Seharusnya ini ditulis sejak lima bulan yang lalu, sejak pertama kali mulai mengajar anak-anak mengaji. Tapi apalah daya baru kepikiran sekarang haha. Semoga saja ini bisa istiqomah.
Yang paling susah ketika mengajar mereka itu bukan waktu ngajar huruf hijaiyah, atau iqra, atau Al-Qur'an, atau bahkan hafalan dari mulai suratan sampai doa-doa. Melainkan ketika harus menanamkan akhlak dan adab yang baik. Selalu begitu. Membentuk karakter selalu lebih sulit dibanding mencekoki teori.
Padahal, kita sama-sama tahu tentang kaidah "adab sebelum ilmu", kan? Porsi adab itu dua per tiga dibanding ilmu. Ulama-ulama terdahulu bahkan memerlukan waktu untuk mempelajari adab lebih banyak dibandingkan waktu untuk mempelajari ilmu.
Aku sudah beberapa kali merasakannya hanya dalam lima bulan ini. Hari ini bahkan terjadi dua kejadian sekaligus terkait hal ini.
Biar kukenalkan lebih dulu the bochils ini.
Yang pertama Challista. Umur tujuh, kelas 1 SD dan sudah mulai belajar Al-Qur'an. Dia yang paling besar di sini. Dan dialah satu-satunya harapan ketika aku membutuhkan salah satu dari mereka untuk mengalah.
Yang kedua Anan. Umur entahlah, masih TK. Sudah masuk iqro 5.
Yang ketiga Keke. Umur entahlah, masih PAUD. dia ini adiknya Challista. Baru masuk iqro 1 setelah khatam huruf hijaiyah.
Yang keempat Tangguh. Umur entahlah. Dia sepertinya lebih besar umurnya dari Keke tapi lebih kecil dari Anan.
That's it. Hanya empat anak.
Empat anak yang semoga bisa menjadi penyelamatku di akhirat kelak.
Tadi ketika Anan sedang setoran, tiba-tiba Keke menyela dengan menyodorkan mainan kepada Anan dan memintanya untuk memilih. Sontak aku menegurnya.
"Eh, eh. Jangan ganggu dulu, ya. Kan Mas Anan-nya lagi ngaji. Nanti kalau sudah selesai ngaji, ya," ucapku pada Keke.
Syukurnya dia langsung menuruti ucapanku. Tapi sambil memperhatikan bacaan Anan, aku sambil berpikir, "Kayaknya aku sudah pernah membicarakan masalah ini dengan mereka. Bahwa tidak boleh memotong atau menyela pembicaraan orang lain, atau ketika orang sedang setoran mengaji. Boleh mengajak bicara nanti, kalau sudah selesai bicaranya, atau ketika tidak sedang giliran setoran. Karena menyela orang lain yang sedang berbicara itu namanya enggak sopan. Seingatku aku pernah mengatakan ini. Apa pas itu Keke enggak datang ya? Atau lupa?"
Pada akhirnya aku menyimpulkan kalau hal seperti ini sepertinya perlu diulang ulang diingatkan.
Yang kedua adalah ketika giliran Tangguh mengaji. Begitu duduk di hadapanku, tiba-tiba membuang kertas yang ada di atas meja ke bawah. Meskipun kertas itu tidak diperlukan untuknya mengaji, tapi aku tetap menegurnya, karena sikapnya yang membuang-buang barang orang lain sembarangan.
"Eh, kenapa dibuang kertasnya? Itu ada yang punya, lho. Ayo diambil lagi, yuk," ucapku memintanya mengambil kembali kertas yang dibuangnya.
Dia awalnya ogah-ogahan. Tapi aku terus berkata bahwa itu barang milik orang lain. Kita tidak boleh membuang kepunyaan orang lain.
Dengan beringsut-ingsut, dia mau juga mengambil kembali kertas itu.
Namun aku kembali dibuat shock ketika bukannya menyerahkannya padaku, dia malah hendak menyobek kertas itu.
"Eh, jangan disobek, dong. Kok malah mau disobek?" ujarku sambil mengambil kertas itu dari tangannya.
"Tadi Mba bilang apa? Ini kan kertasnya bukan punya Tangguh. Coba perhatikan. Selain tidak boleh membuang barang milik orang lain sembarangan, kita juga tidak boleh merusak barang milik orang lain. Menyobek kertas ini tadi kan termasuk merusak, ya? Jadi enggak boleh, oke?"
Huft. Biasanya anak-anak akan merespons "oke" ketika aku menyebutkan kata tersebut sambil membentuk huruf "O" dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan. Tapi jika yang dihadapi adalah Tangguh, sulit sekali mendapatkan respons seperti itu.
Aku hanya bisa tersenyum lalu memulai sesi mengajinya. Berharap besok-besok dia akan mengingat apa yang kukatakan hari ini.
Purbalingga, 14 Januari 2021
Kamis, 1 Jumadil Akhir 1442 H