Di Ujung Timur Indonesia, Seorang Ibu Menitipkan Kalimat yang Belum Bisa Aku Lupakan
Ini catatanku kemarin selama tiga minggu di Desa Tomer, daerah perbatasan Merauke yang berbatasan dengan Papua Nugini. Tanpa diduga, tiga minggu itu mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh bagian Indonesia manapun yang pernah aku singgahi.
Awalnya aku pikir yang pertama akan terasa adalah panasnya, susahnya sinyal, atau mungkin kalau boleh jujur, sedikit rasa takut soal cerita-cerita yang beredar tentang KKB, malaria, dan entah apalagi yang sudah berputar di kepala sejak di bandara. Tapi ternyata yang pertama benar-benar menyapa justru adalah senyum orang-orangnya.
Tidak ada kecurigaan. Tidak ada jarak. Masyarakat di Tomer menyambut rombongan kami dari Jakarta yang datang membawa peralatan dan agenda kerja, seperti menyambut saudara yang sudah lama tidak pulang. Mereka tertawa dengan lepas, menawarkan bantuan tanpa diminta, ikut bergotong royong saat ada kesulitan saat bekerja di lapangan.
Bagi siapa yang terbiasa hidup di kota besar, di mana tetangga pun kadang tidak saling kenal, ketulusan seperti itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama hilang, tapi ternyata masih ada, di ujung timur negeri ini. Mereka punya sesuatu yang tampaknya sudah mahal harganya di tempat lain yaitu kepercayaan tanpa syarat kepada orang baru.
Dan karena kehangatan itulah, apa yang kemudian terlihat di baliknya terasa jauh lebih berat untuk diterima.
Setiap kali harus berpindah dari Desa Tomer ke Desa Tomero untuk kebutuhan pekerjaan, yang di atas peta kelihatannya tidak jauh hanya sekitar 15km, tapi perjalanannya selalu menjadi pertaruhan. Lumpur pekat yang bisa menelan ban motor. Jembatan kayu yang harus diperiksa dulu, kadang harus diperbaiki seadanya supaya bisa dilewati motor. dan hanya motor. Tidak ada kendaraan lain yang sanggup menembus jalur itu. Ini bukan jalan di pelosok yang tidak diketahui siapapun. Ini jalan yang setiap hari dilewati ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar di kota, anak-anak yang ingin menuju sekolahnya, bahkan orang sakit yang harus diantar untuk berobat.
Di Desa Tomero hanya ada SD. Kalau ingin melanjutkan ke SMP atau SMK, mereka harus minimal pergi ke Desa Tomer. Melewati jalan itu. Setiap hari. dan yang paling menyayat hati adalah anak-anak itu tidak punya pilihan lain.
Dan di tengah salah satu perjalanan itulah, beberapa ibu mendekat. Mereka tahu rombongan kami dari Jakarta. Mungkin bagi mereka, Jakarta adalah tempat di mana keputusan-keputusan besar dibuat, tapi tidak pernah benar-benar terasa hadir di sini. Dengan bahasa yang sederhana, dengan mata yang menyimpan campuran harapan dan kelelahan yang sudah terlalu sering kecewa, mereka berkata:
"Tolong sampaikan mas keadaan disini. Jalan ini semakin parah apalagi ketika hujan. Anak-anak kami susah untuk sekolah."
Tidak ada nada marah dan tuntutan yang keras sama sekali. Hanya titipan pelan, tulus, dan karena itulah terasa lebih menyayat dari teriakan manapun. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin anak-anaknya bisa sampai ke sekolah tanpa harus bertaruh dengan lumpur dan jembatan yang selalu rubuh dan harus dibenahi dulu seadanya sebelum melewatinya.
Kalimat itu tidak panjang. Tapi sampai sekarang, belum juga bisa hilang dari kepalaku.
Yang membuat segalanya semakin berat adalah konteks di sekelilingnya. Harga barang kebutuhan pokok di sana juga melambung jauh di atas harga yang biasa ditemukan di kota. Bukan karena sistem distribusi yang kebetulan tidak efisien, tapi karena infrastrukturnya memang tidak pernah serius dibangun. Tidak ada jalan yang layak, tidak ada akses logistik yang memadai, maka harga pun ikut terdongkrak berkali lipat tanpa bisa dihindari.
Satu-satunya puskesmas pun harus melayani tiga desa sekaligus. Bidan-bidannya bergantian menjangkau warga, melewati jalan yang itu lagi.
Program Makan Bergizi Gratis yang ramai diperbincangkan di kota? Tidak ada jejaknya di sini. Di kota, orang berdebat soal kandungan gizinya. Di Desa Tomer dan Tomero, warganya bahkan belum tahu apakah program itu nyata atau hanya cerita dari televisi. Padahal harusnya merekalah yang menjadi sasaran.
Film dokumenter Pesta Babi yang sempat ramai diperbincangkan belakangan ini. Saya bersaksi dengan kedua mata saya sendiri bahwa cerita yang diangkatnya itu betul tidak jauh dari apa yang ada di desa ini. Masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan dan tanah, yang kini perlahan terjepit oleh kepentingan yang terlihat jauh lebih besar dari kesejahteraan masyarakat merauke sendiri. Banyak pembukaan lahan, ada juga posko posko tentara yang diberitakannya untuk patroli KKB tapi sebetulnya untuk mengamankan program strategis nasional agar tidak di amuk masyarakat. Program pembukaan lahan yang katanya pemanfaatannya nanti untuk kebutuhan swasembada dan transisi energi itu bagiku sangat tidak fair harus ditukar dengan hilangnya kelangsungan hidup orang-orang baik disana.
menuju sejahtera saja masih jauh dan di kehidupan yang masih mereka bisa andalkan yaitu dari berburu dan bertanam di hutanpun dirajut oleh para penguasa. Sialan
Setelah pulang darisana, caraku memandang kata "kemajuan" tidak akan sama lagi.
Kita sering berbicara tentang Indonesia yang maju, Indonesia yang bersatu, Indonesia yang merata.
Tapi kemajuan macam apa yang tidak menjangkau jalan menuju sekolah anak-anak di perbatasan? dan Persatuan macam apa yang membiarkan satu bagian negeri ini berjalan di atas lumpur sementara bagian lainnya berdebat soal desain kereta cepat?
Aku merasa punya tanggung jawab dengan pergi kesana. Karena mereka adalah bagian dari kita. Tanah mereka adalah tanah yang sama yang kita sebut Indonesia setiap tanggal tujuh belas Agustus itu.
Orang-orang di Tomer tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan hal-hal yang seharusnya sudah menjadi hak paling dasar siapapun yang menyebut dirinya warga negara Indonesia: jalan yang bisa dilalui, sekolah yang terjangkau, puskesmas yang hadir, dan harga bahan pokok yang tidak mencekik.
Bukan sebuah hadiah. itu Hak.
Tulisan ini tidak ditulis untuk menyudutkan siapapun. Ditulis karena ada kalimat seorang ibu yang belum juga berhenti bergema dan rasanya tidak adil kalau hanya didengar sendiri. Karena mungkin itulah yang sebenarnya mereka butuhkan dari kita yang ada di sini: bukan solusi besar, bukan gerakan masif , cukup kesediaan untuk tahu, untuk tidak pura-pura tidak melihat, dan untuk bersuara ketika ada kesempatan.
Merauke bukan hanya nama di ujung peta. Ia adalah bagian dari janji yang kita ucapkan bersama bahwa negeri ini milik kita semua, dari Sabang sampai Merauke. Sudah saatnya janji itu tidak berhenti di kalimat.
Mulailah dari yang paling sederhana yaitu untuk tahu. Untuk membuka mata akan keadaan tentang masyarakat papua. Karena dari situlah segalanya bisa bergerak dan berubah.
— ditulis dari ingatan yang masih segar, dan dari rasa yang belum juga reda