Omong-omong soal gagal, setiap orang mungkin pernah merasakannya dalam hidup. Kegagalan dan keberhasilan adalah sebuah keniscayaan, akan selalu beriringan. Namun, akhir-akhir ini aku mencoba merasakan kembali tentang dua rasa gagal yang pernah kuhadapi.
Menurutku, ada dua versi gagal dalam hidup; gagal sebelum bertempur dan gagal setelah berjuang mati-matian.
1. Gagal Sebelum Bertempur:
Ini adalah kegagalan yang menyakitkan karena kita belum sempat mengecap sebuah perjuangan. Kegagalan versi ini bisa dianalogikan seperti seorang petani yang hendak menanam pohon langka. Sebelum menanam benihnya, kita sudah membayangkan segala macam kemungkinan yang bisa terjadi. Kita takut pohon itu tidak akan tumbuh, takut tanahnya tidak subur atau bahkan takut musim hujan tak datang tepat waktu. Akhirnya, karena terlalu banyak ketakutan dan keraguan, kita tidak menanamnya sama sekali. Pohon itu tetap hanya ada dalam pikiran, belum pernah ada kesempatan untuk tumbuh. Lalu tahukah part paling menyiksa?
Perasaan paling menyiksa adalah ketika kita tahu bahwa orang lain yang memiliki potensi yang sama atau bahkan jauh di bawah kita bisa berhasil menanam pohon yang sama. Akhirnya yang tersisa hanya bising dalam kepala, bertanya-tanya soal, "bagaimana jika aku bisa melakukannya?", "mengapa aku membuang kesempatan ini?", atau "mengapa aku tidak cukup berani?".
Ini adalah kegagalan yang menyisakan banyak 'kalau' dan 'bagaimana jika'.
2. Gagal Setelah Bertempur Mati-Matian:
Kegagalan ini juga tetap menyakitkan, namun kita telah mengetahui di mana letak kesalahan dan kealpaannya setelah mengecap pertempuran serta perjuangan. Berbeda dengan kegagalan karena menyepelekan kesempatan, kegagalan ini bisa dianalogikan seperti seorang pemain catur yang telah berlatih bertahun-tahun untuk menguasai setiap strategi. Kita mengatur langkah-langkah dengan cermat, berpikir ribuan langkah ke depan dan melawan lawan yang sangat tangguh. Namun, setelah berjuang mati-matian, kita akhirnya kalah hanya karena satu kesalahan kecil yang tidak diperhitungkan di akhir permainan. Namun tahukah kamu apa yang menyebabkan kegagalan ini tak se-dramatis kegagalan yang pertama? karena kegagalan ini didasarkan atas perjuangan keras. Setidaknya, kita tak pernah merasakan penyesalan karena enggan mencoba. Kita bisa mengoreksi kesalahan, kita bisa mengulanginya lagi hingga menghasilkan yang terbaik. Tidak ada bayang-bayang; 'bagaimana jika...', 'ah andai aku mencoba dari awal'
Aku menulis soal kegagalan ini atas dasar pengalaman pribadi. Aku berharap, teman-teman tidak pernah takut untuk merasa gagal dan terus belajar serta berjuang. Sungguh, sangat menyakitkan rasanya ketika kita tahu bahwa kegagalan itu bukan berasal dari faktor eksternal. Sungguh, sangat menyiksa ketika kita tahu bahwa sebenarnya kita bisa namun akhirnya keberhasilan itu diambil alih oleh orang lain yang setara. Tanpa mengesampingkan faktor rejeki dan takdir, aku tetap ingin teman-teman tahu bahwa perasaan takut gagal itulah yang akan menghambat kita untuk sukses. Ketakutan akan gagal akan menjadi momok hingga kita menyabotase potensi diri tanpa sisa lalu tak pernah menjadi apa-apa.
Jika kita secara terang masih diberi kesempatan untuk mencoba, please jangan abaikan. Maju dan cobalah dengan sekuat tenaga. Tanpa mencoba, kita tidak akan bisa mengukur kemampuan. Tanpa mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana rasa manis kebehasilan. Tanpa mencoba, kita hanya akan menjadi orang yang tak tahu apa-apa.