Orang baik itu biasanya tidak akan marah ketika di sia-sia kan. Bahkan ia tidak membuat keributan, tidak mempermalukan, dan tidak menuntut penjelasan panjang.
Ia hanya mengurangi porsinya.
Mengurangi cerita. Karena, ia sadar tidak semua orang benar-benar ingin mendengar.
Mengurangi inisiatif. Karena, ia lelah menjadi satu-satunya yang selalu memulai.
Mengurangi harapan. Karena ia tau berharap sendirian itu melelahkan.
Dan perubahan itu sering kali tidak di sadari oleh banyak orang. Karena ia tetap sopan, tetap baik, tetap tersenyum. Padahal di dalam hatinya, ada sesuatu yang menurutnya sudah selesai.
Orang baik biasanya tidak tiba tiba menjauh, ia menjauh setelah berkali kali merasa sendirian dalam memperjuangkan sesuatu yang seharusnya di lakukan bersama sama.
Ia tidak berhenti peduli, ia hanya berhenti memaksakan.
Kalau suatu hari kamu merasa orang baik di sekitarmu mulai berbeda, lebih diam, lebih singkat, lebih jarang memulai, mungkin ia tidak berubah, ia hanya menyelamatkan dirinya.
Mungkin harapannya sudah di kurangi. Dan ketika harapan sudah di kurangi, ia tetap tinggal, tapi tidak lagi sama.
Dan ketahuilah, "Mengurangi" bagi orang baik itu bukan keputusan impulsif, itu hasil dari banyak malam berfikir, banyak istigfar, banyak intropeksi, banyak dialog batin antara tetap bertahan atau menjaga diri.
Ia tidak egois, tapi ia sedang menunaikan hak dirinya yang selama ini ia abaikan.
Bukan berhenti peduli, tapi tak ingin di perlakukan yang sama.
Bukan berarti menjadi jahat, tapi hanya berubah menjadi realistis.
Dan realistis bagi orang yang terbiasa tulus itu rasanya pahit.
Maka jangan tunggu ia mengurangi segalanya baru kamu sadar nilainya, karena saat porsinya sudah kecil, sulit bahkan tidak akan kembali sebesar dulu.
Dulu ia melakukan semuanya dengan semangat dan hangat, sekarang ia melakukan seperlunya.
Dulu ia memperjuangkan, sekarang ia membiarkan.
Dulu ia memulai, sekarang ia menunggu.
Orang baik itu tidak bodoh, ia hanya sabar.
Ia melihat ketimpangan sejak lama, tapi baiknya ia selalu memberi ruang, ia memberi waktu, ia memberi alasan.
Sampai pada satu titik, ia sadar ini bukan lagi tentang tidak sengaja, ini pola.