Aku pernah bercerita kepadamu tentang firasat.
Tentang satu bab dalam buku Rectoverso yang kusampaikan secara sederhana untukmu:
"Ada satu bab, ceritanya ada cewek yang gabung klub namanya 'Firasat'. Di situ ngumpul orang-orang dengan kelebihan firasat yang selalu tepat. Nah si cewek ini, dia tau kalo akan jatuh cinta sama si cowok ketua klub Firasat itu. Dia tau kalo mereka akan mendekat dan terikat. Sampe si cewek ini punya firasat kalo si cowok akan pergi dan nggak akan kembali, dia udah berusaha mencegah si cowok untuk pergi, tapi.. sayangnya.. si cowok memang pergi dan gak kembali lagi"
Kamu mengangguk kecil, berusaha memahami cerita yang kusampaikan. Lalu kunyanyikan lagunya untukmu, sehalus mungkin, berusaha menahan tangis.
โKenapa lagunya itu?โ, tanyamu
"Firasat itu. Dia punya firasat orang yang dicintainya akan meninggalkan dia, sekalipun ia sudah berusaha untuk mencegah. Dan firasatnya terjadi. Aku tidak punya hati membayangkannya kepada kamu. Semoga tidak pernah ada firasat jelekku ke kamu. Aku ingin kamu cepat pulang"
"Aku bakal pulang kok, tunggu aja, ya?"
Lalu aku melihatmu terlelap di ujung sana, yang terpisah 2000+ km dariku.ย
Garis hidup kita bertemu, aku tau aku akan jatuh cinta. Sejak pertama kali aku memperhatikan kamu. Aku tau kita akan mendekat.ย Aku tau jika aku ingin berhenti, aku sudah terlambat.
Ya, aku juga punya firasat yang sama persis, untukmu.
Darling, unfortunately, i know. I know everything.
Kamu boleh percaya boleh tidak, tapi firasatku memberi tahuku semuanya. Oh, kamu tidak suka? Akupun. Aku juga tidak suka. Aku benci aku tau semuanya dari awal. Bukankah lebih baik aku jadi orang yang tidak tau apa apa saja? Bukankah lebih baik aku menjalani hidup tanpa tahu aku akan ditinggalkan?
Aku harap aku tidak tau bahwa ada yang salah sejak kali pertama kamu tunjukkan foto itu. Aku harap aku tidak merasa aneh saat melihatnya. Aku harap perutku tidak melilit saat memperhatikannya. Tapi sayangnya, aku tau. Aku bisa merasakannya.
Aku harap aku tidak tau bahwa kamu akan meninggalkanku saat kamu berkata "Aku akhir tahun mau pergi dulu ya, ke tempat itu". Aku harap aku tidak tiba tiba merasa jiwaku seperti jatuh. Aku harap aku tidak perlu merasa hatiku menciut. Entah apa maksudnya, apa artinya. Tapi aku bisa merasakan firasat yang perlahan menarik tanganku, menyeretku ke dalam gelap kelabu. Kenapa aku begitu takut? Kenapa aku tau aku akan ditinggalkan tepat saat kamu pergi?
Aku sudah berulang kali menghadapi kepergian. Setelah kamu pulang, aku berharap tak lagi aku menemui kata selamat tinggal.ย Namun tak kusangka, firasat itu muncul denganmu juga.
Aku berlari, mencari jawaban. Melangkah tanpa henti. Mencoba mengerti firasat sendiri. Apa ini? Apakah kamu benar-benar akan meninggalkanku? Pergi yang seperti apa? Meninggalkan dalam bentuk bagaimana? Aku yakin, kutau persis ini adalah firasat kepergian.
Aku berusaha menyangkalnya. Berulang kali aku berusaha tidak percaya. Semakin kukejar tanda tanya, semakin banyak tanda tanya lainnya. Aku menyerah. Aku berharap firasatku salah. Apa ada kaitannya dengan firasat yang sudah lalu? Namun kenapa, semakin dekat dengan kepergianmu, semakin kuat hatiku memberontak?
"Dengan cuaca seperti ini, rawan sekali longsor", kata seorang rekan kantor, menceritakan kondisi tempat tujuanmu. Apakah ini penyebabnya? Apakah kamu akan pergi dengan cara yang ini? Aku kembali berlari, kuceritakan keresahanku pada lautan. Tidak. Hatiku yakin, kamu akan pulang. Berarti memang bukan ini caramu pergi.
Berarti memang.. hanya hatimu yang tidak akan kembali.
Sementara aku tidak bernyali untuk mengatakannya, untuk memohonmu supaya jangan pergi. Untuk menceritakan firasatku, sebelum waktu membawamu menjauh.
Aku hanya bisa terdiam, membiarkanmu tetap pergi. Tak henti aku berdoa supaya firasatku salah.
Demi Tuhan, kuharap firasatku salah. Atau setidaknya ada yang salah, baik itu orangnya, waktunya, atau keputusanmu. Aku ingin sekali ada yang salah. Hari demi hari kujalani dengan hati yang tertambat pada dalamnya samudera luas, dengan firasat yang melemparkanku pada jurang terjauh, dengan harapan akan firasatku yang meleset.
Sayang, semua tepat dan benar.
Tepat sesuai yang ada di pikiranku, tepat seperti firasat yang menghampiri sejak lama sekali. Aku yang ditinggalkan, menenangkan hati sendiri, yang sudah jadi debu.
Firasat ini, ternyata artinya rindu dan tanda bahaya untukku.
Kamu memang kembali, tapi tidak dengan hatimu.
Aku pun sadari, kau takkan kembali lagi..