Apapun Partainya, Jangan sekali-kali coblos Caleg yang masih pasang spanduk dan balihonya dengan paku di pohon..!
Kita butuh pohon yang sehat, karena kita masih harus bernafas..
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Russia
seen from Argentina

seen from T1
seen from United States

seen from Russia
seen from Russia
Apapun Partainya, Jangan sekali-kali coblos Caleg yang masih pasang spanduk dan balihonya dengan paku di pohon..!
Kita butuh pohon yang sehat, karena kita masih harus bernafas..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Reposted from @jansmoni_official Yakin tidak mau hadir ??? Yakin ??? Nyesel tidak ditanggung panitia yaa maszehh πππ . . @jansmoni_official dan @semetonwirasa . . . . . . #mudaberkarya #bukanbergaya #matitanpakarya #karyaadalahjiwa (di Buleleng, Bali, Indonesia) https://www.instagram.com/p/Cc6w_8fhLTw30HYcF3Xd0BZ0WOu8zCzJXYHITc0/?igshid=NGJjMDIxMWI=
#12 - Terimakasih, 2021.
Dear aku,
Tiap langkah yang telah terukir bukanlah tanpa sebab. Ada banyak takut yang terus menyambut, cemas yang tak terbalas atau khawatir yang tak kunjung reda. Anggaplah sebagai proses untuk menjadi lebih dewasa.
Banyak alasan bagiNya untuk memberi arti lebih baik. Bahwa, ketidaknyamanan juga sebuah langkah yang perlu dilalui. Tanpa alasan, tanpa kecuali. Walau kadang enggan untuk melampaui, rasa ragu pada saatnya perlu dirasakan detaknya. Sekali saja.
Mengadili diri sendiri rasanya berat ya, tapi inilah yang perlu diusahakan. Lebih menakutkan lagi, saat dunia memberi pelajaran saat diri sedang sakit-sakitnya.
Hidup yang banyak dipikir-pikirin kiranya perlu dijalani saja. Sesekali dirasa-rasain agar empati akan diri menyatu dalam upaya. Luka yang suka diseka, keluh yang masih menggerutu atau keputusasaan tanpa ujung.
Menghela nafas, sesekali. Memberi ruang gundah, sekali lagi. Tak tergantung seseorang, ada atau tidak. Menyendiri, sendiri bersama diri sendiri, tidaklah mengapa.
Tahun kehampaan, tidaklah datang lagi. Banyak pelajaran sungguh berharga, perihal keterbiasaan akan kabar kehilangan. Mendadak, serba dan kian saja.
Semesta beri rasa kesementaraan akan semua hal. Usia sebatas pembeda antara satu dengan yang lain saja. Tak lebih, tak kurang. Kematian milik semua, titik.
Salah adalah celah bagi semua. Tapi berlaku seperti manusia adalah pilihan. Sama halnya, tua sebagai kepastian namun dewasa perihal pilihan masing-masing.
Masa mendatang perlu disambut dengan rasa cukup. Bersyukur lebih banyak, mengeluh lebih sedikit. Berekspektasi boleh, bergantung kiranya tidak perlu. Termasuk, perkara orang-orang yang datang dan pergi.
Terimakasih untuk kesabaran, kegigihan, keletihan, ketenangan pun kerelaan bahwa mengarungi kehidupan hanya dengan melakukannya. Sekali lagi.
Berlaku teguh, satu-satunya pilihan yang perlu ditunaikan.
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
#11 β Secita Terkaan
Suatu saat hidup memberi arti perihal sudut pandang. Menjatuhkan tiap masalah sebagai apa? Meleburkan rasa sakit sebagai apa? Melaraskan tiap langkah sebagai apa? Sebagai bentuk syukur atau tetap bergelut dalam pola yang kita lihat. Lagi-lagi sebuah pilihan.
Memaknakan proses layaknya mengais sebuah harapan. Berjalan, sakit, berlari, perih, berhenti, sama saja. Tak bisa menghindar, namun bisa kita pilih untuk hadapi seperti apa?
Walau kadang jatuh di titik hampir menyerah, kita tak bisa memaksa proses itu berhenti tanpa alasan. Dia punya rencana sedang kita tidak.
Satu-satunya jalur ialah mendefinisikan proses demi proses yang bisa kita bentuk jadi alasan terbaik untuk menghadapinya.
Kita tak bisa menulis sebuah akhir, tapi awal sampai kini ibarat puzzle yang boleh disusun perlahan demi perlahan. Kita tak bisa menjawab sebuah solusi, tapi sapaan sampai jeritan masalah boleh disambung jadi sebuah pijakan. Kita juga tak bisa memastikan masa depan, tapi masa lalu dengan riuhnya dan masa kini dengan letihnya adalah awal dari sebuah harapan.
Seringkali mungkin kita sedang bertanya dan lagi-lagi bertanya. Kenapa harus saya? Kenapa harus melalui semua ini? Kenapa harus merasakan jurang yang satu ini?
Nada keharusan yang tidak bisa dilawan, dihindari atau diakhiri. Kenapa? Dia butuh alasan untukmu layak jadi baik atau bahkan terbaik bagiNya.
Kiranya kita perlu sepakat, apa-apa yang kita rasa, alami, jalani, pilih, pikiri, semua-semua hanyalah sementara. Ada saatnya usai, ada saatnya berhenti menghantui. Detik ini, esok, lusa atau entah kapan.
Memastikan kapannya bukanlah tugas kita, tapi kita bisa memetakan tugasNya saat ini untuk alasan apa?
Alasan untuk hidup yang bagaimana? Berharta? Berkarakter? Berposisi? Berstatus? Bermanfaat?
Hanya kamulah yang bisa menjawab, apa maksudNya. Rasa-rasain tiap kerikilnya, langkah kecil yang bisa memberi makna lebih soal hidup yang seperti apa harusnya.
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
#10 β Dinamika Keakuan
Ku kira aku istimewa, paling dibutuhkan dan perlu diutamakan. Ternyata itu hanyalah anggapanku saja. Tak harus diperhitungkan keberadaanku, toh aku tetaplah ada. Biasa-biasa saja, bukanlah sebuah masalah.
Tampil atau tidak bisa tampil, sebuah pilihanku. Tak melulu harus aku yang terbaik, merasa sedang baik sudahlah cukup. Aku bisa lebih baik, saat aku perlu untuk menjadi baik. Tanpa memaksa diriku, saat belum siap.
Aku yakin semesta selalu memberi restu, saat aku beri ruang untuk diriku. Mengakui apa yang salah, mencurahkan rasa tanpa lagi ditahan, mengalirkan pikiran tanpa harus dihakimi. Aku perlu sadar, rasa yang keluar dan pikiran yang muncul adalah proses bertumbuhku.
Berupaya jadi manusia, seperti perjalanan untuk betul-betul merelakan semua yang terjadi. Tak perlu dibesar-besarkan, tak juga harus dipusingkan. Aku bertumbuh, saat diriku memilih bersedia untuk hadapi. Jika belum siap, aku beri waktu diriku untuk memahaminya sejenak.
Walaupun aku kadang tidak nyaman, setidaknya aku telah berani mengarungi rasa tidak enak itu. Solusi, tak selalu sebuah output akhir. Bisa saja, proses itulah yang mendidikku jadi lebih dewasa.
Ada atau tidak adanya orang lain, sama saja. Jika aku ragu, aku coba untuk meyakinkan diri lagi. Semua hal akan memiliki pola tersendiri yang memberi makna lebih tentang apa yang harus aku lakukan.
Aku percaya melalui cintaku pada diriku. Itu sudahlah cukup jadi arti hidup yang pantas aku perjuangkan sesuai kemampuan dan kesediaanku.
Tidak ikut-ikutan dengan apa yang orang lain capai, tidaklah salah. Aku percaya standar tiap jiwa memiliki keunikan sendiri, karena proses bertumbuhku dan caraNya memperlakukanku juga berbeda.
Satu hal yang pasti, kadar cintaNya akan lebih besar saat aku berani lebih dekat padaNya. Tak peduli senakal apa aku ini, namun aku yakin tak ada upayaku yang luput dariNya.
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
#9 β Kamu Tidak Sendirian [2]
Untukmu yang tumbuh dengan banyak luka, kamu tidaklah sendirian.
Masa lalu yang menghantui tenangmu. Pikiran yang kadang tak kenal rehat. Pun, perasaan yang sukar merasa baik-baik saja. Serba salah. Menyalahi sekitar, diri sendiri, semua-semua disalahkan.
Kehilangan jarak antara sedih, bingung, marah, kecewa, semua merasuk jadi satu. Terbayang lagi, masa kelam itu. Berat, sukar dilupakan. Justru, semakin dipaksa melupa malah semakin jelas saja.
Seperti itulah, salah satu dinamika hidup yang sukar ditolak. Dirimu kini, tak lain bentukkan masa lalu dengan terjalnya sendiri. Sesakit apa rasanya, seperih apa kenangannya. Kita hanya bisa berupaya melalui, dinikmati prosesnya, pun belajar rela dan menerima kalo semua itu adalah bagian dari dirimu.
Tanpa kita sadari, kita sedang bertumbuh. Tetap berproses menuju yang baik-baik walaupun masih kita ragukan waktu datangnya. Semua hal baik butuh ruang untuk berkompromi dengan hal buruk yang dulu, sedang atau usai kita jumpai.
Sama halnya, saat semesta memberimu kesempatan untuk bertumbuh. Kita juga perlu memberi waktu bagi berbagai rencanaNya yang sedang ditunda kelayakkannya.
Tugas kita adalah belajar menguat dan matangkan diri. Jika rencana itu telah menjadi nyata, kita tak lagi terperosok dalam jeratan yang serupa. Dekati dirimu dengan layak yang betul-betul.
Masih banyak kesempatan untuk kita bangkit. Tentu akan lebih baik saat diri tak lagi bertaruh dengan bahan baku, upaya, serta cara yang sama.
Mulai meramu apa yang kita telah yakini sebagai kekurangan, saatnya untuk diubah jadi kekuatan. Tak melulu soal potensi diri yang tersembunyi, namun sebuah rasa rela bahwa dirimu layak untuk bergerak lebih maju lagi. Asah daya empati pada diri, sebuah upaya kecil yang perlu diberi salurannya.
Beri jeda hidupmu untuk mengenal diri lebih dalam. Ambil intisarinya untuk diterjemahkan jadi aksi yang bisa dilakukan. Tak harus melibatkan orang lain, sesekali dan biasakan untuk lebih banyak ngobrol-bertanya-diskusi dengan dirimu sendiri.
Suatu hal yang berlebihan tak baik, bukan? Sama halnya, saat kita terlalu banyak interaksi dan empati ke orang lain. Sampai kita lupa untuk empati pada diri yang utama. Sahabat sejatimu!
Boleh jadi, kita belum betul-betul mengenal sisi asing dari dirimu selama ini.
Terpenting, dalam menata tujuannya. Tak perlu untuk membuktikan ke orang lain. Satu-satunya yang perlu mendapat penjelasan dan validasi adalah dirimu seutuh-seapaadanya. Relakan bahwa kita tidaklah istimewa dan tak harus jadi sempurna. Bersediakah?
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
#8 β Kamu Tidak Sendirian
Untukmu yang merasa serba salah, kamu tidaklah sendirian.
Semakin dewasa, semakin diajarkan untuk banyak-banyak mengerti.
Tak semua yang diinginkan akan pasti terwujud. Tak semua yang dimengerti akan pasti dimengerti orang lain juga. Tak semua yang dirasakan akan pasti direspon sekitar kita. Pun, tak semua yang dianggap penting akan pasti dipentingkan diluar diri kita.
Itu semua hanya perlu kita validasi oleh diri sendiri. Mana yang dianggap benar, mana yang salah. Mana yang perlu diperjuangkan, mana yang tidak perlu lagi. Termasuk orang-orang yang bersarang dalam hidup.
Tak peduli seberapa lama orang itu bersamamu. Ini soal siapa yang bisa mengerti dengan saling. "Saling," satu kata yang memberi arti sebuah suka, duka, lara. Siapa yang pantas berada disisimu, siapa yang cukup sampai disini.
Sebelum terlambat. Sebelum salah itu mewujud jadi masalah. Sebelum sakit yang tak berdarah, kembali. Terlalu pemilih katanya tak baik, apakah saat terlalu terbuka akan berakhir baik?
Pada sikunya, semua terbentuk resiko. Tanpa tapi, tanpa terkecuali.
Teman? Sahabat? Musuh? Pasangan? Kiranya hanya sebuah sematan saja. Pembedanya, seberapa jauh kata "saling" itu menghangatkan kepercayaan bukan?
Sejauh mana interaksi terbentuk. Mengartikan tatapan sebagai sikap. Memberi makna senyum dan tawa sebagai ketulusan. Barulah, coba menjawab:
Apakah layak disebut sebutir kebahagiaan?
Jarak antara cinta dan benci katanya sangatlah dekat. Apakah saat memutuskan anggapan teman akan lantas selalu jadi teman? Bisa saja, besok jadi pasangan besoknya balik lagi ke awal. Sekedar perumpamaan, sederhana.
Tiap hal yang kita anggap akhir, ternyata sebuah awal dari lingkaran yang bersinggungan dengan resiko. Tak bisa sembunyi, tak bisa menghindar. Ya, kamu tidak sendirian. Masih bersedia menikmati bukan?
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin
Bismillah, Alhamdulillah ini buku Antologi ke 3 saya bareng sahabat @salampena Bagi yang ingin memiliki buku ini segera hubungi saya (DM) atau bisa pesan langsung ke akun penerbit @salampena_pustaka Buku ini stok terbatas dan hanya satu kali PO ya, yok segera miliki buku ini. Terima kasih ππ #jumatmubarok #sedekahyoksedekah #mudaberkarya #salamliterasi #salampenabatch17 https://www.instagram.com/p/CV4uREPv_9u/?utm_medium=tumblr