So many things to ask. But I can’t
That's okay. You don't have to ask anything specific. You can just start by telling me how you feel right now, even if it's messy or doesn't fully make sense yet.

Love Begins
Fai_Ryy

★
Monterey Bay Aquarium
RMH
taylor price
tumblr dot com
Stranger Things
𓃗


Kiana Khansmith
The Stonewall Inn

oozey mess
Mike Driver

#extradirty

blake kathryn

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
official daine visual archive
seen from Brazil
seen from Germany

seen from United States
seen from Thailand

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Arab Emirates

seen from Türkiye
seen from South Africa

seen from China
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Nigeria

seen from Bangladesh
seen from Netherlands

seen from Australia

seen from Singapore
seen from Malaysia
@yasirmukhtar
So many things to ask. But I can’t
That's okay. You don't have to ask anything specific. You can just start by telling me how you feel right now, even if it's messy or doesn't fully make sense yet.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kak, how are you? I feel tired for everything, aku tau teorinya, tapi kadang bertanya-tanya, untuk apa ya hidup.
Hi, I'm good, alhamdulillah. Thanks for asking.
It's okay to feel tired, even when you already know the "theory" of why you should keep going. Knowing the answer in your head and feeling it in your heart are two different things. And the gap between them is exhausting.
Maybe you don't need a new answer right now. Maybe you just need to say it out loud, let it out of your chest, and have someone actually listen without rushing to fix it.
Whenever that tiredness feels heavy, try to bring it back to Allah too. Even just a quiet "Ya Allah, aku capek" is already a form of du'a. He knows even before we say it, but saying it is for us, not for Him.
Halo Tumblr.
Aku datang untuk melepaskan negativitas dalam diriku.
Kalau kamu ngga mau tertular, jangan baca ini. Scroll aja.
Menurut gue, orang-orang profesional dan bisa kerja harus lebih tegas, bahkan kalau bisa intimidatif, saat kerja bareng orang-orang inkompeten yang ga becus kerjanya.
Pasang sorot mata tajam, muka dingin, tapi tetap berkata-kata yang rasional dan tidak menyerang. Kasih tau mana batasan-batasan yang gak bisa diterima. Buat mereka merasa malu dan sadar akan inkompetensi mereka.
Negara ini udah terlalu rusak gara-gara dipegang orang inkompeten, dari atas hingga bawah. Saatnya yang kompeten agresif masuk dan mengambil kendali.
Penemuan jati diri adalah hadiah untuk orang-orang yang mengambil tindakan: mengambil pilihan, menerima tantangan, dan menciptakan pengalaman.
Kita ngga bisa menemukan jati diri kita hanya dengan merenung dan berpikir tanpa bertindak.
Kita bisa tau apa yang kita mau untuk karir setelah kita bekerja.
Kita bisa tau masterpiece apa yang mau kita buat dalam hidup setelah kita bantu banyak orang.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semua Masalah Pasti Punya Solusi
Pasti.
Saya percaya begitu karena premis berikut:
1. Dibutuhkan kecerdasan tertentu untuk menyelesaikan masalah. Semakin kompleks sebuah masalah, semakin tinggi requirement kecerdasannya. Kecerdasan di sini bukan sebatas kecerdasan akademis atau intelektualitas, tapi kecerdasan dalam makna luas. Jadi jangan insecure kalau IQ kita biasa aja.
2. Kita gak tahu batas maksimal dari POTENSI kecerdasan kita. Manusia itu didesain Allah untuk bisa belajar dan berkembang. Jadi jangan berpikir kamu yang sekarang adalah versi final. Kamu bisa jadi lebih cerdas dari yang sekarang. Kamu itu gak diciptakan sekali jadi, terus beres. Kamu itu masih dalam proses penciptaan. Tiap hari ada sel baru yang diciptakan di tubuh kamu. Adilnya Allah, sekarang kamu punya andil untuk ikut membentuk diri kamu.
3. Solusi suatu masalah itu bisa banyak dan bisa dalam bentuk yang berbeda dengan bayangan kita. Jadi jangan fixated alias ngotot solusinya harus sama dengan yang kita mau. Misal, seseorang yang kita cintai meninggal dunia dan kita berduka. Kita mau orang yang kita cintai itu hidup lagi. Apakah ada solusinya? Ada. Apakah solusinya menghidupkan orang mati? Bukan. Solusinya bisa jadi belajar memproses rasa duka, konsultasi ke psikolog, ikut komunitas, atau yang lain. Maaf, bukan bermaksud menggampangkan. Poinnya, solusi gak selalu bisa sama dengan kemauan kita. Tapi toh pada akhirnya ada cara untuk menghadapi masalah itu kalau kita cukup terbuka dan mau berusaha nyari.
Ini kesimpulan untuk menjahit semua premis itu.
Kalau kita terjebak sama suatu masalah, bisa jadi karena level kecerdasan kita saat ini ga cukup untuk menghadapi masalah itu. Kita butuh level kecerdasan yang lebih tinggi.
Kata Einstein, kita gak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan tingkat berpikir yang sama dengan saat masalah itu tercipta. Karena bisa jadi asumsi, perspektif, dan metode kita adalah bagian yang membuat masalah itu tetap ada.
Kita perlu tanya diri kita sendiri:
"Apa hal fundamental yang belum aku tau tentang masalah ini?"
"Bagaimana orang lain menghadapi masalah ini?"
"Kenapa ada orang lain yang bisa sementara aku gak bisa?"
"Apa bedanya antara aku dan mereka?"
"Gimana hal-hal bekerja dalam situasiku sehingga menyebabkan masalah ini?"
"Apa hal-hal yang bisa aku intervensi yang kemungkinan mengubah keadaan?"
"Apakah solusi yang aku bayangkan memang satu-satunya solusi?"
"Apa aja hasil yang bisa aku harapkan kalau solusiku emang ga mendatangkan hasil yang kuharapkan?".
Tapi kalau kita udah berpikir, "Aku emang ga becus", "Emang nasibku gini", yaudah wasalam. Kamu baru saja membatasi nasib kamu sendiri.
Semua yang saya bicarakan ini pada dasarnya implementasi dari growth mindset.
Sepenting itu lho growth mindset.
Tahapan Dalam Belajar Skill Baru
Ketika kamu pertama kali belajar sesuatu, motivasi kamu meningkat. Rasanya skill baru ini tidak sesulit yang orang-orang bilang.
Ini adalah tahap "Hand holding honeymoon".
Setelah berjalan beberapa lama, kamu mulai menemukan masalah-masalah yang sulit dipecahkan. Muncul skenario-skenario yang ngga dijelasin dari text book atau tutorial.
Kamu berada pada "cliff of confusion". Di sini, confidence kamu mulai menurun.
Semakin kamu menggali ke dalam topik yang kamu pelajari, rupanya masalah yang kamu temukan semakin kompleks, sementara petunjuk jalan keluar semakin sedikit.
Di sini kamu mulai frustrasi, hilang arah, dan mungkin putus asa.
Inilah "desert of despair".
Kalau kamu cukup persisten untuk menemukan dukungan dan solusi yang kamu butuhkan, kamu akhirnya akan sampai pada tahap di mana kompetensi dan kepercayaan diri kamu meningkat lagi,
Kamu sudah jauh lebih pandai dari sebelumnya, confidence level kamu berada pada titik yang sehat.
Kamu berada pada tahap "upswing of awesome".
Gimana cara melalui semua itu?
Di awal, eksplor banyak pilihan sumber pembelajaran. Tujuannya untuk mencari pembelajaran yang kamu bisa komit sampe akhir.
Cari temen belajar. Gabung ke komunitas. Tujuannya supaya punya akuntablitas (lebih bertanggung jawab menyelesaikan pembelajaran) dan belajar dari orang lain.
Start small dan bangun kebiasaan belajar. Daripada belajar 1x sepekan, lebih baik belajar setiap hari meski sedikit demi sedikit.
Milikilah tujuan yang jelas dan bener-bener kamu inginkan. Kenapa kamu mau belajar ini? Apa yang ingin kamu capai? Mau jadi orang seperti apa kamu?
Pastikan sumber pembelajaran kamu bisa mengantarkan kamu sampai tujuan. Pelajari dengan kritis kurikulumnya. Cek kredibilitas dan portofolio sumber pembelajaran kamu.
Fokus. Selama belajar, mungkin kamu akan nemu hal-hal menarik lainnya. Kalau kamu masukin tanpa meregulasi diri, itu bisa jadi rabit hole yang membawa kamu semakin dalam, tapi semakin jauh dari jalan utama. Jadi sadari dan batasi sampai sedalam apa kamu mau mengikuti rabit hole itu.
Ikutin best practices. Cari gimana orang-orang di industri melakukan sesuatu dan ikutin aja dulu. Nanti ada masanya kamu bisa bikin cara kamu sendiri yang menurut kamu lebih baik, tapi itu bukan sekarang.
Sekian dan terima kasih.
Sumber gambar.
Hal yang Saya Sukai dari Belajar di Internet
Buku punya tempat khusus dalam hati saya. Tapi belajar di internet itu a whole different level.
Alur dalam buku sudah ditentukan oleh penulisnya, kita hanya tinggal mengikutinya. Bisa juga, sih, kita melompat-lompat membaca buku. Tapi secara umum universe substansi yang bisa kita konsumsi sudah didefinisikan.
Belajar di internet itu berbeda. Kalau kamu nemu satu sumber yang mind-blowing, kita bisa ditunjukin rabit hole yang menuju ke sumber lain. Lalu sumber lain itu menunjukkan rabit hole lain yang menuju ke sumber lain lagi. Terus aja begitu sampe pikiran kita rasanya mau meledak dengan inspirasi yang masuk bertubi-tubi!
Saya nulis ini dalam keadaan overwhelmed dengan ide yang saya telusuri dari internet. Berawal dari browsing sederhana, menemukan website yang gak ada obat, dibawa ke berbagai link yang bikin kaget ada yang sebagus itu, dari situ dibawa ke berbagai link lain yang bikin saya bilang "Wow!", sampe akhirnya memutuskan untuk break sebentar supaya bisa mencerna semua itu dan mengkalibrasi lagi pikiran saya sendiri.
I wish more people could enjoy this kind of excitement in learning!
Sebagai seseorang yang menikmati proses belajar, saya suka banget mencari dan mengonsumsi unconventional wisdom sebanyak yang saya inginkan.
Tapi, saya sadar bahwa kegiatan konsumsi pengetahuan saya gak sejalan dengan output yang saya hasilkan. Saya pikir dengan semakin banyak saya membaca, mengikuti rasa ingin tahu, mencerna pengetahuan menarik, secara otomatis saya akan memproduksi gagasan, tulisan, eksperimen, atau output lainnya. Tapi ternyata enggak gitu.
Saya jadi ngerasa banyak ilmu yang saya miliki gak bermanfaat. Seolah ilmu yang saya cari cuma sekadar untuk memuaskan intelektualitas saya. Pada taraf tertentu, kayaknya ini sah-sah aja. Tapi kalau kelamaan kayak gini, saya ngerasa ada yang salah.
Saya berefleksi, mungkinkah cara konsumsi pengetahuan saya salah? Mungkin saya sekadar mengeksplorasi namun tak memiliki tujuan, akhirnya menyebabkan cognitive overload.
Makanya saya mau coba tetapkan sebuah objektif belajar. Saya ingin menjadi ..., karena itu saya butuh ilmu bagaimana ... (rahasia).
Terus saya juga mau ngebiasain lagi share refleksi yang saya punya dari proses pembelajaran saya ke internet. Entah Tumblr, Instagram, atau X. Tulisan ini adalah salah satu contohnya.
Saya juga perlu ngurangin noise dari media sosial dengan ngurangin frekuensi pegang HP dan menggantinya dengan sesuatu yang lain, entah buku fisik, kindle, atau sekalian dengan laptop. Kalau pake laptop bawaannya pengen nulis atau ikut course.
Sama ada satu lagi yang saya pikirin. Mungkin udah saatnya saya punya blog serius, misalnya di Medium atau di Subsctack. Isinya structured knowledge dari ilmu yang saya akuisisi. Nanti kalau udah ada tulisannya saya share. Kalau sekarang kosong banget, gak ada value-nya sama sekali.
Bye for now!
Beyond Technical Skills
Baru-baru ini, World Economic Forum (WEF) merilis Future of Jobs Report 2030. Laporan ini mengungkapkan prediksi menarik: 92 juta pekerjaan akan hilang, tapi 170 juta pekerjaan baru bakal muncul!
92 juta pekerjaan yang bakal hilang ini kebanyakan pekerjaan administratif yang bakal digantikan otomatisasi. Misalnya kasir, penjaga tiket, bahkan akuntan sama auditor. Sementara 170 juta lowongan baru ini lebih ke arah teknologi dan energi terbarukan - kayak big data specialist, software engineers, sama UX designer (wohoo!).
McKinsey pun punya prediksi serupa: sampai 2030, 75-375 juta orang bakal perlu belajar skill baru dan ganti profesi. Sebenernya tren ini udah predictable sih, gak terlalu mengejutkan.
Tapi munculnya generative AI (gen AI) bikin saya was-was. Rasanya AI ini malah mempercepat prediksi yang udah ada. Awalnya saya skeptis, berpikir AI gak bakal bisa sepintar itu menggantikan manusia di bidang kreatif. Nyatanya? AI udah bisa bikin video, gambar, musik, tulisan - hal-hal yang kita pikir cuma bisa dilakukan manusia!
Di bidang saya sendiri, saya udah liat AI bisa bikin deliverables kayak sitemap dan wireframe. Tinggal nunggu waktu sampe AI bisa bikin desain web sama aplikasi yang high fidelity.
Yang bikin saya khawatir bukan soal bakal digantikan, tapi generasi saya dan generasi di bawah saya yang kayaknya belum sadar ada "pergeseran tektonik" gara-gara AI, khususnya gen AI.
Di era tech spring Indonesia (2012-2021), lowongan kerja banyak banget tapi yang qualified dikit. Sekarang dengan gen AI, gap antara industri sama pendidikan bakal makin melebar. Lowongan kerja bakal makin selektif, makin butuh skill tinggi, sementara talenta yang bener-bener siap cuma segelintir.
Contohnya, desainer yang cuma "jualan" kemampuan merancang desain bakal rentan digantikan AI yang bisa generate website dalam hitungan detik. Tapi desainer yang punya critical thinking, empati, berpikir sistematis, sama bisa bangun relasi - mereka bakal fokus ke aspek strategis yang belum bisa disentuh AI.
Skill-skill dasar ini penting, tapi gak semenawan bootcamp atau ebook yang janjiin gaji gede. Padahal skill foundational kayak critical thinking, problem solving, interpersonal skills, mental flexibility, systems thinking, self awareness, sama literasi teknologi itu yang bener-bener valuable - tak lekang waktu dan bisa dipake di berbagai industri.
Di era AI ini, kita gak bisa cuma jadi penonton. Kita harus jadi pemain. Belajar, adaptasi, sama terus-terusan upgrade skill. Bukan soal kalah atau menang sama AI, tapi bagaimana kita bisa naik level dengan menggunakan teknologi baru ini.
Stay curious, stay hungry!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sejak dua tahun terakhir, lowongan kerja emang berkurang drastis, setidaknya di bidang yang saya geluti.
Jujur saya juga gak tau gimana menghadapinya.
Sempat terpikir, apakah solusinya adalah berwirausaha?
Bisa jadi. Toh rasio entrepreneur per populasi kita masih sangat kurang. Tapi ini bukan solusi yang bisa bekerja buat semua orang. Gak semua orang punya "cocok" jadi entrepreneur. Lagipula, kalau lagi gak punya penghasilan (asumsikan banyak Gen Z dalam kondisi ini) terus ngambil risiko berwirausaha, kalau jatuh bisa malah membuat orang jatuh miskin.
Sempat terpikir juga, apakah solusinya diaspora? Masuk job market global?
Bisa jadi juga. Beberapa negara lagi menurun populasi masyarakat usia produktif dan butuh tenaga kerja dari luar. Tapi, asumsi saya, agak gak mungkin kalau membayangkan mayoritas angkatan kerja kita (dari sekitar 150 juta orang) pergi ke luar negeri. Mungkin mayoritas akan tetap stay di sini karena berbagai alasan.
Nah, terus, bagi yang gak jadi entrepreneur dan gak berdiaspora, apa yang bisa dilakukan?
Saya juga gak tau. Ini masalah besar dan sistemik.
Mau ga mau saya jadi ngeliat job market sebagai arena kompetisi, ketika sebelumnya tech spring membuat saya optimis bahwa opportunity itu selalu ada--asal orangnya mau dan mampu.
Sekarang mau dan mampu aja gak cukup. Harus stand out, punya keunikan, bisa "menjual diri". I'm not fully comfortable with it, but it is what it is.
Sekarang anak-anak freshgraduate/junior harus berkompetisi dengan employee yang sudah berpengalaman untuk suatu lowongan. It's real. Jadi penting banget untuk ngerti medan, kompetitor, strength pribadi, kebutuhan perusahaan, dll supaya bisa berstrategi.
I dislike this mindset, but for now let's embrace it, since we don't have many options.
Dengan kapasitas saya yang bukan siapa-siapa ini, sekarang saya cuma bisa membantu diri saya dan orang-orang di sekitar saya untuk jadi lebih unggul ketika masuk job market.
Kalau kamu adalah seseorang yang lagi struggle dapet kerjaan, inbox saya terbuka untuk diskusi. I genuinely wanna help. Share your struggle and explain what kind of help do you need.
Kenikmatan Dalam Beberes Rumah
Saya bersyukur bisa menemukan kenikmatan dan kebahagiaan dalam beberes rumah.
Ketika menjemur pakaian satu per satu dengan tempo lambat, sambil mendengarkan bunyi pepohonan yang tertiup angin, ada rasa nikmat yang sulit dijelaskan. Begitu juga saat menyikat sepatu bekas naik gunung dengan penuh perhatian, tanpa tekanan. Hanya fokus pada apa yang ada di depan mata. Rasanya begitu menenangkan.
Bisa jadi ini karena pekerjaan saya sehari-hari menuntut tempo cepat. Harus selalu memilah mana yang prioritas dan mengesampingkan hal-hal yang sepele. Maka, aktivitas beberes rumah, terutama di akhir pekan, menjadi momen untuk melakukan hal-hal sepele tanpa cemas atau merasa bersalah.
Namun, saya jadi bertanya-tanya, jika suatu saat saya sepenuhnya menjadi bapak rumah tangga, apakah saya masih bisa merasakan kenikmatan yang sama?
Asumsi saya, mungkin saja. Selama saya mampu melihat rutinitas itu dari sudut pandang yang tepat, yang mungkin berbeda dari sudut pandang saya saat ini.
Jujur saja, saya ingin mencobanya, jika Allah memberikan kesempatan.
Assalamu 'alaykum, kak. Tolong bagi tips gmn caranya bisa menumbuhkan dan memelihara minat baca, di saat pentingnya membaca berbagai buku baru disadari setelah dewasa. Bukan membiasakan membaca buku sejak kecil. Terimakasih
Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Membacalah untuk menemukan diri sendiri. Membaca buku itu seperti proses ekskavasi. Kita menggali untuk menemukan sesuatu yang terkubur. Ketika kamu tertarik dengan sebuah buku, ia memberi petunjuk tentang siapa diri kamu dan bisa jadi seperti apa kamu. Ikuti apa yang secara alamiah menarik bagimu. Tidak perlu merasa aneh jika kamu tidak tertarik dengan buku yang populer atau yang direkomendasikan orang lain.
Membacalah dengan cara kamu sendiri. Tidak ada aturan dalam membaca. Kamu boleh membaca dengan lambat, mengulang-ulang suatu bab, melewatkan beberapa bagian, atau bahkan meninggalkan suatu buku di tengah jalan kalau buku itu tidak berbicara denganmu. Membaca seharusnya menjadi dialog pikiran yang bisa kamu nikmati, menantang keyakinanmu, mengguncang pandanganmu, atau membuatmu bertanya tentang segalanya.
Membacalah untuk melawan kedangkalan. Di era teknologi yang serba instan, di mana orang-orang puas dengan kedangkalan, membaca adalah bentuk perlawanan. Membaca mengajarkan kita untuk berpikir mendalam, merasa dengan tajam, dan melihat dunia dengan lebih utuh. Ambil kendali atas pikiran dan kontrol penggunaan media sosial. Sadari bahwa meskipun tidak seadiktif scolling media sosial, membaca adalah cara untuk memastikan pikiranmu tetap hidup, terus tumbuh, tidak diam membeku.
Siapa sih yang suka dikritik?
Ngga ada.
Manusia, pada dasarnya, cenderung menghindari kritik. Seberapa terbuka pun seseorang, saat menerima kritik, tubuhnya akan bereaksi secara alami: tegang, kontak mata jadi canggung, kadang ngefreeze karena bingung bagaimana harus merespons.
Karena itu, penting bagi kita untuk belajar menyampaikan kritik dengan cara yang baik.
Mungkin kamu pernah dengar tentang teknik sandwich. Dalam teknik ini, kritik disampaikan dengan cara yang “dibungkus” di antara dua lapisan apresiasi. Mulanya kita memberikan pujian, lalu menyisipkan kritik, dan menutupnya lagi dengan apresiasi.
Awalnya, saya juga skeptis dengan teknik ini. Saya lebih suka bicara blak-blakan saat memberikan kritik. Saya pikir teknik sandwich ini omong kosong motivator aja. Tapi ternyata, saya cuma kekurangan contoh dan referensi.
Akhirnya, saya bertemu seseorang yang pandai dalam menggunakan teknik sandwich ini. Beliau benar-benar membuka perspektif saya bahwa teknik ini bisa tetap relevan, sekalipun saat kita bicara dengan orang yang tahu teknik ini.
Coba bandingkan dua pernyataan berikut:
A. "Desainnya bagus, tapi terlalu kompleks dan banyak komponen custom, sehingga waktu pengerjaannya akan lebih lama. Mungkin bisa disederhanakan untuk memudahkan implementasinya. Tapi konsepnya bagus, kok."
B. "Desain ini terlihat modern dan punya sentuhan yang segar, terutama di hero section-nya. Kalau mempertimbangkan manpower dan waktu yang ada, menurut saya kita bisa memprioritaskan elemen-elemen yang paling penting dulu untuk tahap awal, lalu sisanya bisa kita rencanakan untuk iterasi berikutnya. Kalau ini terealisasi, saya yakin hasil akhirnya akan jadi sesuatu yang luar biasa."
Apa perbedaan keduanya?
Pernyataan kedua memberikan pujian yang lebih spesifik. Ketika kita bisa memberikan apresiasi yang spesifik, orang lain akan merasa dihargai secara tulus, bukan sekadar formalitas.
Selain itu, pernyataan kedua memosisikan kita di sisi yang sama dengan penerima kritik. Alih-alih menjadi pihak yang berseberangan, kita menunjukkan bahwa kita punya kepentingan yang sama dan menawarkan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi bersama.
Kata "tapi" juga sebaiknya dihindari karena bisa menegasikan pujian yang sudah disampaikan.
Pernyataan kedua ditutup dengan optimisme yang bisa menguatkan motivasi lawan bicara.
Pendekatan ini juga efektif untuk memberikan kritik kepada anak-anak.
Anak-anak sedang dalam fase belajar dan pasti sering membuat kesalahan. Agar mereka tetap semangat belajar dari kesalahan tanpa merasa terhakimi, kita bisa menggunakan teknik sandwich.
Contoh:
A. "Wah, kamu hebat udah mau beresin kamar. Tapi masih ada mainan-mainan yang ketinggalan di sini. Jangan lupa diberesin juga, ya. Makasih, I love you."
B. "Wah, kamarnya sekarang sudah terasa lebih rapi dan nyaman banget, apalagi kasurnya. Tinggal sedikit lagi selesai, nih. Kalau mainan-mainan ini juga dibereskan, kamar kamu bakal jadi super nyaman. Setelah itu, kita sarapan bareng, ya. Makasih, I love you."
Kedua pernyataan ini sama-sama bagus, tapi pernyataan kedua terasa lebih kuat karena:
Memberikan pujian yang spesifik, sehingga terasa lebih tulus.
Mengarahkan apresiasi pada hasil dari usaha anak, bukan hanya tindakannya. Hal ini membantu anak belajar mencintai proses usaha mereka.
Menghindari kata “tapi” yang sering kali membuat pujian terasa “batal” oleh kritik.
Teknik sandwich bisa terasa cheesy kalau kita menggunakannya sebagai template.
Tapi, kalau kita benar-benar mengadopsinya sebagai cara pandang, teknik ini akan membentuk pola pikir dan komunikasi kita, sehingga kritik dapat disampaikan dengan lebih efektif dan membangun.
Sekian dan terima kasih.
Aku berharap pekan ini aku bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalahku.
Ya Allah yang Maha Hidup, yang Maha Mandiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau tinggalkan aku meski sekejap mata.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Day 12.219
Hari ini hampir habis.
Udah nambah bekal apa?
Besok mau nambah bekal apa?
Rencanakan. Jangan autopilot mulu.
Day 12,218. This world is so distracting that I often forget that this isn't real life. It's just a placement test! Come on, be more mindful of your time.