membandingkan perabot dunia,
menghitung kekayaan seakan hisab sudah tiba?
yang jatuh dalam istidraj itu.
tidak semua mengukur barakah
dari seberapa mahal jam di pergelangan,
seberapa luas hamparan dunia di bawah kaki.
barangkali ada yang diam-diam
menghitung jumlah dinar di dompetmu,
mengira izzah hanya soal angka.
jika engkau bertemu wajah sendiri
tanpa nur yang kau kejar-kejar.
Kau takut menjadi ghurur di hadapan dunia.
Gedung-gedung pencakar langit menelan jejakmu,
dan apapun yang kau panjatkan—semakin membuat langkahmu berat.
Gedung-gedung pencakar langit menelan cahaya,
dan kau masih menyalakan gemerlap dunia,
padahal hidayah itu tak pernah lekang di hatimu.
Mereka tak tahu itu dan hanya ingin terlibat saja.
Di antara manusia yang sibuk menumpuk dunia,
yang menjadikan harga diri setara harga barang,
yang sibuk bermegah dalam fana,
mari kita tetap menjadi yang sederhana.
Sebab langit tak akan menilai tinggi rendahmu
dari apa yang kau kenakan.
Sebab bumi tak akan terguncang
hanya karena kau memilih berjalan rendah hati.
Karena yang paling berharga bukan dirham di tangan,
tapi taqwa yang menjaga akhlakmu.
Karena yang paling mewah bukan mahkota di kepala
tapi hati yang lapang dalam qana’ah.