Terlalu sering telinga ini dijejali oleh petuah suci, hingga perlahan kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan bobotnya.
Ironi paling menampar dari sebuah kalimat agama kerap kali tidak terletak pada siapa yang menyampaikannya, melainkan pada betapa kebasnya diri kita saat menerimanya.
Kala dunia terasa sedang runtuh dan seseorang menepuk pundak kita seraya membisikkan ayat penenang—bahwa Tuhan tidak akan pernah menitipkan badai yang tak sanggup dilalui hamba-Nya—kita hanya mengangguk pelan. Namun jauh di dalam dada, pengingat sakral itu lewat begitu saja. Ia menguap sekadar menjadi angin lalu, tak ubahnya rentetan formalitas basa-basi penawar duka dari seorang kawan yang tak tahu harus berkata apa.
Kita hafal betul ayat-ayat penenang itu di luar kepala. Kita bahkan terlampau fasih merapalnya saat mencoba menambal luka orang lain. Namun giliran diri sendiri yang dipaksa babak belur oleh realita, kita mendadak tuli. Kita lebih memilih untuk menaruh iman pada rasa cemas yang fana, bertekuk lutut pada isi kepala yang bising di tengah malam, dan secara tidak langsung memperlakukan janji Sang Pencipta layaknya kalimat klise yang tidak bisa menyelesaikan masalah.
Barangkali, itulah bentuk kesombongan manusia yang paling senyap. Ketika kita merasa kerumitan masalah dan rasa sakit kita jauh lebih besar daripada kebesaran Dzat yang menciptakan semesta itu sendiri. Kita mendengar ayatnya, kita menganggukkan kepala, namun ironisnya—hati kita menolak untuk sungguh-sungguh berserah.
For the ear may catch the holiest of whispers, yet the restless mind chooseth to treat divine solace as but a passing breeze.
Jogjakarta. neia.












