Dunia sibuk sekali, penuh dan sesak.
Sudah banyak musibah, banyak juga yang memecahbelah; bicara semaunya, bermain hakim pada yang bukan haknya.
Ya Allah, lekas pulihkan Indonesiaku. ❤️🩹
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Sweden

seen from Austria

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from France
seen from Iraq

seen from Poland

seen from Italy

seen from China
Dunia sibuk sekali, penuh dan sesak.
Sudah banyak musibah, banyak juga yang memecahbelah; bicara semaunya, bermain hakim pada yang bukan haknya.
Ya Allah, lekas pulihkan Indonesiaku. ❤️🩹

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ghibah has become so common that people laugh and call it “spill the tea.”
But it’s not tea you’re pouring out—
it’s the dignity and honor of your brother or sister.
Kamu harus pelit perihal ghibah, jangan mau buang-buang pahala lalu menanggung dosa orang lain pula; ah, rugi kuadrat dua.
Selalu ada celah diri kita dimata orang lain, bahkan orang terdekat di sekeliling kita.
Yang lebih menyakitkan, bukan mereka mengungkapkannya langsung pada kita. Tapi justru dijadikan bahan evaluasi untuk dibahas dengan orang lain.
Kadang kita sudah ngga mau tahu, dan nggak mau ngurus hidup orang. Tapi ternyata masih ada saja orang yang ngurusin hidup kita

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Which Kind of Backbiter Are You?
A man entered at ʿUmar b. ʿAbd al-ʿAzīz once and backbited another man. وقد جاء أن رجلًا ذَكَرَ لعمرَ بن عبد العزيز رضي الله عنه رجلًا بشيء، ʿUmar said to him: “If you wish we will investigate what you say so if we find you a liar then you are one of those who Allah said about them {O you who believe! If a wicked person comes to you with any news, ascertain the truth, lest you harm people unwittingly and afterwards become full of repentance for what ye have done} [49:6] فقال عمر: إن شئتَ نظرنَا في أمرك، فإن كنتَ كاذبًا فأنتَ من أهل هذه الآية: {إنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبإ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات:6] And if you were honest and what you said is true then you are one of those who Allah said about them: {A slanderer, going about with calumnies} [68:11] وإن كنتَ صادقًا فأنتَ من أهل هذه الآية: {هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بنَمِيمٍ} [القلم:11] Or you can ask forgiveness. وإن شئتَ عفونا عنك، The man replied: “I ask forgiveness and will never do it again.” قال: العفو يا أميرَ المؤمنين! لا أعودُ إليه أبدًا. al-Nawawī, al-Aḏkār 1/540 النووي، الأذكار ١/٥٤٠ https://shamela.ws/index.php/book/13566 Facebook: https://facebook.com/aljadwal1 Instagram: https://instagram.com/al_jadwal Telegram: https://t.me/aljadwal Tumblr: https://al-jadwal.tumblr.com Twitter: https://twitter.com/al_jadwal
Ghibah?
Ada sebuah hadits mengenai orang yang muflis (bangkrut) di hari kiamat. Banyak beramal, shalat, puasa dan sebagainya, namun lisan dan anggota badannya sering menganggu saudaranya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :
“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”
Para sahabat menjawab,
”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”
Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
“Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak).
Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya.
Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”. (HR. Muslim)
Pernah nggak sih mikir kenapa kalau ghibahin orang, hukumannya adalah pahala kita ditransfer untuk orang tersebut di hari kiamat?
Terus kalau ternyata pahala kita sudah habis dan nggak bisa lagi transfer nih karena saldonya 0, eh malah dosa orang tersebut yang ditransfer ke kita. Naudzubillah min dzalik. Kesannya Allah tega banget, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kita lebih tega karena ghibahin orang asing atau bahkan teman sendiri.
Ghibah yang belum tentu benar, nanti malah jadi fitnah. Allah nggak tega kalau hambanya difitnah dan dighibahin kan kalo gitu? Makanya hukuman ghibah itu kejam, pahala kita ditransfer dengan cuma-cuma dan fitnah sendiri selalu dikatakan lebih kejam dari pembunuhan. Berarti ini menandakan saking dahsyatnya bahaya dari perghibahan. Iya nggak sih?
Sedih banget kalau nggak sengaja ngomongin orang. Kadang aku bukannya nggak memperingatkan orang yang mulai perghibahan terlebih dahulu tapi awalnya kan dia kayak mau curhat. Aku identifikasi dulu apa yang dia ceritakan. Kebanyakan semacam curhat atas keresahan terhadap seseorang yang mau nggak mau namanya disebut karena aku pun kenal. Kan katanya kalau misal nggak niat ghibah atau gimana gitu ya, usahain jangan disebut namanya kalau pun harus terpaksa cerita. Bilang aja si fulan, gitu.
Baru setelah itu aku coba kasih pandangan positif ke dia, supaya dia nggak berburuk sangka dan sakit hati sama orang tersebut.
"Ya mungkin dia sibuk.."
"Ya mungkin kapasitas pikiran tiap orang beda-beda. Dan dia nggak mampu meng-handle itu makanya menolak permintaan kamu."
Lalu dia jawab,
"Ya tapi kan.. blablabla"
Huft. Sejujurnya aku bingung untuk merespon pembicaraan yang seperti ini. Sebisa mungkin aku ada di pihak netral. Kalau bisa syukur-syukur bisa ngubah cara pandang dia agar bisa melihat lebih baik ke orang yang nyakitin dia itu dan dia bisa memaafkan.
Kalau kalian suka curhat gitu juga nggak sih ke orang lain ketika kalian disakiti? Nah kan kalo disakiti biasanya kita akan cerita soal apa yg dilakukan oleh orang yang menyakiti kita alias itu semacam hal buruk yang ada pada diri orang tersebut kan? Kayak misalnya tentang kelakuannya yang bikin kita nggak nyaman.
Apakah kalau responnya kayak aku tadi jadi termasuk ghibah atau diriku bisa menjadi sarana mediasi pikirannya karena aku berusaha mempengaruhi dia agar merubah cara pandangnya walaupun dia disakiti? Aduh, pusing.
Aku nggak mau mikirin ini sendirian makanya aku share di sini supaya kalian juga ikut pusing hahahaha jahat banget ya aku. Nggak nggak, ini tuh aku sharing aja. Siapa tahu ada yang punya keresahan yang sama, terus kita bisa sama-sama cari colusinya. Atau ada yang punya pandangan soal ini. Dulu aku pernah sih bikin tulisan soal jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan, tapi sudah jauh di postingan lama.
Untuk sementara selesai sesi curhat tersebut biasanya aku istighfar aja dan bilang ke Allah, aku nggak ada maksud ghibah yaaAllah.
Aku berusaha mendengarkan dan ingin ngasih solusi terbaikku untuk dia walau yang dia ceritakan bisa jadi memang keburukan orang lain, tapi semoga setelah bercerita denganku dia mau merubah pandangannya dan bisa berteman kembali dengan orang yang menyakitinya.
Kadang masalah-masalah diantara keluarga atau pertemanan seperti ini berawal dari kesalahapahaman aja jadi seperti yang motivator sering bilang, kuncinya ada di komunikasi. Jadi belajar komunikasi itu penting, belajar kesopanan, belajar budaya, belajar bahasa, belajar bagaimana merespon, belajar mengenali karakter lawan bicara kita. Kamu boleh mengabaikan hal ini kalau memang suka perseteruan~ tapi bagi sebagian orang yang lebih suka hidup damai, ia akan mempelajari dan berusaha legowo dengan keadaan.
Masalah hidup kita sudah banyak, jangan nambah-nambah masalah lagi hanya karena kesalahpahaman komunikasi. Jadi, emang udah bener itu kalau milih anggota humas yang selektif, deh! Yang emang benar-benar berjiwa kayak admin olshop, wkwk. Ya pokoknya yang baik dalam merespon orang lain. Kok jadi ngomongin admin olshop? Astaghfirullah, ini ghibah bukan, ya? Ah pusing ah. Sekian dulu, semoga bisa jadi bahan renungan bersama.
Magelang, 9 Sep 2020 | 21.30 | @wedangrondehangat
Berisik
Pekerjaan yang paling mudah dilakukan oleh siapapun di dunia ini adalah 'mencacat'. Mengurangi atau melebih-lebihkan hal yang didengar dan dirasakan. Jika itu mengenai diri sendiri tak masalah, namun jika menyangkut orang lain. Bukankah malah cari masalah, aneh.
"Harusnya dia begini, ini gak sesuai. Blaaa.. blaa."
"Ini gak sesuai aturan."
"Lebih baik dia seperti ini, eh malah seperti itu."
Ujung dari 'mencacat' orang lain adalah ghibah. Mencari-cari kesalahan jika itu benar bernama ghibah, jika itu salah bernama fitnah. Manusia tak selalu benar, namun mencari pembenar atas sikap yang salah akan bijak jika disampaikan di muka secara langsung. Bukan di belakang, sambil sesekali telinga dirapatkan dan mulut berkata pelan-pelan. Agar tak terdengar oleh yang dibicarakan. Berbicara di belakang tak akan menyelesaikan masalah dan tak melegakan hati. Bijak dalam menyampaikan masukan ke manusia lain, sebab 'mencacat' nanti juga akan dicatat.
Sabtu, 8 Februari 2020.
*) ini bukan curhatan dan tak maksud menyinggung siapapun, tak perlu baper apalagi laper.