Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan, ketika dzolim dengan diri sendiri.
Yap, kehidupan mahasiswa yang nano - nano. Saat itu kehidupan jelas terbalik, makan kalau ingat, tidur rasa antara sadar tak sadar. Sampai secara raga tidak bisa menyeimbangkan.
2 minggu demam setiap malam, tapi tidak pernah dihiraukan. "Ah besok juga sembuh" selalu saja berputar di situ. Sampai ketika Allah hilangkan rasa nikmatnya makan, dan demam semakin menjadi. Sedang keadaan di rumah pun sama, berat rasanya mengabari orang rumah kalau di perantauan juga sedang tidak apa apa.
Sampai pada akhirnya menyerah lah raga ini pada nafsu berkegiatan. Semua kegiatan off seketika, karna sulit untuk sekedar jalan cepat maunya duduk dan duduk. dan untuk pertama kalinya berkenalan dengan jarum infus. kalau dibayangkan.. rasanya masih bisa terasa sampai saat ini. Malam pertama di kamar RS sungguh tidak nyaman, karna badan panas sekali sampai rasanya tidak ada daya untuk memanggil teman yang sedang berjaga.. huh mengerikan. Dalam sisa kesadaran.. batin ini hanya terus berdzikir, pada saat itu aku hanya berpikir "Ya Allah apa ini waktunya" dan berserah. Sampai suster jaga datang untuk mengecek, dan akhirnya saya diberi obat dari infus. Hal mengerikan itu sedikit demi sedikit pergi. Akhirnya bisa tertidur tepat jam 6 pagi.
Teringat rasa itu, demam termenyakitkan selama hidup.. berjuang sendiri dalam temaram lampu, bahkan untuk membuka mulut pun rasanya tak kuasa. Allah lagi lagi beri kesempatan. Aku maluuu
Pengalaman ini menjadi penawar, dan sebagai pesan dari Allah yang tak terkira harganya. Allah tak pernah menyuruh diri ini untuk lelah berlebihan sampai lupa diri, tapi kita kadang mengeluhkan hal tersebut sebagai ketetapan yang sulit untuk di terima. Sombongnya diri kita.
Allah kasih kesempatan hidup pada malam itu, maka masih ada kah yang pantas aku keluhkan (?)