Ketika pikiran penuh dengan sumpah serapah didalamnya. Aku tetap melukis senyum di wajah ini seakan tak perduli dengan bisingnya.
Yaaa…Aku lihai dalam hal itu.
Kalimat2 buruk itu, aku mencoba tak mendengar. Tak ingin perduli dengan caci maki dan rasa sakit setelahnya.
Kataku kala itu “biarkan saja ya, barangkali inilah seninya”.
Jiwaku selalu berupaya menyembuhkan bagian-bagian lukanya sendiri, aku sangat berterima kasih dan aku merayakan setiap bagian yang baru tumbuh.
Aku tau betul tidak lah mudah untuk proses ini, namun bagian terbaiknya, aku kembali terlahir hanya untuk menari dibawah hujan, melihat matahari terbit dan terbenam, berjalan di tepi pantai dan bersenandung karna perasaan bahagia.
Lalu aku kembali bertahan, karna sadar besok masih ada satu hari lagi.
Written by Aftansa















