah berkali-kali mencoba namun tak ujung mendapatkan yang didamba. Sudah mengulang-ulang do’a namun jawaban itu masih tak kunjung nampak hilalnya. Padahal sudah sekian lama doa-doa itu terpanjat, tapi nampaknya harus lebih sabar lagi dalam bermunajat.
Mungkin kita jadi lelah. Mungkin kita jadi pasrah. Hingga akhirnya menyerah. Atau bahkan marah?
“Kenapa doa yang sudah ku ulang-ulang tak kunjung dikabulkan? Rasanya sulit sekali, padahal saat melihat orang lain terlihat begitu mudahnya.” — mungkin kata-kata itu pernah kita ucap entah secara seksama atau hanya dalam hati saja.
Lantas marah itu kini berubah jadi kecewa, hingga kini kau tak lagi ingin berdoa. Kau menganggap bahwa mungkin engkau tak pernah pantas mendapatkannya makanya Tuhan tak jua memberi yang kau pinta. Atau bahkan kecewa itu berubah menjadi benci, benci dengan kenyataan bahwa kini hanya tinggal kau sendiri yang tertinggal di ujung belakang sementara kawan-kawanmu mentereng di depan sana.
Kau berpikir bahwa doamu sia-sia dan tak ada gunanya. Hingga kini kau menjalani semua dengan penuh sedih dan kecewa, khawatir dan takut.
Tapi, benarkah demikian? Benarkah doa-doa yang sempat kau panjatkan itu sia-sia? Benarkah Tuhan mengabaikanmu karena kau tak pantas untuk diberi? Atau bahkan benarkah Tuhan membiarkanmu tertinggal seorang diri dan melupanmu?
Jika pikiran-pikiran itu sempat menggema dalam riuh kepala dan menyesakkan dada, mari melepaskannya satu persatu.
Pertama, Allah dalam QS Al-Baqarah : 186 berfirman yang artinya :
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Bahwa Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepadaNya. Janji Allah itu pasti, dan Allah tidak mungkin berbohong. Siapa yang berdoa maka akan Allah kabulkan.
Kedua, Diriwayatkan Abu Said Al-Khudri, dari Nabi SAW,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلَا بِقَطِيْعَةِ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ يَعْجَلَ لَهُ دَعْوَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخِّرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلِهَا قَالَ إِذَا يُكَفِّرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ
Artinya: “Tiada seorang muslim yang berdoa, selagi tidak untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: Adakalanya doanya dikabulkan segera. Adakalanya doa itu sebagai simpanannya untuk besok di akhirat. Adakalanya Allah akan menolak kejelekan sebesar permintaannya.” Abu Said berkata, “Jika demikian, maka kita perbanyak doa!” Nabi menjawab, “Allah lebih banyak.”
Bahwa cara Allah menjawab doa-doa kita itu tidak selalu dengan sama persis seperti yang kita minta. Allah lebih mengetahui bentuk paling indah dari pengabulan setiap doa kita. Bahkan jika doa itu tidak berwujud di dunia, Allah akan jadikan doa itu simpanan di akhirat. Barangkali nanti kita sudah lupa dengan doa tersebut, tapi Allah tidak pernah lupa. Mungkin saja justru doa-doa yang kau anggap tidak terkabul itulah yang akan memberatkan timbangan kebaikanmu di akhirat nanti.
Ketiga, barangkali kita tidak benar-benar siap dalam menerima perwujudan dari doa tersebut. Kita hanya membayangkan indahnya saja saat doa kita terkabul, tanpa sadar doa itu justru jadi angan yang jauh. Misalnya kau meminta sebotol madu, tapi wadah yang kau miliki hanya sebuah sendok. Bayangkan jika saat itu juga madu itu diberikan, maka justru akan terbuang percuma karena kau tak akan mampu menampungnya. Madu yang berharga itu justru akan menjadi sia-sia.
Barangkali, begitu pula dengan diri kita. Sudahkah kita memantaskan diri untuk menerima perwujudan dari doa-doa kita? Sudah seberapa siap untuk menjadi diri yang akan menampung banyak nikmat dariNya agar tak berujung sia-sia? Mungkin saja Tuhan sebenarnya ingin memberi, tapi kita tak kunjung mempersiapkan diri yang pantas untuk menerimanya. Mungkin saja sebenarnya Tuhan begitu sayang, hingga kita dibuat pantas terlebih dahulu untuk menerima segala pengabulan dariNya. Agar nanti hati kita menjadi puas, dan syukur kita menjadi luas. Dan kemudian menyadari, bahwa tiada satupun hamba yang menengadah untuk berdoa kepadaNya yang akan kembali dengan tangan kosong.
Jika dikabulkan segera itu baik, maka Tuhan akan segera memberikannya. Jika ditunda itu lebih baik, maka bersabarlah sedikit lagi sambil mempersiapkan diri menerimanya. Jika diganti ke bentuk lain itu lebih baik, maka carilah jawaban doamu dari setiap syukur dan kebaikan yang engkau dapatkan setiap hari. Namun, jika disimpan di akhirat itu lebih baik, maka merasa beruntunglah. Nanti di akhirat tabunganmu yang tak kau duga itu akan menghampirimu dengan cara yang paling indah menurutNya.
Semoga, engkau tak pernah lelah berdoa pun tak pernah lelah untuk senantiasa mempersiapkan diri. Sebagaimana doa Nabi Zakaria yang menyebutkan bahwa “…Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu Ya Tuhanku” meskipun usianya telah menua dan rambutnya telah memutih menanti buah hati dariNya. Beliau tak pernah kecewa, terus mengulang-ulang doanya, hingga akhirnya doa itu dikabulkan dengan cara yang paling indah, waktu paling sempurna, dan bentuk yang paling istimewa menurutNya.