Catatan Jurnal: 24 Juni 2026
Menemukan Rumah di Kedalaman Samudra
Hari ini rasanya melelahkan sekali. Menghadapi "pertempuran" sehari-hari di dunia nyata kadang bikin energi benar-benar habis. Aku merasa seperti orang yang sedang tersesat di dalam labirin gelap, berjuang sendirian melewati puing-puing masalah yang datang bertubi-tubi mirip seperti berjalan melewati bangkai kapal karam di dasar laut yang sepi.
Tapi malam ini, langkahku terhenti pada sebuah melodi. "Deep Sea Dreams."
Saat lirik pertamanya mengalun, rasanya ada sesuatu yang hangat menyergap dadaku. “Don't be afraid, my darling... your lonely days of war have come to an end.” Entah kenapa, kalimat itu terasa personal banget. Seolah-olah lagu Mobile Legends ini tahu kalau aku sedang lelah bertarung dengan ekspektasi dunia.
Lagu ini membawaku bertualang ke tempat yang jauh, ke sebuah dimensi bawah laut yang sunyi tapi menenangkan. Di sana, ego dan ambisiku yang menggebu-gebu perlahan luruh. Aku dipaksa berkaca: apakah selama ini aku terlalu ambisius mengejar "harta karun" berupa validasi dan materi, sampai lupa caranya beristirahat?
Merenungkan tentang lautan luas ini, pikiranku tiba-tiba melayang pada sepotong ayat di dalam Al-Qur'an yang sangat luar biasa, yaitu Surah An-Nur ayat 40:
Arab:
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ
Latin:
Au ka-zhulumatin fi bahrin lujjiyyin yaghsyahu maujun min fauqihi maujun min fauqihi sahab, zhulumatun ba'duha fauqa ba'din, idza akhraja yadahu lam yakad yaraha, wa mal lam yaj'alillahu lahu nuran fa ma lahu min nur.
Terjemahan:
"Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Barang siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun."
Saat aku merenungkan ayat itu, aku terdiam lama dan mulai bertanya-tanya dalam hati: kenapa Al-Qur'an harus menggunakan kata-kata spesifik ini? Kenapa Allah tidak menggunakan kata lain yang lebih umum dalam bahasa Arab? Pertanyaan itu membawaku untuk membedah bahasanya lebih dalam, ke akar katanya yang paling dasar, dan di sanalah aku menemukan keajaiban yang membuatku merinding.
Aku berpikir, kenapa Allah memilih kata Ka-zhulumatin ? Kenapa bukan kata ’Atamah yang juga berarti kegelapan malam? Setelah kucari tahu, Zha-La-Ma berarti hilangnya cahaya secara total. Sementara ’Atamah masih menyisakan sedikit berkas cahaya samar. Di dalam lubuk hatiku, aku tersadar; masalah yang kuhadapi hari ini sempat membuatku merasa berada di kegelapan Zha-La-Ma sebuah fase hampa dan keputusasaan di mana aku benar-benar kehilangan arah dan tidak melihat setitik pun cahaya harapan.
Lalu, kenapa harus Fii bahrin ? Kenapa Allah tidak memakai kata Ghadir (rawa/kolam besar) atau Yamm (sungai besar/lautan yang mengalir)? Akar kata Ba-Ha-Ra berarti membelah atau meluaskan sesuatu dengan lapang. Allah sengaja memilih kata ini karena masalah hidupku saat ini rasanya memang seperti samudra yang dibelah begitu luas, begitu lapang, seolah membentang tanpa batas dan tidak ada ujungnya untuk bisa kuseberangi sendirian.
Yang paling membuatku takjub adalah pemilihan kata Lujjiyyin . Kenapa Allah tidak menggunakan kata ’Amiiq yang juga berarti dalam? Akar kata La-Ja-Ja itu berarti air yang sangat banyak, bergejolak, bergulung, dan berlapis-lapis di dasar samudra terdalam sebuah Abyss . Kalau ’Amiiq hanya sekadar dalam secara vertikal seperti sumur, maka Lujjiyyin mengisyaratkan sebuah kedalaman lautan yang begitu pekat, di mana arus bawah airnya saling berbenturan dan cahaya matahari pun sudah mustahil untuk menembusnya. Persis seperti kondisi jiwaku malam ini, yang merasa terperangkap di titik terendah yang paling sunyi dan bergejolak di dalam senyap.
Semua itu kian disempurnakan dengan kalimat Yaghsyahu mawjun . Kenapa bukan kata Mulhaf (menyelimuti seperti kain) atau Sail (arus yang menghanyutkan)? Kata Yaghsyah berasal dari Gha-Sya-Ya yang berarti menutupi hingga benar-benar melenyapkan pandangan, sedangkan Mawjun berasal dari Ma-Wa-Ja yang artinya bergejolak tak menentu. Kesedihanku hari ini rasanya bukan sekadar menghanyutkan, tapi benar-benar Yaghsyah datang bergulung-gulung bagai ombak besar yang langsung menutup seluruh pandangan mataku, membuatku tidak bisa melihat jalan keluar sama sekali.
Namun, tadabbur ku tidak berhenti di rasa sesak itu. Al-Qur'an mengingatkan bahwa di dalam kegelapan samudra terdalam pun, kendali mutlak tetap ada di tangan Sang Pencipta. Jika bait lagu ini menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah merasa tersesat lagi, maka Allah memberikan kepastian yang jauh lebih nyata melalui keindahan diksi firman-Nya. Di balik kegelapan malam dan samudra, ada janji ketenangan bagi jiwa yang mau berserah.
Sederhana, tapi sukses bikin mataku berkaca-kaca. Di dunia yang bising ini, mendengarkan lagu ini sambil membuka lembaran firman-Nya rasanya seperti akhirnya menemukan jalan pulang. Seperti dipeluk oleh kedamaian yang luas, yang menerima semua lelahku tanpa penghakiman.
Malam ini, aku mau melepas semua beban pertempuran dulu. Biarlah memoriku tentang hari yang berat ini larut bersama air. Besok aku akan siap bertarung lagi dengan iman yang lebih tangguh, tapi malam ini... aku mau tenggelam dulu dalam damainya Deep Sea Dreams dan kehangatan petunjuk-Mu.













