Untuk Ghaniy, Anak ku.. (Part 1)
Tahukah kamu nak, saat ini diriku sangat bahagia menjadi seorang Ibu. Aku tidak pernah menyangka akan memilikimu. Detik-detik menunggu kehadiranmu sempat membuatku takut nak. Kesakitan demi kesakitan terus aku tahan. Begitu banyak jarum yang menusuk kulitku tak menghilangkan semangatku untuk segera berjumpa denganmu, nak. Tubuhku lagi-lagi dihadapkan dengan jarum dan pisau bedah, kala itu ketakutan merasuk dalam hati dan pikiranku. Ku tahan semua rasa sakit yang menembus tulang belulangku. Ku ikhlas ketika dokter mulai merobek perutku demi mengeluarkanmu dari ruang sesak di perutku. Ketika aku mulai kehilangan kesadaranku, beberapa dokter meneriakiku untuk berusaha mendorongmu agar bisa keluar dari ruang sempit itu. Akupun berusaha sekuat tenagaku agar bisa sesegera mungkin bertemu denganmu. Di tarikan nafas terakhirku, ku dengar suara tangisanmu nak. Seorang dokter membawamu kepadaku dan berkata, putra ibu telah lahir dan sontak saja semua dokter dan tim medis yang kala itu berada di ruang operasi memberikan ku ucapan "Selamat telah menjadi seorang Ibu". Kala itu juga airmataku ini tak bisa kubendung, aku menangis ketika kulihat dirimu masih bersimbah darah. Aku melihat engkau keluar dari rahimku nak. Saat itu hanya bahagia dan rasa syukur yang begitu besar yang bisa aku rasakan. Sebagai seorang wanita mungkin saat ini aku sudah sempurna.. Sempurna karena telah diberikan kenikmatan untuk bisa memilikimu, nak.
(Kelahiran mu, Jakarta 21 September 2018 16.59, Harapan Kita)













