Memaafkan memang strategi berdamai dengan masa lalu. Sejatinya untuk ketenangan jiwa kita sendiri, bukan orang lain. Karena rasa sakit, luka, benci dan dendam itu kita yang merasakan. Orang yang kita musuhi belum tentu sadar. Seperti kata Nelson Mandela, “Resentment is like drinking poison and then hoping it will kill your enemies.” - Rasa benci itu seperti kita yang minum racun dan berharap itu bisa membunuh musuh... how silly- kan?
Tidak harus melontarkan kata maaf pada orang yang sudah membuat kita sakit. Apalagi bila ada risiko berhubungan kembali dengan orang tersebut akan membahayakan kita. Cukup dengan mendoakannya dalam hati dan berkata pada diri sendiri bahwa kita memaafkannya.
Karena sejatinya memaafkan itu menyembuhkan luka batin, menimbulkan ketenangan jiwa sehingga kita merasa lebih kuat dan bijak. Bukan sekadar gengsi dan beranggapan mengirim maaf berarti sudah menang.
Tapi juga memaafkan bukan berarti melupakan. Pun, mengingat kesalahan mereka bukan berarti kita tidak memaafkan. Bukankah ketika kita melupakan kesalahan, maka tidak ada hal yang bisa dipelajari sebagai modal masa depan?
Kita bisa memaafkan si mantan yang pernah posesif, bohong, khianat, manipulatif, ghosting, even playing victim, tapi manfaatkan pengalaman tersebut untuk mengevaluasi si calon berikutnya agar tidak lagi terjebak dalam hubungan yang beracun. Forgive and remember is actually better for us.
Ibarat luka, setelah memaafkan, kita tidak mudah ketriger emosi lagi… bengkaknya, lukanya sudah kempes dan mengering, sudah tak terasa sakitnya lagi, tapi tidak dengan bekas lukanya, masih nampak jelas. Dan setiap mata kita melihat bekas luka tersebut, kejadiannya, waktunya, setiap momentnya akan terbayang di ingatan kita, nampak jelas, sakitnya itu masih bisa terasa, "sakitnya tuh di sini"
Bahkan ada satu kisah, Nabi Muhammad tak sanggup melihat wajah Wahsyi bin Harb yang telah membunuh sang Paman, Hamzah, meskipun Beliau SAW sudah memaafkan saat Wahsyi bersyahadat. Wahsyi menemui Rasulullah SAW dan mengucapkan syahadat. Rasulullah SAW menatap Wahsyi dan bertanya, "Apakah engkau Wahsyi yang telah membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib?"
Wahsyi mengangguk. Rasulullah SAW bertanya lagi, "Bagaimana engkau dapat membunuhnya?" Wahsyi pun menjawab, "Selama Hamzah berperang aku terus mengintainya. Ketika ia lengah, kulemparkan tombakku ke tubuhnya." Wahsyi berkata dengan penyesalannya.
Rasulullah SAW seketika berpaling, beliau enggan melihat wajah Wahsyi lagi. Dan sejak saat itu Wahsyi tidak berani mendekati Nabi Muhammad SAW. Ia takut membuat Rasulullah SAW sedih. Wahsyi memaklumi, hingga dalam hatinya Wahsyi bertekad menebus kesalahannya, dia tidak ngambek dan gak terima...
Memaafkan memang memberikan ketenangan jiwa. Tapi kadang kala proses memaafkan tidak berlangsung sekali saja. Memaafkan bisa menjadi proses yang berlangsung terus menerus menuju ikhlas. Insyaallah.
Memaafkan orang yang merasa bersalah itu menentramkan HATINYA
Memaafkan orang yang tak merasa bersalah, itu menentramkan HATI KITA