Semoga Tuhan beri kita umur panjang.
Semoga Tuhan beri kita umur panjang. Biar kita bisa merasakan pagi ke sore tidak secepat sekarang. Biar kita bisa bicara di rumah saja. Biar kita bisa tukar cerita lebih lama.
h

Kiana Khansmith
AnasAbdin
we're not kids anymore.
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Lint Roller? I Barely Know Her

@theartofmadeline
Keni

❣ Chile in a Photography ❣
Alisa U Zemlji Chuda
wallacepolsom
ojovivo
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Claire Keane
RMH
seen from United States

seen from Malaysia

seen from T1

seen from United States
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Spain

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China

seen from Belgium
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Spain

seen from United States
seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
@raranningtyas
Semoga Tuhan beri kita umur panjang.
Semoga Tuhan beri kita umur panjang. Biar kita bisa merasakan pagi ke sore tidak secepat sekarang. Biar kita bisa bicara di rumah saja. Biar kita bisa tukar cerita lebih lama.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
There'll be a moment when you realise you're 27 when yesterday you were just 17; and you wouldn't be able to tell how a decade passed away and your life got divided into before and afters. The fury of youth will subdue and nothing will really change but everything will feel different when you look at old photographs and blurry videos taken on cheap mobile phones. Scents will remind you of childhood and certain friends you don't talk to anymore, hangouts will become reunions and mom's burnt pie will become the best food you ever had. And I know on some days you won't be able to show anything of those 10 years but I hope you remember to breathe, and let go of the knot in your chest. I hope you go out in the sun and live a little, because tomorrow is 37.
Edit- I added the visualizer for this piece on my YT, check it out here
-Ritika Jyala, excerpt from The Flesh I Burned
Tutorial Jatuh Cinta
Jatuh cintalah pada seseorang yang perasaan cintanya lebih besar darimu. Karena ia akan membuatmu menjadi sangat berharga. Bersedia untuk melakukan hal-hal kecil untukmu, menggendong anakmu saat kelelahan, membiarkanmu tetidur dan ia membereskan rumah, membelamu jika ada orang lain yang menyerangmu, menyediakan makanan-makanan kecil saat kamu malas memasak, dan tidak marah-marah saat kamu menghabiskan uang yang digunakan untuk kebutuhan kalian berdua. Jatuh cintalah pada seseorang yang memiliki cara berpikir yang baik, yang luas, yang terbuka. Karena di dalam pikirannya nanti kamu akan tinggal. Karena cara berpikirnya itulah yang akan kamu hadapi selama kalian bersama. Tentu merepotkan tinggal bersama orang yang ternyata cara berpikirnya mudah menerima hoax, tidak bisa mencerna informasi dengan baik, tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, tidak ada keinginan untuk berkembang, tidak punya pendirian yang kuat. Lelah sekali tinggal di pikiran yang seperti itu, bukan? Jatuh cintalah pada seseorang yang mudah diajak berbicara. Kamu tak perlu merasa takut untuk mengutarakan segala isi hatimu, mengutarakan segala penatmu, mengajaknya berdiskusi untuk keluargamu. Tentu tidak enak jika selama bersama, kalian tidak bisa membicarakan hal-hal penting untuk keluargamu. Bahkan, untuk sekedar mengatakan bahwa kamu lelah dan memintanya untuk mengasuh anak sebentar saja, kamu takut. Tak leluasa untuk berbicara. Padahal, memiliki teman bicara seumur hidup yang nyaman itu benar-benar anugrah yang tak ternilai.
Kalau kamu ingin jatuh cinta, tutup sejenak matamu dari hal-hal yang kamu lihat darinya. Rasakan dari hatimu, berpikirkan sejauh mungkin. Seberapa bisa kamu hidup dengan sosok sepertinya. Karena apa yang kamu lihat dari matamu, seperti kecantikan/ketampanan itu akan usang dimakan usia, harta bisa hilang, jabatan bisa lepas. Kalau nanti kamu jatuh cinta, kamu tak lagi takut jatuh ditempat yang menyakitkan karena kamu bisa memilih di tempat seperti apa cintamu jatuh. Hati-hatilah memilihnya. Kalaupun harus menempuh jalan yang panjang dan berliku, tidak apa-apa. Kalau harus menempuh waktu yang lama, tidak apa-apa. Tidak apa-apa.
©kurniawangunadi
❤️❤️❤️
Luka(mu) kita.
Awal telepon berdering kamu mengingatkanku akan genapnya 3 tahun dari awal pertemuan kita yang satu itu. Mengingat itu, membuatku berpikir bahwa sudah banyak hal yang terlalui. Sadar tidak sadar, pertemuan itu penuh dengan sambatan dan masalah, ya kan? Sadar tidak sadar juga, dulu kamu sempat menawarkan beberapa opsi untuk keluar dari masalahmu, ingat? Tapi ntah apa alasannya, akhirnya kamu memilih untuk terus bertahan dan menyelesaikan, walaupun dengan sedemikian drama dan hal tidak mengenakan.
Mungkin, dulu kita rasa itu masalah yang terberat yang harus dilalui.
Setahun berlalu, ternyata masih dengan situasi yang sama namun dengan masalah yang berbeda lagi-lagi harus menghampiri kita.
Satu itu, membuatku sadar bahwa hidup memang perihal melewati hari demi hari dengan masalah. Masalah kecil maupun besar. Masalah sederhana maupun rumit. Hidup memang semelelahkan itu ya?
Sayang, walaupun terbesit pemikiran mau menyerah, semoga lukamu bisa kamu terima, sebab setelah kamu ceritakan itu, yang perlu kamu tau luka itu bukan lagi menjadi lukamu, tapi luka itu milik kita. Boleh ya aku kasih penggambaran tentang bagaimana luka itu menurutku.
Sebagai seorang manusia, kita adalah hamba yang diciptakan oleh Allah sebagai Rabb kita. Maka, Allahlah yang sangat mengetahui segala sesuatu tentang diri kita, termasuk tentang bagian mana yang ada di dalam diri kita yang perlu ditumbuhkan atau dibersihkan. Begitu pun ketika kita diizinkan-Nya terluka, maka pasti luka tersebut hadir untuk kebaikan diri kita: entah untuk menumbuhkan atau membersihkan sesuatu yang tersembunyi yang ada di diri kita.
Barangkali saat ini hal ini masih sulit untuk bisa kita terima. Namun, ketika kita berkaca pada bagaimana pengalaman-pengalaman di hidup kita bergulir, bukankah ada luka demi luka yang pada akhirnya dapat kita syukuri kedatangannya karena ia telah menumbuhkan dan menguatkan diri kita sedemikian rupa?
Pada suatu titik, meski mungkin bukan sekarang, yakinlah bahwa kita tidak lagi akan bertanya-tanya tentang mengapa kita harus terluka. Sebab, kita telah merasakan bahwa luka-luka itu dihadirkan-Nya untuk kebaikan diri kita. Semoga kita tidak lantas cepat-cepat berburuk sangka kepada-Nya atas luka-luka yang kita terima.
Teriring doa-doa terbaik, semoga Allah memudahkan hatimu untuk selalu terkoneksi kepada-Nya dalam segala keadaan. Semoga Allah menukar setiap lukamu dengan kebahagiaan yang membuatmu semakin taat kepada-Nya.
- untukmu satu-satunya manusia dengan segala ketidaksempurnaan yang selalu mau kuterima.
Pernah gasih tiba-tiba ngerasa hening pas lagi ngeliatin seseorang, terus refleks doa ke Tuhan supaya ga kehilangan orang itu? Gue tadi ngaca, terus langsung doa. Semoga gue ga kehilangan diri gue sendiri
unknown

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
1:25
Jam 12 siang, ke malem, ke siang lagi.
Udah berapa jam Ran, waktu yang kamu habiskan menatap layar penuh radiasi itu? Entah untuk menyelesaikan kewajibanmu, atau tanggung jawabmu, hmm atau untuk sekadar scrolling tumblr dan twitter? Sebanyak itu waktumu dihabiskan, lantas hal apa yang kamu dapetin tho’ Ran?....
satu detik, dua detik,...., 15 detik. Bingung ya? Kok nulis ini jadi semakin bingung.
Bingung sana, bingung sini, bingung sekali, bingung berkali-kali.
hm mungkin tinggal satu caranya, semoga Rany selalu ingat dan akan terus mengingat bahwa sesekali nikmatnya hidup itu muncul ketika kita mencoba ndak fokus ke hari esok, hal apa yang harus dilakukan satu bulan lagi, atau mungkin 5 tahun lagi. Rasa nikmat itu muncul ketika kita sesekali ngelihat ke belakang, alhamdulillah udah bisa sampai saat ini, udah bisa ini dan itu, udah melewati hal satu dan lainnya.
Ran, udah yuk.
1:25 a.m jam di laptopmu, beri dirimu hak untuk beristirahat. Cukup untuk hari ini, eh kan hari ininya baru dimulai woakwoka. Cukup untuk kemarin, yuk yang lancar ya hari ini~. Masyaallah Tabarakallah... nkm
Apa yang kamu cari?
Sore itu aku merasa hampa. Aku duduk di meja belajarku, menatap kosong ke layar laptop yang ada di hadapanku, yang seharusnya ada tugas di sana yang harus aku kerjakan. Tapi... Tidak bisa kujelaskan apa yang kurasa, yang kurasa hanya hampa. Pikiranku penuh akan banyak hal, tugas, deadline, pekerjaan, yang akhirnya membawa pikiranku jauuuh berkelana. Mengkhawatirkan banyak hal di masa mendatang. Aku tiba-tiba khawatir, mau jadi apa aku di masa depan? Apa yang akan kulakukan selepas aku lulus? Sanggupkah aku akhirnya hidup mandiri dan membalas jasa orangtuaku yang sudah membesarkan dan menyekolahkanku hingga hari ini? Aku ingin melanjutkan studi, tapi aku khawatir, dari mana biayanya? Aku ingin tinggal dan hidup mandiri agar tidak "menumpang" lagi di rumah orangtuaku, tapi lagi-lagi aku khawatir, apa tabunganku selepas lulus nanti bisa kuandalkan?
Astaghfirullah, aku memejamkan mata. Pening sekali lama-lama jika aku terus memikirkan hal-hal yang (bahkan belum tentu) akan terjadi di masa depan, terlebih dibumbui dengan kekhawatiranku. Ingin menangis saja rasanya, yaAllah kenapa aku terus menerus diliputi rasa khawatir ini?
Aku menatap ujung mejaku, di dekatnya ada kitab kecil berwarna merah muda yang belum kubuka hari ini. Aku segera mengambil air wudhu dan mengenakan mukenahku, lalu kubuka kitab al Qur'anku itu. Ada yang pernah bilang, kalau sedang bimbang, hilang arah, coba buka al Qur'an. Buka tanpa memilih halamannya, lalu langsung baca ayat yang pertama kali kita lihat. Dan ternyata sore itu, ayat yang pertama kali tersorot mataku adalah ayat ini. Ayat ke-36 dari Surah Az-Zumar yang artinya,
"Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan yang selain Dia. Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."
Tidak kusangka-sangka, ayat ini benar-benar mengetuk hatiku dan membuyarkan kekhawatiranku. Allah sendiri yang berjanji, bahwa Allah akan senantiasa cukupkan. Allah janji selalu cukupkan, apapun yang kita butuhkan. Untuk apa lagi aku khawatir? Tentu juga dibarengi dengan usaha dan tetap ingat pada Dia Yang Maha Segalanya. InsyaAllah, Dia akan cukupkan. Selalu.
Mungkin selama ini juga aku hanya dibayang-bayangi oleh "sesembahan" selain Dia. Terlalu mengagungkan dunia hingga lupa siapa yang sebenarnya Maha Kuasa? Astaghfirullah, maafkan aku yaAllah. Izinkan aku terus berada dalam bimbinganMu. Terima kasih, Engkau masih memberi hambaMu yang bandel ini jalan untuk mengingatMu. Terima kasih atas segala petunjuk dan kasih sayangMu.
Yang tenang ya, aku. Yang sabar. Bawa pikirannya jangan jauh-jauh. Allah sudah janji, kok. Allah akan cukupkan, asal kita terus percaya, berusaha, dan mengingatnya.
Tapi, sebelumnya... Coba pejamkan mata. Tarik nafas dalam, lalu hembuskan. Tanyakan pada diri sendiri; Sebenarnya dalam hidup ini, apa yang kamu cari?
Untuk rany.
Aku harap kamu membaca ini ketika semua hal dirasa susah dan seolah memaksamu untuk menyerah;
Selama hidup kamu sudah berkali-kali menghadapi ketidakmudahan dan kamu mampu bertahan bahkan melewatinya dan menata hidup kembali menjadi lebih baik. Jika ‘sabar ya’ sangat klise, semoga 'kuat ya!’ tidak begitu. Sedikit lagi selesai kok kesusahan dan kepayahannya. Sebentar lagi semua masalah beres, akan tergantikan. Hidup memang siklusnya begitu, terpuruk, membaik, jatuh, bangkit, sedih, senang, kalah, menang, dinikmati ya 😊
#aksarannyta (at Tempat Terindah Dimana Selalu Ada Bayanggan Mu di Setiap Ku Buka Mata Ku) https://www.instagram.com/p/CF3R8a4g0pY/?igshid=cqsx28743opq
Katanya rindu bermula di ujung sua. Tak hilang sampai pertemuan selanjutnya. Nyatanya rindu hanya mereda, kemudian bertambah tiap kali berpisah.
draft sebelum merem
Berdasarkan pengalaman, tampaknya kita perlu berhati-hati pada yang kecil-kecil. Sebutir debu yang bikin kelilipan, kerikil yang bikin kesandung, atau sedikit prasangka buruk yang malah bikin hati terpuruk. Seqian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Untuk Rany.
'Udah, jangan begitu terlalu. Yang sedang-sedang aja' Pernah suatu waktu aku bahagia sampai terlalu, sampai lupa kalau Dia yang memberi bahagia itu. Pernah suatu waktu aku sedih begitu mendalam, sampai lupa kalau Dia juga yang akan menghapus kelam. Kalau dipikir-pikir ya memang begitu. Jam 7 masih merasa menjadi manusia paling bahagia, eh lima menit kemudian sudah merasa menjadi manusia paling menyedihkan. Pernah merasakan? Makanya jangan terlalu. Tugas dan kewajiban kita hanya satu, terus berprasangka baik, atas semua qadar dan ketetapan-ketetapannya. Siapa yang tahu? Yang jelas, Dia yang maha tahu. Lagi kita tidak. *Rany kepada Rany
B-e-r-j-a-r-a-k
Dari sini Jarak dari sini : tempat aku duduk sekarang sembari menulis beberapa kalimat untuk memenuhi hutang-hutang tulisan 30 hari bercerita, ke sana : tempat kamu duduk sembari menatap layar, membaca tulisan yang kutulis sebisanya, sebenarnya tidak terlalu jauh, tidak butuh waktu berjam-jam perjalanan untuk memangkas jarak di antara tempat duduk kita yang saat ini belum bersebelahan. Tidak punya waktu menjadi alasan paling klasik untuk sulit membuat temu. Barangkali memang kita terlalu menyibukkan diri hingga lupa bahwa temu juga harus ditunaikan segera, rindu juga harus dibalas tuntas tanpa sisa. Begitu katanya. Apakah nantinya kita akan kehabisan waktu hingga tak mampu memangkas jarak guna menunaikan temu? Dari sini, rindu bermula. Untuk kesana, tunggu hingga entah waktunya. Dari sini, doa dilangitkan bersama semoga. Untuk yang di sana, semoga baik-baik saja. Karena, dari sini ke sana, doa bisa tetap sampai, kan?
“Halo?”
“Halo, Rany..." tut...tut..tut. Sudah hampir setahun lebih, tak terdengar lagi dering telepon selularku berdering 3 kali sehari. Sudah hampir setahun lebih, tidak lagi kudengar bunyi suara di seberang sana menanyaiku, "Halo, sudah berangkat ke kampus, nduk?"; atau "Halo, sudah pulang belum jam segini dari kampus?"; atau sekadar pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya. Sudah hampir setahun lebih rasanya, tak kurasakan dan kulihat tubuh akungku yang kekar dan gagah seperti biasanya. Tapi sudah hampir setahun lebih juga; dering whatsappku berbunyi, terutama ketika jam sarapan atau makan siang, "Hari ini akung makan pakai perkedel dan bandeng kesukaannya, lahap lho, habis bersih." Lapor Eyang Ti di grup keluarga. Telihat Akung tersenyum kecil di foto yang ikut disertakan. Setahun lebih itu telah berlalu. Sedikit demi sedikit mengubah pandanganku. Beliau yang selalu mendukungku, beliau yang selalu menelponku, menanyakaan keadaanku, tak pernah absen walau sehari, beliau yang sekarang masih sempat-sempatnya menelpon walau sudah sulit berbicara, hanya untuk bertanya, "Halo, Rany sedang apa, akung kangen." Tak kuasa rasanya aku menjawab. Menua memang tak bisa dihindari. Semoga kesehatan selalu menyertaimu, maaf belum bisa menjadi sebaik yang Akung harapkan. . . "Halo?" Eh teringat, belum sempat menelpon Akung hari ini, padahal tidak sedang ngapa-ngapain.
Berdamai
Ada kalanya keramaian tak bisa dijadikan pelarian. Untuk banyak hal, sejujurnya caraku untuk berdamai dengan masalah adalah dengan bertemu dengan orang. Bercerita dengan mereka, tentang masalahku atau hal lainnya. Tapi rasanya sekarang berbeda, ada masanya orang sekitar menjadi asing yang tak bisa kita beri kepercayaan. Lucu ya. Justru yang paling menenangkan ketika kita butuh pelukan adalah diri kita sendiri. Lalu, aku sedikit menyimpulkan; jangan-jangan dari ingar bingar kehidupan, riuhnya percakapan, ramainya ruang bicara di media sosial, yang kita butuhkan hanyalah kesunyian. Mungkin, memang kitanya yang perlu berdamai, tanpa perlu melibatkan banyak orang.
(Bukan) Sebuah Filosofi Kopi
Sebagai (mantan) penyuka kopi, wajar, wajar sekali ya kalau aku tidak bisa membedakan rasa kopi. Tidak hafal perbedaan campuran kopi. Tidak tahu cara pengolahan kopi. Dan tidak ingat kopi apa yang ada di mejaku, karena kebanyakan hasil dari coba-coba. Aku sedikit beruntung, ketika kedai kopi mulai marak ada di sekelilingku, eh malah akunya yang tidak bisa menerima kopi. Entah, awal mulanya dari mana, tapi selalu ada reaksi penolakan dari tubuhku. Ah mungkin memang aku disuruh hemat, tidak boleh boros untuk secangkir kopi yang harganya bisa buat 2 kali makan di warteg bahari. Dulu saat masih bisa, aku suka ikutan cicip kopi buatan papaku. Setiap sore sepulang bekerja, beliau sendiri yang suka meracik racikannya. Katanya kalau mama yang buat rasanya akan begitu-begitu saja. Walaupun kedai kopi sudah banyak bermunculan, papa tetap tidak suka jajan kopi di luar. Beliau lebih memilih membeli bubuk kopi asli, kemudian bereksperimen sesuai keinginannya, menciptakan kopi yang belum tentu enak rasanya. Xixi Pernah suatu hari aku bertanya kenapa tidak pernah membeli kopi di luar dan beliau menjawab dengan jawaban yang gombal sekali, "Nikmatnya kopi itu ada pada percakapan disela tegukannya, kalau di kedai kopi mungkin papa neguknya sendirian, kalau di rumah kan pasti ada temannya." Katanya. 'Halah bilang saja memang karena gak punya uang untuk minum kopi di luar.' jawabku dalam hati. Kami pun tertawa bersama. Tapi ya begitu, kopi memang paling bisa dijadikan bahan permisalan kisah cinta. Seperti kopi tubruk misalnya, sebagian hilang, sebagian tertinggal. . Kayak siapa? Kayak kamu bukan? Wkwkwk. Selasa, 14 Januari 2020

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Musisi Jalan di Sate Sambas
'Janganlah berganti, tetaplah seperti ini' Ah musisi jalan itu rasanya memang tahu bagaimana situasi yang sedang dialami oleh kita. Grup berdebu 4 bulan, 1 bulan kembali ramai. Hanya di situasi seperti sekarang grup kami kembali bersuara, kami sering anggap ini sebagai suatu perayaan. Setahun dua kali katanya. Juni-januari. Ya hanya itu. Tapi entah, rasanya selalu sama kalau sama mereka. Selalu banyak cerita seru yang tersampaikan. Selalu ada pengalaman baru yang siap untuk diceritakan. Sampai jumpa di bulan juni kalian, semoga mrt tadi, kucing-kucing yang datang ke tempat duduk kita, asap sate sambas, dan lampu jalanan menjadi saksi kelak. Tidak perlu terlalu berlebih, cukup seperti ini. Semoga ikatan ini terjalin sampai lama dan tua. Eh? Nama grupnya senam lambe, lambenya udah jalan terus, senamnya kapan? Eh? Eh? Rabu, 13 Januari 2020
alive / a life
To feel alive, there is no need to jump of cliffs and rush in love. For me, the simplest things are often enough: a warm, warm shower, the stillness of morning before the day gathers, a midweek dinner with family or friends, and a sweet 'goodnight' just before the day ends; that feeling of joy and relief when I buy a new book; a new meal to taste even if I may have it overcooked, that coziness when my cheek lies against a soft pillow-- the simple feeling of being Home. To be alive isn't about where we go or what we do to escape the world. To be alive is about how we inhabit the world from a place of connection and willingness to pay attention to the particulars of our lives. It is about allowing everyday beauty to unfurl and show as a surprise.