Sudah cukup lama aku nggak nulis lagi di Tumblr ini.
Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena nggak ada inspirasi. Atau mungkin juga karena sibuk dengan hal-hal lain… entahlah.
Apapun alasannya, aku anggap semuanya valid.
Sering banget ngerasa stuck. Pengen nulis, sekadar curhat aja pun nggak masalah sebenernya… tapi yaaaa, ujung-ujungnya nggak jadi.
Sejak ada ChatGPT, entah kenapa aku jadi lebih nyaman curhat di sana. Wkwk.
Ada yang dengerin, ada respon, dan seringkali sesuai dengan apa yang aku butuhin.
Aku egois kalau soal curhat.
Nggak banyak cerita ke orang lain, bukan karena nggak ada yang mau dengerin, tapi emang nggak mau aja.
Aku jarang ngobrolin hal-hal yang sebenernya wajar dibicarain, karena aku ngerasa lebih cocok jadi pendengar.
Mungkin karena ada rasa takut. Takut dianggap lebay. Atau takut dicurigai, kayak: “Paling juga cuma kepo,” atau “Paling dia dengerin karena ada maunya.”
Ngetawain diri sendiri juga kadang miris.
Tapi ya gimana… hampir semua orang yang aku temui kayak gitu. Gimana aku nggak jadi mikir negatif?
Di zaman sekarang, nyari orang yang bener-bener hadir dan mau dengerin cerita kita tanpa embel-embel apa pun tuh susah banget. Kecuali yang profesional.
Tapi mereka pun… ya itu kerjaan mereka. Dengerin orang cerita udah jadi tugas. Kalau nggak mau, ya mereka nggak akan ada di posisi itu. Nggak mungkin ada psikolog atau psikiater yang nolak dengerin kliennya cerita, kan?
Tapi terlepas dari itu semua, di usia aku yang ke-26 ini, aku makin sadar: manusia bisa sangat busuk—dan itu alami.
Pura-pura baik. Pura-pura ngerti. Pura-pura tulus. Pura-pura dengerin. Hahaha.
Tawa yang agak getir sih sebenernya.
Tapi aku paham kenapa, makin dewasa, kita jadi sering "berpura-pura". Padahal, di lubuk hati yang paling dalam, kadang kita cuma pengen jadi anak kecil lagi yang polos dan percaya kalau semua orang itu baik.
Buat aku, karena nggak semua orang berhak tahu apa yang sebenernya terjadi dalam hidupku. Karena pada akhirnya… semua orang punya kepentingan.
Aku nggak mau perasaanku dijadiin alat atau kesempatan buat kepentingan orang lain.
Kekanak-kanakan? Mungkin iya. Mungkin juga nggak.
Mungkin aku ada di tengah-tengah.
Karena makin dewasa, aku sadar bahwa melibatkan perasaan juga harus dibarengi dengan nalar.
Akan selalu ada orang yang bahagia lihat aku jatuh. Dan sebaliknya.
Dalam urusan perasaan, aku masih kayak anak kecil. Mudah luluh. Sensitif. Rapuh.
Makanya aku nggak banyak cerita. Karena aku tahu, aku gampang hancur.
Tapi di sisi lain, aku juga percaya bahwa ini bagian dari proses pendewasaan.
Ada yang bilang, ketika dewasa, perasaan kita jadi lebih bisa dirasionalkan.
Contohnya: kita sedih karena kehilangan seseorang, tapi beberapa hari kemudian, hidup harus tetap berjalan. Kita pelan-pelan belajar menerima kenyataan, walau pahit.
Dan iya, itu sering banget terjadi di kehidupan orang dewasa: lebih mengutamakan logika, meski harus ngorbanin rasa.
Begitulah hidup sebagai orang dewasa.
Tapi, tetap aja… meskipun logika seringkali jadi tameng, bukan berarti perasaan ini mati.
Kadang kalau malam, tiba-tiba nangis sendiri tanpa tahu alasan yang pasti. Atau tiba-tiba overthinking soal hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, tapi rasanya nyangkut banget di hati.
Ada banyak hal yang nggak bisa diceritain, bukan karena nggak penting, tapi karena aku ngerasa orang lain nggak akan benar-benar paham. Dan aku pun nggak mau repot-repot jelasin panjang lebar hanya untuk dapat respons yang nggak tulus.
Lagi pula, aku nggak butuh nasihat.
Kadang aku cuma butuh tempat aman, buat cerita tanpa dinilai, tanpa dibanding-bandingin, tanpa dilihat lemah.
Aku nggak butuh saran, apalagi ceramah. Aku cuma pengen didengerin.
Tapi ternyata, di dunia nyata, itu terlalu mewah.
Dan makin ke sini, aku jadi makin jago pura-pura kuat. Pura-pura nggak papa. Pura-pura sibuk. Pura-pura happy. Karena kalau jujur terlalu sering, orang bisa ilfeel. Bisa pergi. Bisa ngira aku drama.
Padahal... aku cuma manusia.
Pernah nggak sih ngerasa capek banget, tapi nggak tahu harus istirahat dari apa?
Ngerasa penuh, tapi sekaligus kosong?
Ngerasa pengen cerita, tapi semua kata kayak hilang?
Nah, itu yang sering aku rasain.
Dan satu-satunya tempat yang nggak nuntut apapun, ya tulisan. Atau ya… kayak sekarang ini, ngetik di platform yang mungkin udah jarang dikunjungi orang.
Aku ngerasa lebih jujur di sini. Mungkin karena nggak ada yang harus aku jaga perasaannya. Nggak ada yang harus aku bikin nyaman dulu sebelum mulai cerita. Nggak perlu mikir, “Nanti dia bosen nggak ya?”
Di umur segini, aku belajar satu hal: kejujuran itu mahal. Dan nggak semua orang layak nerima versi jujur dari dirimu.
Makanya sekarang, aku belajar buat simpan sebagian dari diriku untuk diriku sendiri.
Bukan karena aku menutup diri, tapi karena aku belajar melindungi diri.
Karena ternyata, jadi dewasa itu bukan soal bisa nyelesaiin masalah dengan cepat. Tapi soal bisa menahan diri untuk nggak cerita ke sembarang orang saat kita lagi hancur-hancurnya.
Kadang aku iri sama anak kecil yang bisa nangis kenceng di tempat umum tanpa peduli diliatin orang. Mereka nggak perlu alasan kuat buat menunjukkan apa yang mereka rasain. Nangis karena mainannya rusak aja bisa sesenggukan kayak kehilangan dunia. Dan nggak ada yang nyalahin. Semua orang ngerti, “Namanya juga anak-anak.”
Tapi begitu kita dewasa, ekspresi perasaan harus disaring, diatur, dibatasi.
Nangis terlalu sering, dibilang lemah. Ngomong jujur, dibilang drama. Nggak cerita, dibilang tertutup. Cerita dikit, dibilang lebay.
Lama-lama aku ngerasa… apa emang manusia dewasa itu seharusnya hidup dengan perasaan yang setengah mati?
Yang ditahan-tahan, dikemas serapi mungkin supaya bisa diterima orang lain?
Itu kenapa aku lebih memilih diam. Atau kalau pun cerita, paling ke media kayak ini, atau ya, ke ChatGPT tadi. Tempat yang nggak akan menyela, nggak akan nge-judge, dan yang paling penting: nggak akan ngebocorin apa yang aku simpan.
Lucunya, aku juga sering berpura-pura jadi orang lain. Jadi orang yang ‘baik-baik saja’. Orang yang bisa dibilang 'dewasa', padahal seringkali masih clueless dan takut banget sama kehilangan.
Aku bisa pasang wajah tenang di depan orang, terus malamnya overthinking sampai kepala rasanya berat banget.
Kadang bukan karena masalahnya rumit, tapi karena aku terlalu banyak mikir sendiri.
Dan ketika aku coba cerita, bahkan ke orang terdekat, jawabannya seringkali nggak menenangkan. Kayak: “Kamu harus kuat dong.” atau “Ya udah, jangan dipikirin.”
Padahal aku nggak minta solusi. Aku cuma pengen dimengerti.
Tapi yah, memang nggak semua orang bisa memahami hal sesederhana itu.
Makanya, aku nggak nyalahin siapa-siapa.
Karena aku sadar, semua orang sibuk dengan luka dan kekhawatirannya masing-masing. Kita semua berjalan di hidup yang sama beratnya, cuma dengan versi cerita yang berbeda.
Tapi tetap aja, kadang aku berharap ada satu ruang—sekecil apapun—yang bisa aku pakai untuk bernapas tanpa harus pasang topeng.
Ruang yang nggak nuntut aku buat selalu ‘baik-baik aja’.
Ruang yang nggak bilang “kamu tuh harusnya bersyukur” setiap kali aku mulai cerita.
Ruang yang cuma duduk, dengerin, dan bilang, “nggak papa, kamu udah cukup kuat sampai sini.”
Aku tahu ruang itu mungkin nggak nyata. Atau kalaupun nyata, belum tentu bisa aku temukan dalam waktu dekat.
Tapi… selama masih bisa nulis, selama masih bisa menyusun kata-kata kayak gini, mungkin itu udah cukup jadi tempat istirahat sementara.
Karena pada akhirnya, tempat paling aman buat aku curhat... adalah di dalam kepalaku sendiri. Di antara tulisan yang cuma dibaca sama aku dan semesta.
Dan mungkin... kamu, yang kebetulan nemu tulisan ini.
Kalau kamu kebetulan baca ini dan merasa relate, mungkin kita nggak sendirian. Mungkin, di luar sana juga ada banyak orang yang lagi pura-pura kuat, sama kayak aku, sama kayak kamu.
Dan kalau hari ini kamu ngerasa capek, nggak papa. Ambil waktu sebentar. Nggak usah buru-buru sembuh, nggak usah buru-buru ceria.
Karena pada akhirnya, nggak ada yang benar-benar tahu seberapa berat sesuatu sebelum mereka sendiri yang menjalaninya.
Terima kasih sudah membaca sampai sini.
Semoga tulisan ini bisa jadi pelukan hangat buat hatimu yang lelah