2019 mungkin menjadi tahun yang serba nano-nano. Mulai dari putus, wisuda, cari kerja, ngga pede karena kapasitas diri yang gini-gini aja, undangan nikah teman di mana-mana, dan masih banyak drama-drama lainnya.
Hari ini, saat aku nulis ini, 2019 udah mau berakhir, dan itu berarti sudah hampir empat bulan aku mencicipi hal baru di tempat yang baru pula. Ya aku resmi dipanggil ‘Ms’ oleh anak-anak kecil yang lucu-lucu. Bingung bagaimana harus menceritakannya hingga aku yang harusnya mengajar SMA terjebak pada keseharian bocah-bocah yang masih jauh dari kata remaja. Ya ibu guru di suatu sekolah dasar di daerah istimewa yogyakarta. Sekolah yang dulu hanya bisa aku tengok ketika aku lewat di depannya, namun hari ini aku bisa ada di dalamnya.
Bingung, tentu saja. Dulu aku tidak mau jadi guru SD karena aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak. Tapi aku ingat, dulu sewaktu jaman kuliah, aku sering kali ikut kegiatan sosial di mana sasaran utamanya lebih banyak elemen anak-anaknya. Dan dari kejadian demi kejadian itu, aku sadar kalau aku tertarik dengan dunia mereka. Mengenal anak-anak membawa ingatanku jauh ke masa lalu. Permainan kami mungkin berbeda, karena jamannya juga sudah tidak sama. Tapi ada yang tetap sama dan tidak berubah di makan usia, bahwa anak-anak itu ternyata masih saja jujur dan apa adanya. Jika mereka suka, mereka akan katakan iya. Jika tidak, maka mereka tidak segan-segan untuk menolak.
Lalu hari ini, hampir setiap hari aku harus berhadapan dengan anak-anak dengan latar belakangnya berbeda-beda. Memperlakukannya pun tidak bisa sama rata. Mendidik anak-anak itu tidak perlu hal-hal mewah nan bergemilang harta. Mendidik anak-anak itu cukup dengan kesederhanaan pun kerendahan hati. Sebab menjadi guru itu tidak hanya menransfer ilmu akademik semata. Ada banyak elemen penting yang mungkin tidak pernah dipatenkan dalam buku-buku teks di luaran sana.
Mendidik anak-anak itu harus bisa menempatkan bagaimana kita jika ada di posisi mereka. Aku bicara begini bukan bermaksud menggurui, tapi bukankah orang dewasa juga sama adanya? Mereka itu tidak butuh bentakan, mereka hanya butuh sesuatu yang menenangkan. Jika mereka berbuat di luar yang seharusnya, dekati dulu pelan-pelan. Berbicaralah dari hati bukan dari rasa jengkel akibat sakit hati. Lelah? Tentu saja. Tapi jika dipikir-pikir, aku ini belum seberapanya dengan para guru yang sudah lebih dulu diuji sabarnya sejak bertahun-tahun lalu.
Bertemu anak-anak setiap hari itu menjadikan awet muda. Bagaimana tidak, tingkah lucu mereka yang suka di luar kepala sukses membuat kita otomatis tertawa. Walaupun tidak bisa dipungkiri, rasa jengkel sesekali hadir sebab tingkah laku mereka yang usil. Tapi bukankah di situ seninya? Menjadi guru itu bukan hanya banyak bicara di kelas seolah-seolah kita adalah yang maha tahu segalanya. Menjadi guru itu harus mau menurunkan ego untuk tidak mudah puas atas apa yang didapatkan. Mau belajar meski itu harus dari anak-anak yang mungkin ucapannya hanya terlontar tanpa dipikirkan.
Aku justru belajar banyak dari anak-anakku. Belajar bagaimana menjadi manusia itu ya harusnya seperti anak-anak. Tidak perlu mendebatkan keyakinanmu apa. Tidak peduli kamu berdoa dengan menengadahkan tangan atau menangkupkan tangan di dada. Tidak perlu cemas jika ada orang yang warna kulitnya berbeda dari kita. Tidak perlu ragu membantu meski kita sebenarnya tidak suka. Dan yang terpenting bisa satu detik saling melempar sebal tapi di detik berikutnya merangkul tanpa ada dendam.
Jika ditelisik, anak-anak itu justru sumber belajar yang paling natural. Mereka tidak berusaha terlihat paling sempurna untuk bisa disukai teman-temannya. Mereka cukup jadi diri mereka yang apa adanya dan kebaikan-kebaikan semesta seolah menjawab segala inginnya.
Agaknya, sampai detik ini, tidak ada kalimat yang pantas untuk aku rapal selain ucapan syukur sebanyak-banyaknya pada Tuhan. Untuk kesempatan luar biasa dan untuk segala kejutan-kejutan yang selalu aku nantikan. Aku akan terus menunggu bagaimana setiap hari, anak-anak itu memberi pembelajaran yang luar biasa untuk diriku. Terima kasih ya nak atas kesempatan mengenal kalian, Ms adalah salah satu orang beruntung karena bisa berteman dengan kalian semua.
Di penghujung tulisan ini, ada doa yang terselip untuk kebaikan mereka. Semoga mereka senantiasa menjadi pribadi baik untuk dirinya pun sesama, tidak mudah menyerah, dan terus menjadi jiwa-jiwa yang haus akan ilmu. Semoga masih ada banyak waktu untuk terus merangkai cerita.
Cerita ini baru dimulai, mari terus eratkan tangan untuk merangkai kisah yang lebih mengesankan.