Sebaris Hikmah Sepulang Jalan Pagi Hari Ini, 7/6/26
Seperti biasa, selepas sholat subuh aku dan kakak perempuanku jalan pagi hingga pukul 06.30 pagi. Biasanya kami pulang ke rumah melewati Jl. Tugu, pagi ini entah kenapa aku mengajaknya pulang melewati Jl. Setia.
Baru 100 meter kami berjalan memasuki Jl. Setia, aku terpekik. berhenti, memegang kencang lengan kakakku, gemetar. Kakakku mengikuti arah pandanganku ke dalam selokan di sebelah kiri kami, tergeletak mayat kucing dewasa, tubuhnya kaku, ada bekas darah mengalir dari kepalanya, warna bulunya mengingatkan kami dengan warna bulu bogel, kucing tertua di rumah kami.
Qodarullah wa maa sya'a fa'al.
Sedetik kemudian, aku segera menyadarkan diri, menoleh kanan kiri, nihil, jalanan masih sepi, ini ahad pagi.
"Gue ke depan ya, mungkin ada tukang ojek yang bisa bantu buat kuburin"
"Atau ke alfamart sana, cari tukang parkir?"
"Tukang ojek aja di depan jalan, kayanya tadi ada" kakakku memberi jawaban.
Aku berjalan setengah berlari ke depan jalan, biidznillah menemukan seorang tukang ojek, dan alhamdulillah beliau mau membantu kami mengubur mayat kucing itu di dekat rumahnya dengan upah tertentu. Masya Allah, sungguh pertolongan Allah datang bersama dengan kesulitan.
Lalu kami berjalan kembali menuju rumah, keduanya membisu, pandangannya jauh ke depan, sepi sekali, ada tangis yang tertahan di ujung mataku.
"Dulu gue pernah juga sama ilul, nemu di jalan, mayat kucing, tapi masih kecil, kita langsung kuburin ga jauh dari situ. Ngegali tanahnya pake tangan hahaha" Kakakku bercerita.
"Iyaa, kita juga pernah ya, lagi jalan sore, ketemu mayat kucing di pos, kita pinjem pacul warga, terus nguburin" aku menyahut.
"Mereka udah meninggal, tapi masih jalanin tugas terakhirnya ya"
Aku menoleh "Jadi sebab manusia yang nemuinnya buat dapet pahala ya?"
"Ga ada yang kebetulan, tumben banget kita pulang lewat Jl. Setia, Allah yang gerakin, kita jalan di sisi jalan itu, bikin lu ngeliat dia, dan alhamdulillah dia nolong kita, semoga ada pahala buat kita.
Semuanya begitu. Kadang ada orang tua yang panjaaang banget umurnya, kesannya dia ngerepotin anak anak atau sodaranya ya? Padahal engga, dia lagi jalanin tugas dari Allah, buat jadi sebab orang sekitarnya dapet pahala. Mungkin di dia ladang pahala orang sekitarnya" Kakakku melanjutkan.
Aku tersenyum "Masya Allah ya.."
Pagi itu, untuk kali pertama perjalanan pulang jalan kami terasa sendu, namun ditutup dengan begitu hangat dan indah oleh penjelasan seorang perempuan kedua yang begitu aku cintai dan kagumi, Allahumma baariik fihaa