Jarak dalam Kedekatan;
Lampu kafe ini tak terlalu benderang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan kepulan uap dari cup kopi yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ia tersenyum tulus, menyadari mataku yang sembab, lalu berbisik pelan, "Kopinya saya tambahkan sedikit karamel, semoga harimu membaik."
Aku tertegun. Seorang asing yang bahkan tak tahu nama tengahku bisa merasakan ada yang retak di dalam sana. Sementara kamu? Kamu yang tahu bagaimana aku menyukai kopi hitam tanpa gula, yang tahu jam berapa aku bangun, dan yang menyimpan ribuan memori bersamaku, justru duduk di seberang meja dengan pandangan terkunci pada layar ponsel.
Kita berada dalam satu lingkaran yang sama, namun rasanya seperti terpisah galaksi.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan hari ini:
"Terkadang, perhatian justru datang dari orang-orang yang tak mengenalku sebaik kamu."
Karena bagi mereka, aku adalah manusia yang butuh dianggap ada, sedangkan bagimu, aku hanyalah sebuah kebiasaan yang mulai membosankan.
"Sangat melelahkan saat harus menjelaskan rasa sepi kepada seseorang yang seharusnya menjadi tempatmu pulang."











