Kenapa Saya Kembali Menekuni IT (Software Developer)
“Kamu salah milih jurusan, zam, nyasar.” kata teman kuliah ku dulu.
“Lho, kok ini prestasimu malah banyak di bidang IT,” Kata seorang dosen wali ketika melihat CV ku.
“Sarjana Ekonomi Islam kok profesinya web publisher?” Kata seorang admin melihat formulir pengajuan KTA salah satu ormas Islam yang iseng-iseng ku submit.
Pertanyaannya justru kenapa saya ngambil S1 Ekonomi Syariah dan bahkan berlanjut hingga S2. Padahal sejak kelas 1 SD memang passionate sama IT.
Well, ceritanya panjang dan agak absurd. Dan takkan kuceritakan kali ini. Di semester awal pernah bahkan benar-benar menyesal dan mempertanyakan diri sendiri, walau pada akhirnya lulus dan sedikit menyesal. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, karena semuanya seperti mulai make sense.
Beberapa bulan ke depan saya ikut sebuah bootcamp (training), untuk kembali belajar skilset yang merupakan bagian dari IT, khususnya software engineering. Saya belajar web development, wordpress development, python, beberapa front-end language seperti HTML, CSS dan Javascript, some PHP, SQL, data analytics, hingga data science.
Ngapain masih ngejar IT? Banting Setir?
0. Seperti yang saya sudah bilang, saya memang punya passion IT sejak kecil.
1. Sebenarnya saya sudah memegang web design 13-14 tahun lalu, sejak SMP, yang kala itu masih langka sekali. Software yang dipakai waktu itu adalah Microsoft Frontpage dan Macromedia Dreamweaver, yang kemudian diakuisisi oleh Adobe. Dua kali ikut lomba pas SMP, satu kali menang. Salah satu anggota tim sekarang beneran jadi programmer, satu lagi wafat, satu lagi nyasar ke ekonomi syariah.
2. Waktu SMA udah narget ingin ikut Olimpiade IT. Orang tua saya membelikan laptop (kala itu masih jarang banget siswa pakai laptop). Langganan Majalah Komputer. Tapi, ternyata, saya tidak lolos seleksi masuk tim SMA, karena kemampuan Matematika saya kurang. Benar-benar pukulan keras kala itu. Sejak itulah saya agak minder, tak lagi bermimpi macam-macam. Bahkan berpikir untuk kuliah di jurusan IT di PTN top saja sudah kurang yakin. Meski begitu masih sempat juga membawa SMA juara cerdas cermat IT di tingkat kota.
3. Ketika S1 saya belum sepenuhnya melupakan minat tersebut, meski tidak pernah lagi mempelajarinya secara mendalam. Pada tahun 2015 saya mengikuti lomba blog ekonomi Syariah dan membuat artikel tentang Platform Crowdfunding Syariah (dulu masih jarang), itupun juga berhubungan dengan IT. Saya mengerjakan tugas akhir juga memakai metode machine learning, itupun juga IT. Bahkan sempat pengen lanjut S2 di bidang IT.
4. Memang, tentu saja saya tidak lanjut S2 IT. Pengennya tetap lanjut ekonomi syariah karena pengan jadi Dosen. Karena passion lainku adalah mengajar. Meski begitu saya juga tidak jadi. Saya malah milih belajar Digital Marketing di sebuah pesantren di tengah kampung di kabupaten yang saya tak pernah datangi, yaitu Sintesa, Magetan. Selama setahun. Lagi-lagi temanku mempertanyakan pilihan anehku.
5. Mulai dari sana sampai lulus tahun 2017, lalu sampai tahun 2018, saya fokus berprofesi sebagai digital marketer. Di tahun tersebut jugalah lahir muamala.net, website media ekonomi syariah. Hal tersebut tidak ringan, karena menjadi digital marketer itu naik turun juga.
6. Pada tahun 2019 saya akhirnya bisa menjalani mimpi saya, yaitu lanjut S2 di UGM, meski awalnya ingin lanjut di luar negeri. Dan meski banyak mengorbankan hal lainnya termasuk pekerjaan.
Udah gitu ngapain belajar skillset di atas lagi? Coding? Web development? Ga nyambung.
1. Memang sekilas ngga nyambung. Tapi kl saya ngga ada skill di sana (meski sekarang pas2an) dan skill SEO, mungkin ngga ada web muamala.net, yang terhitung saat ini telah dibaca oleh 3 juta pengunjung.
2. Web muamala.net dan proyek digital marketing lagi turun baik karena efek algoritma ataupun covid. Dan karena kesibukan kuliah, masalah hati & kesehatan mental, saya tak bisa terlalu banyak mengurusinya. Belum lagi digital marketing itu butuh waktu dan modal, tetapi hasilnya sebagai bisnis pada umumnya, yaitu tidak pasti.
3. Waktu S2 ku tak lama lagi, dan saya tidak bisa berharap kepada yang belum pasti, oleh karena itu saya berusaha menciptakan kepastian dengan ikut coding bootcamp.
4. Yang saya kejar adalah agar bisa remote work keluar negeri, karena potensi pendapatannya cukup besar. Anda hidup di Indonesia dengan biaya Indonesia, tetapi digaji dengan standar upah dollar.
5. Berkerja di bidang ini tak mengharuskan Anda lulusan IT, punya koneksi, atau bahkan pengalaman kerja. Kuncinya cuma satu: portofolio.
Apakah ga nyambung?
Memang, sebenarnya saya awalnya juga berpikir begitu. Merasa melakukan hal yang berbeda dunia. Yang akhirnya tidak ada yang maksimal. Tetapi kini saya seperti menemukan titik temunya, entah disebut irisan atau titik yang bersambung. Menjadi hal baru yang unik.
1. Web development jelas akan menunjang web muamala ku ke depannya.
2. Jasa web development juga akan mengasah skill bisnisku.
3. Berkerja remote keluar negeri juga mengasah pengalaman paparan internasionalku (penting jika jadi akademisi ke depan)
4. Belajar coding bahasa seperti python sangat bermanfaat buat ilmu ekonomi, keuangan atau manajemen, karena bahasa tersebut saat ini lumrah digunakan untuk penelitian, baik data analytics ataupun data science.
5. Pendapatan dari remotework tersebut juga bisa digunakan untuk lanjut S3 suatu saat, jika tidak mendapat beasiswa. Bahkan, karena remote bisa berkerja sambil lanjut kuliah.
Dan mencampur adukkan beberapa bidang keilmuan ini menjadi tren di dunia kerja dan bisnis sekarang. Untuk lebih jelasnya Anda bisa searching “Generalist Vs Specialist karya David Epstein”.
Lha, katanya pengen jadi dosen?
Ya memang, tapi:
1. Bagiku menjadi dosen bukanlah untuk profesi atau mencari rezeki, tapi mengajar, bagiku adalah passion. Apalagi mengajar ekonomi syariah, sekalian dakwah, yakan. Untuk mencari cuan saya mencari di luar itu.
2. Kesempatan menjadi dosen bukanlah hal yang bisa dipilh kapan saja dan di mana saja. Untung-untungan. Padahal saya tidak mempertimbangkan menjadi dosen kecuali di 3 kota yaitu, Balikpapan, Samarinda, Jogja. Tentu lowongan untuk jadi dosen di sana tidak selalu ada.
3. Daripada nunggu yang tidak pasti tentunya kita melakukan hal yang pasti terlebih dahulu.
4. Dengan belajar python for data analytics dan data science saya tetap bisa melakukan penelitian meski, misal, belum jadi akademisi.
5. Pada akhirnya semua mengalami konvergensi, dan menciptakan sesuatu yang baru dan unik.
Begitulah kira-kira alasan saya kembali menekuni dunia IT, khususnya coding. Sebenarnya tulisannya lebih untuk diri saya sendiri, agar saya selalu ingat dan bersemangat. Karena terkadang saya merasa ragu dan sendiri menjalani jalan yang campur-campur ini. Terkadang seperti kehilangan jati diri, apalagi ketika membandingkannya dengan orang-orang sekitar.
Belum lagi 3 bulan di akhir 2020 ini saya juga harus garap tesis, sehingga benar-benar full menghabiskan seluruh waktu dan pikiran saya. Bahkan sudah tidak mikir apa-apa lagi. Kegiatan sosialpun banyak tereduksi (meski covid membuatnya normal).
Sing penting luruskan niat dan bismillah.
*Sekilas biaya bootcamp
Berikut ini adalah beberapa cuplikan biaya dari bootcamp coding yang diadakan oleh gl*nts.id dan h*cktiv8:
Ya agak gila emang. Tetapi setidaknya saya mendapatkan jalur yang lebih ekonomis yang mengeluarkan biaya sekitar 4,5 juta atau hampir 1/5 atau 1/10 biaya di atas. Tapi tentu ada harga ada kualitas, di samping ikut bootcamp saya harus rajin belajar mandiri dari sumber gratisan lainnya.













