Beda Rasa Gagal, Beda Bahasa Menghiburnya
Belum lama ini, aku membahas prokrastinasi dengan seorang teman. Mungkin bagi kebanyakan orang, bahkan bagiku beberapa tahun lalu, ini bukan topik yang menarik untuk dibahas. Tapi setelah kami menyadari adanya pola prokrastinasi yang lestari dalam beberapa tahun kami, topik itu menjadi menarik bagi kami.
Pembahasan itu benar-benar panjang karena segala yang berkaitan dengan manusia memang kompleks. Tapi, bukan hal kompleks yang berkaitan dengan pembahasan kami itu yang ingin kutuliskan.
Kemarin, tak sengaja kutemukan tulisan singkat milik @senjadanaksara
"Dan tetaplah berbaik sangka, jatuh bangunmu hari ini dan hari-hari kemarin, akan menjadi kumpulan kebaikan yang Allaah berikan untukmu nantinya.."
Aku tertahan cukup lama, karena menyadari sesuatu yang lain. Dari sisi takdir, tentu membacanya akan terasa seperti pelukan yang menenangkan. Tidak ada yang salah dengan tulisan itu. Tapi kalau kubayangkan dibaca oleh seseorang yang terjebak dalam siklus prokrastinasi, pelukan itu bisa terasa menyesakkan. Karena deep down inside, kami/mereka sadar kalau mereka sedang berhenti karena ulah sendiri.
Ada perbedaan besar antara "jatuh karena keadaan" dan "berhenti karena pilihan sendiri." Dan self-blame (menyalahkan diri sendiri) adalah beban terberat dari seorang prokrastinator.
Mungkin tidak 100% akurat, tapi kebanyakan prokrastinator sulit berbaik sangka, terlebih kepada takdir. Seorang prokrastinator bukan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka justru sangat sadar. Namun kesadaran ini juga lah yang menjebak mereka. Seperti, kamu melihat dirimu sendiri membuang waktu, tapi seolah tanganmu terikat.
Kamu mungkin akan bilang, yasudah tinggal dilawan saja, apa susahnya?
Memang. Tapi prokrastinasi itu jarang sesederhana “aku malas lalu selesai.” Itu penjelasan yang terlalu dangkal untuk sesuatu yang sebenarnya campuran dari takut gagal, takut tidak sempurna, kelelahan mental, sampai cara otak menghindari ketidaknyamanan.
Jadi ketika kelihatannya mereka “berhenti karena pilihan atau ulah sendiri,” sebenarnya di bawahnya, sering ada sistem yang sedang error dan butuh perbaikan. Tapi aku tidak sedang membahas itu di sini.
Kembali lagi, ya...
Saat orang lain jatuh karena musibah, mereka bisa menghibur diri dengan "Ini ujian." Tapi saat prokrastinator gagal, mereka berpikir, "Ini bukan ujian, ini murni karena aku malas/takut." Akhirnya, sulit untuk melihat kegagalan itu sebagai 'kumpulan kebaikan'. Rasanya jadi lebih tepat disebut 'kumpulan kelalaian.'
Pun setiap kali mereka berjanji "besok akan mulai" lalu melanggarnya, mereka kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya terhadap diri sendiri itu terkikis perlahan bersamaan dengan janji yang terus mereka langgar. Tanpa rasa percaya kepada diri sendiri seperti itu, berbaik sangka kepada ketetapan Tuhan terasa jauh. Mereka merasa tidak layak mendapatkan kebaikan itu.
Sebagai alumninya dan mungkin pun kadang-kadang masih terlestarikan, tidak enak mengakui ini. Tapi bagi orang-orang yang sering menunda (procrastinator), realitasnya bisa terasa berbeda. Berbaik sangka itu terasa agak kosong bukan karena kalimatnya salah, bukan juga karena mereka tidak ingin berbaik sangka. Tapi karena di dalam dirinya sendiri ada konflik. Di satu sisi, mereka ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Di sisi lain, mereka tahu bahwa beberapa kegagalan itu bukan sekadar takdir, melainkan hasil dari pilihan mereka sendiri untuk berhenti, menunda, atau menghindar.
Dan itu yang bikin rasa bersalahnya lebih dalam.
Bukan “aku gagal karena keadaan”, tapi “aku tahu kalau aku sebenarnya bisa, tapi aku nggak melakukan apa-apa.”
Setelah memikirkan ini, aku mulai menyelam lebih dalam ke perbedaan medan tempur hidup masing-masing orang, dan perbedaan rasa kegagalannya.
Yang jatuh karena keadaan setelah melakukan serangkaian usaha, bisa menghibur mentalnya dengan, "Ini ujian dari Tuhan, aku sudah berusaha maksimal tapi hasilnya belum ada." Mereka bisa tidur nyenyak karena merasa sudah berkeringat.
Sedang bagi seorang yang berhenti karena pilihan sendiri, aku baru menemuan bahasa untuk menghibur mentalnya. Bahasanya bukan self-love yang lembut seperti, “Nggak apa-apa, kamu sudah cukup”, “Ini semua takdir, santai saja.” Itu terlalu mengampuni dan justru membuat semakin stagnan. Bukan juga self-blame yang keras seperti, “Ini salahmu, kamu kurang disiplin” karena terlalu menghukum dan potensial membuat lumpuh.
Yang mereka butuhkan adalah bahasa yang mengembalikan rasa kendali tanpa menghakimi seperti, "Iya, kamu ikut andil dalam stagnansimu ini. Tapi itu bukan akhir cerita. Kamu masih punya kendali untuk langkah berikutnya. Sekecil apa pun.” atau “Iya, kamu menunda. Bukan pertama kali juga. Sekarang pilih, lanjut menunda atau mulai 5 menit.” Barangkali itu membawa rasa yang berbeda. Ada tanggung jawab, tapi juga ada pintu keluar.
Itu baru dua medan tempur—jatuh karena keadaan dan berhenti karena pilihan sendiri. Dengan milyaran jiwa, dunia ini tentu punya spektrum medan tempur yang luar biasa luas dan personal.
Milyaran manusia, milyaran jenis luka dan peluru. Maka setiap orang butuh bahasa yang berbeda untuk divalidasi.
Memberikan kalimat self-love kepada orang yang sedang malas karena ulah sendiri mungkin malah jadi racun. Memberikan kalimat "ayo kerja keras" kepada orang yang sedang depresi klinis bisa jadi bencana.
Dunia ini memang tidak bisa diselesaikan dengan satu baris quote cantik yang sama untuk semua orang. Setiap peperangan butuh strategi dan cara berdamai yang berbeda.
Setidaknya, ini caraku melihatnya saat ini.