Apakah Benar Kita tidak Pernah Benar-benar Sembuh?
Kita sering diajari bahwa luka punya akhir, bahwa suatu hari nanti, semuanya akan pulih, kembali seperti semula. Tapi mungkin yang tak pernah benar-benar kita akui adalah tidak semua yang retak bisa utuh lagi dengan bentuk yang sama. Ada bagian dari diri yang tetap menyimpan bekas, seperti dinding yang pernah diguncang gempa, masih berdiri, tapi tak lagi persis seperti dulu. Dan anehnya, kita tetap hidup di dalamnya, belajar menata ulang ruang, seolah-olah itu sudah cukup untuk disebut sembuh.
Barangkali, sembuh bukan tentang menghapus rasa sakit, melainkan tentang berdamai dengan kehadirannya. Tentang bagaimana kita tetap bisa tertawa di sela ingatan yang sesekali menyengat, atau tetap melangkah meski ada bagian kecil yang diam-diam masih tertinggal di masa lalu. Kita menjadi ahli dalam menyamarkan luka bukan untuk membohongi orang lain, tapi agar kita sendiri bisa terus berjalan tanpa harus berhenti di setiap rasa yang belum selesai.
Jadi, apakah benar kita tak pernah benar-benar sembuh? Mungkin iya. Tapi itu bukan kegagalan. Itu hanya cara lain dari menjadi manusia—rapuh, tapi bertahan. Kita tidak kembali utuh seperti dulu, melainkan tumbuh dengan cara yang berbeda: membawa luka sebagai bagian dari cerita, bukan sebagai akhir dari segalanya. Dan mungkin, di situlah letak keindahannya, bahwa meski tak sepenuhnya pulih, kita tetap memilih untuk hidup, lagi dan lagi.
Written by Aftansa























