Berhentilah Belajar Agama
"Berbeda antara orang yang "baik" beragama dengan orang yang pemahaman agamanya "tinggi"."
Kalimat itu mucul dari Buya Yahya. Sebuah konfirmasi dari ahli agama tentang sebuah kerancuan beragama di era saat ini. Beliau mendefinisikan bahwa orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi--yang bisa menjelaskan banyak hal tentang agama, biasa menjadi penceramah misalnya, adalah belum tentu memiliki pengamalan agama yang baik.
Sedangkan orang yang baik agamanya adalah orang yang mempraktikkan amalan agama dengan tekun, meskipun tidak didasari dengan pemahaman yang terlalu dalam.
Dua jenis manusia ini kadang bisa menjadi dua individu yang berlawanan sebab seringkali motivasi beragama keduanya berbeda. Orang yang "baik agamanya" kadang berpikiran lebih konservatif tentang agama, bahwa itu adalah cara hidup yang praktikal, sedang orang yang berilmu tinggi kadang-kadang memandang sisi agama yang lebih abstrak dan teoritik; agama adalah objek belajar sebagai cara memandang kehidupan.
Buya Yahya tidak sedang menyimpulkan mana yang lebih baik, karena konteksnya adalah sedang menjelaskan tentang makna sekufu dalam pernikahan.
Orang yang berilmu agama "tinggi" jika bertemu dengan orang yang agamanya "baik" bisa jadi mempermasalahkan praktik-praktik yang tidak disandarkan pada pengetahuan yang tepat. Sebaliknya, orang yang baik agamanya bisa jadi kecewa dengan yang memiliki ilmu tinggi jika, misal, tidak rajin shalat, tidak disiplin membaca Al-Quran, tidak rutin berdzikir, dan lain-lain.
Keduanya salah, tapi yang terakhir akan jauh lebih dicela. Bagaimana mungkin berilmu tinggi tapi tidak beramal?
Mungkin orang awam akan kaget jika mendengar fakta bahwa di antara orang yang belajar agama secara mendalam lebih banyak yang "tidak baik" agamanya dibanding yang "baik". Ironi yang sudah cukup membudaya.
Di lingkungan Al-Azhar saja misalnya, sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, kita bisa sangat mudah mendapati mahasiswa Indonesia yang tidak shalat shubuh apalagi tahajjud, tidak pernah mucul di masjid, terlambat shalat Jum'at, tidak pernah membaca Al-Quran, jarang membaca dzikir harian, dan lain-lain.
Mereka pasti tahu apa itu lima hukum taklifi: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mereka tidak asing dengan kaidah-kaidah ushul fiqh, definisi-definisi istilah dalam ibadah, bahkan sumber-sumber dalil dan wajah istidlalnya. Mereka juga sudah biasa berbahasa Arab memahami secara umum teks Al-Quran, bahkan kitab-kitab tafsir, syarah-syarah hadits dan literatur para ulama'. Tapi itu dimensi teoritis. Secara fakta, praktik beragama adalah dimensi yang lain lagi.
Ini tentunya ironi. Sebuah kesalahan fatal yang terjadi di lingkungan para pembelajar agama.
ุชุนูููู
ููุง ู
ุง ุดุฆุชู
ุ ููู ูููุนูู
ุงููู ุจุงูุนูู
ุญุชู ุชุนู
ููุง.
Pesan salah seorang sahabat bernama Muadz bin Jabal begini, "Belajarlah sesuka hatimu, tapi ingat tidak ada yang menjadi bermanfaat kecuali yang engkau amalkan,"
Pesan ini seharusnya menjadi bahan renungan untuk pembelajar agama di era modern ini. Kita hidup di zaman di mana tuntutan tujuan belajar menjadi sangat duniawi: gelar, pekerjaan, atau jabatan. Mungkin karena itu entitas "ahli agama" tanpa "baik beragama" ini marak bermunculan di mana-mana.
Tentu saja pesan tersebut bukan hanya untuk pembelajar di kampus agama, faktanya diskusi di masyarakat umum juga sama, agama sebatas bahan perdebatan, praktiknya masih diabaikan.
Betapa sering masyarakat--seperti baru-baru ini, membahas hukum sesuatu tapi pada praktiknya tidak ada budaya yang terasa berubah.
Musik haram, tapi yang mendengarkan tetap mendengarkan. Zina haram tapi yang prostitusi masih tetap prostitusi. Khamr haram, tapi miras masih dilegalkan dan masih saja dinormalkan. Korupsi haram, tapi koruptor masih saja langganan diberitakan.
Di saat fenomena tahfizh Al-Quran di negeri ini mulai membanggakan, tokoh-tokoh agama populer diidolakan, prestasi sekolah-sekolah Islam mulai meninggi, kampus-kampus Islam mulai digemari, kita patut curiga, jangan-jangan Indonesia hanya akan menjadi lebih "faham" agama tapi tidak lebih "baik" agamanya.
Seandainya berilmu tanpa amal itu baik maka Allah tidak akan mencela bangsa Yahudi:
ุฃูุชูุฃูู
ูุฑูููู ุงููููุงุณู ุจูุงููุจูุฑููย ููุชููุณููููู ุฃููููุณูููู
ู ููุฃูููุชูู
ู ุชูุชูููููู ุงููููุชูุงุจู ุฃููููุง ุชูุนูููููููู
"Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat baik namun kalian lupa pada diri kalian sendiri sedangkan kalian adalah kaum yang membaca Al-Kitab? Tidakkah kalian berpikir?"
Rasulullah juga mengajarkan berdoa meminta perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat:
ุงูููููู
ูู ุฅูููู ุฃุนูุฐู ุจููู ู
ูู ุงูุฃุฑุจุนู: ู
ูู ุนููู
ู ูุง ููููุนูุ ูู
ูู ูููุจู ูุง ูุฎุดูุนูุ ูู
ูู ูููุณู ูุง ุชูุดุจุนูุ ูู
ูู ุฏูุนุงุกู ูุง ููุณู
ูุนู
"Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari empat hal: Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak kenyang, dan doa yang tidak didengar,"
Sufyan Ats-Tsauri, salah seorang tabiin yang masyhur juga memiliki pesan yang jelas sekali:
ุงุฐูุจ ูุงุทูุจ ุงูุนูู
... ูุฅุฐุง ูุชุจุช ุนุดุฑุฉ ุฃุญุงุฏูุซุ ูุงูุธุฑ ูู ูู ููุณู ุฒูุงุฏุฉ ูุงุจุชุบูููุ ูุฅูุง ููุง ุชุชุนูููู
"Pergilah menuntut ilmu. Jika engkau dapatkan sepuluh hadits, lihatlah; jika ada perubahan pada dirimu lanjutkan, jika tidak maka berhentilah belajar,"
Mari cek diri kita, berhenti belajar, dan mulailah beramal!
Compound Jannah, 27 Mei 2024. Menjalani ujian hidup menjadi pelajar di Al-Azhar