Kadang ada kalanya kita mendapat nasehat bukan dari orang terdekat. Bukan pula kejadian, yang biasanya kita temui.
Hari ini, ku pergi ke salah satu perpustakaan di Jakarta. Just randomly. Sudah hampir seminggu, ku belum keluar rumah sama sekali. Terdengar membosankan, bukan? Didepan layar saja, berkutat dengan informasi-informasi yang bertebaran di kepala. Jam 9, keretaku berjalan menuju kota. Sampai di stasiun tujuan, arah pergantian kendaraanku salah. Aku perlu menempuh waktu dua kali lipat dari semestinya. Anggap saja, aku mengitari gedung-gedung itu dengan moda roda empat. Untung saja, gratis. Kalau yang ini, patut diacungi jempol. Kan?
Bukan cuma kendaraannya, pengemudinya begitu ramah. Awalnya saya kira bapak ini akan marah ketika tahu saya seperti perempuan kelimpungan salah alamat. Nadanya begitu tegas. Untung saja, saya pakai masker. Pasti tampak begitu jelas wajah kebingungan saya sedari pertanyaan pertama bapak itu.
"Salah, Mba. Mba salah naik kendaraan. Seharusnya arah yang satunya."
"Mba ngerti ngga, Mba? Mba salah naik kendaraan."
Bagaimana jika kamu jadi saya? Saya sudah berkali-kali mengakui bahwa saya memang salah arah. Saya memang salah kendaraan. atau mungkin, Bapak itu terus bertanya karena saya memasang mata yang bertanya-tanya atau semestinya saya tidak menanyakan saya harus bagaimana (saran menuju lokasi tujuan / kendaraan yang mesti saya naiki) alih-alih hanya mengiyakan begitu saja?
"Mba, baru ya, naik moda ini?"
kali ini saya iyakan sambil tertawa tipis.
sepertinya saya salah menduga. Bapak ini menjadi terdengar ramah ketika tahu asal kota saya. Kali ini, beliau memangggil saya dengan sebutan Neng, sama seperti kepada perempuan-perempuan daerah yang biasa dipanggil Mba, Uni, atau Teteh.
"Banyak curug loh disana, neng"
"Iya, pak. Banyak. tapi, saya belum pernah. Pengen deh kesana."
"Ya, coba lah. Masa orang asli sana belum pernah ke Curug,' jawab Bapaknya sambil tertawa.
"Ya.. biasalah pak, saya kan perempuan. mana boleh saya bepergian ke tempat kayak gitu. Biasanya saya diizinkan main sama temen-temen cewe sih ke tempat yang aman-aman aja lah pak.."
"Ya, ajaklah pacarnya," seru bapaknya. Tentu saja kaget. "Neng nya sudah punya pacar?" Bukan respon ini yang saya harapkan. Mata saya hanya terbelalak. Masih terdiam. "Hehe, ngga ada, pak."
"Lho kenapa? Masa sih ngga ada. Cowo gitu neng.. yang deket.. ada kan?" tanya Bapaknya lagi, memastikan. Saya hanya memperlihatkan mata saya menyipit seakan menandakan tersenyum dari balik masker ini. "Baru putus atau jomblo dari lama?" tanyanya lagi. Wah, Benar-benar di teror pertanyaan. Saya, tentu saja, menjawab dengan pernyataan yang-saya pikir- aman. "Udah lama jomblo nih pak," jawabku sambil bercanda. "Masa sih? Nengnya umur berapa? 24? ada?" Saya jawab hampir mendekati di angka sekian. "Ya.. perempuan kalau bisa (umur) 25 lah. Punya pacar lah.. kalau bisa." Ah, Bapak ini, seperti merajuk. Aku yang terlalu abai dengan alur pembicaraan ini hanya menjawab, "Ya.. Mungkin, nanti kali ya pak. Hahaha." begitu jawabnya si anak muda cengengesan ini.
"Eh... jangan gitu," kata bapaknya. DAPAT! mungkin ini perangkapnya. Aku langsung menyadari aku berada pada perangkap hikmah. Aku langsung menyimak seksama. Kali ini bukan hanya obrolan basa-basi. Selain karena aku merasa bapak ini ingin mengobrol dengan penumpangnya, menghilangkan kebosanannya, menyalurkan sisi ekstrovertnya, juga ingin berbagi pengalamannya, Aku merasa bapak ini bisa jadi sebagai wasilah dari perjalananku mencari jawaban.
"Kamu tau lagu Dewa 19 ga?" Eh? gaul juga nih bapak, pikirku. "Ini lagi saya lagi dengerin, pak. hehe. lagu yang mana?"
"Kamu tau kan, Dewa 19 yang Risalah hati?" Saya hanya mengangguk.
"Apa katanya coba? Cinta karena?"
"Terbiasa", jawab kami kompak.
Bridging yang bagus, pak! saya memang tertarik bahas-bahas lagu.
"Nah itu. Gimana kita bisa tau orangnya kayak gimana, kalau belum saling kenal? Gimana kita tau kalau hubungannya bagus kalau arahnya kita gatau mau kemana. Coba aja dulu.. kalau sering ketemu kan, rasa(cinta)nya juga ada. Nanti kita baru dah.. tau kalau kita udah jalanin, ini oke kaga. kalau oke, lanjut. gitu aja"
Mungkin kira-kira begitu pembuka inti pembicaraan ini. Aku hanya mengangguk-angguk, seraya setuju dalam hati. tapi, jelas aku bertanya pada pernyataan Bapak itu saat "gitu aja". apakah semudah itu?
"Kalau ga oke, gimana? darimana kita bisa tau akan berhasil atau engga?"
"Ya, makanya dari itu. Karena terbiasa, jadi kita tau ni orangnya begimane." begitu katanya yang sudah mengeluarkan logat betawinya. "Ajak die sekali-kali. Eh.. temenin yok, gue mau ke sini, ke sini. kalau dia mau, wah, oke ini. Ya.. coba aja dulu. Mana tau kan. Kite sebagai cowo tau, kalau ada yang demen ama kite."
"Nah, kalau dianya gamau, gimana? ya.. malu juga, pak, lagian. kan saya cewe ya, pak. Gimana.. gitu. beda,"kataku
"Ya, kalau dianya gamau, ya gapapa. gausah. Ntar coba lagi. Paling juga kalo dienye gamao, bilangnya juga bae-bae. "Sorry gue gabisa nih, ada ini ini ini." gitu die. pasti bilangnye bae-bae. ga cuma, "gamao!" gitu.."
Aku tahu. Pria itu juga dengan persis melakukan begitu. Senang mendengarnya.
"Tapi masih deketin orang yang sama, kan, Pak?" tanyaku bertanya sambil memastikan target awal masih sama. target gak tuh ahaha.
Kali ini bapak tidak menjawab dengan lurus, ia menggunakan pengalamannya. "Dulu, saya ya ni Neng, kalau mau ajak jalan. Ya tanya aja. Bini saya juga begitu. Istri.. istri.. (Memastikan saya paham dengan arti Bini yang sama dengan makna istri dalam bahasa betawi) Kesini yok. Kalau mau ayok. Dia mah terbuka sama saya. Saya ditanya sama istri saya, "lo pake motor itu mulu, cuci apa" katanya. Ya saya bilang, biar aje, orang ini motor kantor. Motor saya mah ada di rumah. Dulu, saya nih masih kerja tukang sapu jalanin juga, neng. tapi saya bilang sama bini saya. Gue ni tukang sapu doang. Saya jujur, neng, bilang begitu ke bini saya. Cewe tu suka cowo yang terbuka. Jangan sok jaim-jaim lah.."
Satu persatu pria yang ada kemungkinannya, lengser begitu saja dari kepalaku. Sudah dari lama, memang. tapi pernyataan Bapak ini, menjadi penguat keyakinan keputusanku untuk menghindar dari pria semacam itu; yang berbohong, juga jaim-jaim, seperti yang Bapak maksud.
"Saling terbuka, ya, pak," kataku menegaskan.
"Iya, kalau kita terbuka dari awal. kita ga akan malu. Padahal saya ni lulusan cuma SMA, tapi pas udah jadi (Sah) malu minta ampun. tapi tanya ama bini gua, gua pernah boong ga? dari awal pacaran gua ga pernah bohong. Kalau udah bohong, udah susah. Intinya saling percaya. Jangaaaan sekali-kali bohong," begitu katanya. kali ini nada suaranya terlihat lebih tegas dan berusah mengingatkan dengan sungguh. "Ribet!" gitu katanya ahaha "Gua mah apa adanya aja."
"Pacaran aja gue ga napsu megang die"
Aku paham. Kali ini memang satu pria itu. Rasa-rasanya dia juga sedang ikut mendengarkan isi pembicaraan ini. Memang dia orangnya; yang sedari awal muncul di kepala dan berlarian menerobos hati. Dari manusia-manusia yang tersedia, mengerucut kepada satu nama; dia yang terbuka dan apa adanya.
Tiba-tiba bapak ini bilang lebih menyukai dompet panjang daripada model dompet lipat kecil yang mudah disimpan di saku celana. Tapi, intinya, kemanapun beliau pergi, ia selalu menitipkannya pada perempuan yang sekarang jadi istrinya itu. Memang, lagi-lagi. Karena saling percaya.
Detik berganti menit, satu persatu penumpang kembali memenuhi isi mobil ini. Tentu saja, terhenti begitu saja dari obrolan-obrolan serius tadi. Sampai aku terhenti di tempat tujuanku dan membiarkan mobil itu melaju.
Kita mengetahui sesuatu bahkan tanpa disengaja. Kita bertemu seseorang juga bahkan tanpa sengaja. Kita berjalan pada waktu, yang kita bahkan tak tahu akan dibawa kemana. Kita berdiri disini entah menunggu siapa. Bahkan seringkali, kita berjalan tanpa mengikuti arah semestinya.
Siang ini memang aku kesasar. Tapi siapa duga? seseorang memberikan pernyataan-pernyataan yang dapat ku ingat selamanya. Siapa yang tahu? Barangkali, Tuhan kirimkan perantara melalui orang tersebut untuk menyampaikan sesuatu yang selama ini aku sedang cari-cari. atau, yang selama ini telah mendapat jawabannya, namun seringkali aku meragukannya. Ia sedang membuatku yakin atas keputusanku sendiri.
Seringkali langkah ini membawa diri pada tanya yang menemukan jawabnya. Seringkali, langkah yang mestinya lelah, terbayarkan oleh cerita yang membantuku lebih terarah.
Kadang, ada kalanya kita mendapat nasehat bukan dari orang terdekat. Bukan pula kejadian, yang biasanya kita temui.
Satu, kejadian yang juga tanpa sengaja terjadi begitu saja, meski aku sudah berusaha hati-hati. Tas gendongku terjatuh dari gantungan di toilet saat aku mau shalat. Isinya Laptop, Tablet, juga beserta perlengkapan belajar lainnya. Tentu saja, retak. Entah bagaimana, tapi aku begitu pasrah. Entah kenapa juga akhir-akhir ini aku hanya kerapkali menanggapi sesuatu yang terjadi di hadapanku dengan ekspresi yang datar. Meski dalam hati sesekali tegas menggerutu, tapi itu hanya sebentar. Apa seharusnya aku menyadari, aku yang kini lebih bisa mengontrol emosi? Aku hanya membiarkan apa yang aku rasakan tersimpan dalam dada, tanpa ada satupun yang menyadarinya. Tapi, lagi, apakah rusaknya beberapa alat tempurku ini merupakan peringatan juga dari-Nya? Mungkin. Bisa jadi. Mungkin adalah pertanda ada yang kecewa pada diri yang berlama-lama menatap layar sampai lupa menatap langsung banyak mata.
Pada manusia yang sering aku temui. Juga, pada manusia yang sesekali aku temui. Ataupun, pada manusia yang satu kali aku temui. Ada kalanya kalian semua adalah perantara juga sekaligus tujuan sibalik semua pertanyaan-pertanyaan yang mengambang di benakku. Ada kalanya, seseorang atau sesuatu yang tak sengaja aku hadapi di hari ini merupakan tanda tertentu untuk menyadari keberadaan kalian disana.
Terima kasih diri, telah mencoba menemukan apa yang semestinya perlu ditemukan. Pada sesuatu yang dicoba dirangkai, semoga cerita ini salah satunya. Merangkai satu persatu jawabannya.