Home is where the Haram is.
Akhir tahun 2025 akan selalu saya kenang sebagai akhir tahun paling damai sepanjang hidup. Tidak ada notifikasi whatsapp dan dering annoying MS Teams yang memang sengaja saya matikan, paling tidak selama dua minggu. Tujuannya satu, mengunci ingatan untuk selalu pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT di tempat paling suci di dunia.
Perjalanan dimulai dari April 2025. Saya, ibu, istri, dan Ocean dengan seizin Allah dan dengan niat tulus, akhirnya mendaftar program umroh untuk bulan Desember 2025. Niat yang memang sudah lama kami ingin wujudkan, qadarullah baru bisa terlaksana bulan Desember 2025.
Sepanjang April s.d. November, hati dan pikiran saya seolah sudah dibawa terbang. Setiap ada masalah, baik di keluarga maupun di pekerjaan, hati selalu berbisik, "Tenang, tunggu sampai bulan Desember. Kita tumpahkan semua di sana." Pun ketika momen bahagia, pikiran selalu datang, "Segeralah bulan Desember, kita bagi kebahagiaan ini di sana."
Perjalanan menuju Desember bukan tanpa hambatan. Cobaan fisik dan materi tak pernah luput. Beruntung, istri selalu mengingatkan dan menguatkan. Itu lah yang semakin mempertebal niat dan tujuan kami untuk lekas pergi dan mengadu di rumah Sang Maha Pencipta.
Waktu yang dinanti tiba. Kami tiba di Madinah, tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW. Baru hari pertama kami menginjakkan kaki di Madinah, Allah langsung mengabulkan salah satu doa paling besar saya.
Jauh sebelum berangkat, saya berdoa agar kami sekeluarga selalu diberikan keharmonisan dan ketenangan bersama. Alhamdulillah, doa saya langsung diijabah di hari pertama kami di Madinah. Sungguh, keajaiban umroh seperti yang orang banyak bilang benar adanya.
Total lima hari kami di Madinah. Bagi saya, 24 jam serasa kurang. Madinah terlalu tenang dan damai untuk dihabiskan hanya dalam waktu 24 jam.
Saya yakin, perasaan itu muncul karena kami berada begitu dekat dengan Rasulullah SAW. Masjid Nabawi terasa begitu hangat kapan pun kami ke sana. Suhu ketika kami shalat Subuh pertama di Masjid Nabawi itu 4 derajat Celcius, tapi hampir tak terasa ketika kami sampai di pelataran Masjid.
Assalamualaika ya Rasulullah..
Madinah dan Masjid Nabawi begitu istimewa. Suasananya, orang-orangnya, mereka semua seolah menyambut ramah setiap orang yang datang ke sana. Saya seperti dipeluk dari belakang sambil berbisik, "Sudah lah, apa yang kamu kejar di dunia. Datanglah ke masjid, ibadah lah. Nikmati kota ini seutuhnya."
Qadarullah, saya belum sempat masuk ke dalam Raudhah, taman surga tempat bersemayam baginda Nabi Muhammad SAW. Tasreh yang tak kunjung keluar dari agen travel dan usaha sendiri lewat instant track Nusuk pun tetap belum bisa.
Beruntung, istri bisa masuk karena jamaah putri ijin Tasreh bisa keluar. Saya yang sedang berdua dengan Ocean langsung mengirim chat paling romantis yang pernah saya kirim ke siapapun.
Hati benar-benar bergetar, air mata tak hentinya keluar saat menulis chat singkat itu. Ada perasaan sedih sekaligus senang. Sedih karena belum bisa berkunjung langsung, senang karena paling tidak, istri dan ibu bisa merasakan pengalaman paling berharga di Madinah itu.
Setelahnya, saya hanya berpikir, mungkin inilah cara Allah SWT agar saya kembali ke Madinah lagi tahun ini. Bismillah, ya Allah. Aamiin.
Saatnya kami menuju tujuan utama kami. Ibadah umroh di tanah Haram. Pertama kali turun dari Stasiun HHR, langsung begitu terasa perbedaan kota Makkah dan Madinah.
Makkah bagi saya adalah kota hustle. Semua orang ingin beribadah sedekat mungkin dengan Allah. Semua orang dari seluruh penjuru dunia ingin sedekat mungkin untuk berdoa di tempat yang paling mustajab. Semua orang begitu bersemangat dan berlomba-lomba menuju kebaikan.
Hal yang sangat wajar, karena di sana lah rumah Allah. Semua ingin menjadi tamu Allah yang tidak merugi. Apapun dilakukan untuk meraih beribu kali lipat pahala dari Allah SWT.
Satu yang paling saya takutkan sebelum saya berangkat ke tanah suci. Bahwa perasaan saya akan kosong ketika melihat Ka'bah. Hati tak bisa menangis seperti jamaah pada umunya ketika melihat Ka'bah secara langsung pertama kali.
Tapi semua sirna seketika. Langkah pertama setelah tawaf dimulai, dada langsung terasa sesak. Di tengah ribuan jamaah lainnya, saya menangis begitu putaran pertama tawaf.
"Ya Allah, saya sampai di sini. Di tempat yang semua umat Islam impikan untuk datang. Saya sudah di sini Ya Allah. Bersama ibu, anak, dan istri. Betapa beruntungnya kami ya Allah."
Makkah benar-benar mengajarkan saya bahwa dalam beribadah, semua perlu diperjuangkan. Melihat begitu kerasnya usaha semua orang untuk ke Hajar Aswad, bagaimana panjangnya antrean untuk bisa ke Hijr Ismail, serta gigihnya jamaah yang berusaha meraih Multazam, sungguh begitu menyenangkan.
Bagi saya, ungkapan "undang kami" atau "panggil kami" untuk menjalani ibadah umroh kurang tepat, karena menurut keyakinan saya, kita semua sudah diundang Allah SWT untuk ke Baitullah. Tinggal apakah kita mau menghadiri undangan tersebut atau tidak.
Memang perlu lebih dari sekadar fisik yang mumpuni dan materi yang berkecukupan. Terlebih dan yang paling penting, adalah niat dan keikhlasan untuk beribadah dan bertamu ke rumah Allah yang menjadi dasar itu semua.
Makkah dan Madinah adalah satu-satunya tempat di dunia ini, di mana saya merasa pulang ke "rumah", padahal belum pernah sekalipun pergi ke sana sebelumnya.
Normalnya, dimanapun kita pergi, akan selalu menyenangkan untuk pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Tetapi, saya benar-benar merasakan mixed feeling ketika meninggalkan Makkah dan Madinah. Hati terasa penuh, tetapi juga hampa di saat yang bersamaan.
Tidak ada lagi keringat yang menetes karena berdesakan tawaf, tidak ada lagi sepertiga malam yang begitu sunyi dan tenang di Masjid Nabawi, tidak ada lagi teriakan askar yang menyuruh kami segera bergegas.
Ada tarikan magis yang sungguh tak bisa diutarakan dengan mudah ketika ditanya kenapa begitu ingin ke sana lagi.
"Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana seekor ular kembali ke dalam sarangnya."
(HR Bukhari: 1876, Muslim: 147)
Bismillah. Mudahkanlah kami untuk bisa kembali ke Haram ya Allah. Secepatnya. Setiap tahunnya. Aamiin.