βHalo, Rany..." tut...tut..tut.
Sudah hampir setahun lebih, tak terdengar lagi dering telepon selularku berdering 3 kali sehari.β£
β£
Sudah hampir setahun lebih, tidak lagi kudengar bunyi suara di seberang sana menanyaiku, "Halo, sudah berangkat ke kampus, nduk?";β£
atau "Halo, sudah pulang belum jam segini dari kampus?";β£
atau sekadar pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya.β£
β£
Sudah hampir setahun lebih rasanya, tak kurasakan dan kulihat tubuh akungku yang kekar dan gagah seperti biasanya.β£
β£
Tapi sudah hampir setahun lebih juga;β£
dering whatsappku berbunyi, terutama ketika jam sarapan atau makan siang, β£
"Hari ini akung makan pakai perkedel dan bandeng kesukaannya, lahap lho, habis bersih." Lapor Eyang Ti di grup keluarga.β£
Telihat Akung tersenyum kecil di foto yang ikut disertakan.β£
β£
Setahun lebih itu telah berlalu.β£
Sedikit demi sedikit mengubah pandanganku.β£
β£
Beliau yang selalu mendukungku, beliau yang selalu menelponku, menanyakaan keadaanku, tak pernah absen walau sehari, beliau yang sekarang masih sempat-sempatnya menelpon walau sudah sulit berbicara, hanya untuk bertanya, "Halo, Rany sedang apa, akung kangen."β£
β£
Tak kuasa rasanya aku menjawab.β£
β£
Menua memang tak bisa dihindari. Semoga kesehatan selalu menyertaimu, maaf belum bisa menjadi sebaik yang Akung harapkan.β£
.
.
"Halo?" Eh teringat, belum sempat menelpon Akung hari ini, padahal tidak sedang ngapa-ngapain.
β£