#tentangpernikahan: Mempersiapkan Diri
Suatu hari, aku pernah begitu bersedih mengapa hari-hariku tak kunjung membaik dan tak sesuai dengan harapanku. Penyesuaian ini begitu lama rasanya.
Aku baru saja lulus, setelah hampir 6 tahun jauh dari rumah (walaupun tidak berbeda pulau, tapi tetap jauh kan?) yang menghabiskan waktu hanya untuk kuliah-koas-organisasi-dan menghibur diri. Aku begitu akrab dengan segala hal yang instan dan anti ribet, tapi mie instant tidak termasuk di dalamnya. Dalam artian, aku tidak pernah mengurus pekerjaan rumah yang begitu ribet, seperti belanja ke pasar, memasak, dan kegiatan membersihkan rumah lainnya, karena.. ya aku tidak tinggal di rumah. Aku senang membereskan kamar kos, hanya sebatas merapikan dan menyusunnya, menyapu, mengepel, tidak termasuk membersihkan kamar mandi karena sudah ada pengurus yang membersihkannya. Makan tinggal delivery atau keluar kos dan mencari bapak batagor ataupun sate. Bukan berarti aku tidak bisa membersihkan kamar mandi atau memasak, tetapi aku tidak terbiasa. Dan rupanya itu menjadi sebuah masalah baru.
Kemudian setelah merasa telah lama kuliah dan mengeluarkan tenaga serta biaya yang banyak, ketika harus mengikuti suami di domisili kerjanya, aku menganggur alias tidak punya pekerjaan dari ‘hasil kuliahku’ selama ini. Dan rupanya hal itu membuat pikiran bahwa rasanya sia-sia dan tidak berguna. Usaha sana-sini, cari informasi, melihat teman yang sudah berprofesi, semua kolega menjawab “sabar, pasti ada tempat nanti.”
Nanti. Nanti itu kapan, batinku.
Karena mas bekerja dari pagi-sore, membuat aku sering merasa kesepian. Ditambah aku yang lebih senang berada di rumah daripada di luar rumah, bila tidak ada kegiatan. Sejak dulu, aku memang jarang sekali pergi sendiri. Teman-temanku yang akrab pasti tahu kalau aku paling anti diajak ke mall hanya sekedar jalan tidak ada tujuannya dan nonton ke bioskop. Tetangga juga tidak ada yang seumuran. Dan rata-rata pun bekerja.
Suatu saat pernah datang arisan, kemudian ditanya umur, dan dijawab “wah masih muda sekali.”
Pernah juga main ke rumah tetangga, tapi ternyata bahan obrolannya setelah kehabisan bahan, jadi malah membahas tetangga yang lain.
Mungkin memang benar, bila wanita keluar rumah itu setan langsung siap mengikuti. Itulah mengapa memang sebaik-baiknya wanita adalah yang di dalam rumahnya.
Perasaan sepi dan sendirian, tidak ada kegiatan, bingung harus gi mana, rupanya bukanlah hal yang ku takutkan sendirian. Mba @ajinurafifah beberapa kali di instagram juga pernah membahas ini, beberapa teman yang telah menikah pun menceritakan hal yang sama. Mungkin ini yang dinamakan jet lag.
Dulu kupikir ini adalah hal yang mudah, namun ternyata menjalaninya tak semudah itu. Suatu kali ketika benar-benar down dan posisinya juga lagi sensitif, akhirnya pertahanan itu pun pecah.
Mas bilang, “Siapa bilang kamu ngga berguna? Nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, masak itu juga karir, karir rumah tangga dan itu ibadah. Kamu sangat berguna.”
Semenjak menikah, memang semua pekerjaan rumah aku selesaikan sendiri. Mencuci awalnya pakai tangan, ternyata lama-lama capek juga, akhirnya ibuk menyarankan untuk beli mesin cuci front loading saja. Aku pun belajar belanja ke pasar, awalnya sangat kaku dan kagok. Mencoba sedikit pakai bahasa jawa, ternyata pun yang jual malah pakai bahasa Indonesia. Kadang salah menyebutkan nama bahan yang ingin kubeli. Sungguh ini perlu keahlian, yang sering kusesali kenapa jarang ikut ibuk belanja ke pasar atau setiap kali belanja ke pasar aku hanya terfokus buat beli pukis.
Bisa itu bukan berarti terbiasa dan sanggup melakukannya.
Aku juga pernah mendengar, temanku yang sudah menikah dan punya ART. Tak terima hanya 1, bahkan lebih. Ditambah sopir. Ya nggapapa, suaminya memang mampu. Dia bisa juga seperti aku tapi tak terbiasa, dengan adanya pembantu, dia menjadi cukup terbantu, walaupun juga ada saja ceritanya tentang ARTnya yang tak telaten, sulit diajari, masakannya tak cocok, sampai tiba-tiba minta resign.
Sampai aku sadar bahwa untuk menjadi besar, kita membutuhkan proses bertumbuh. Begitu juga dalam pernikahan, untuk siap mendampingi suami yang hebat, kita pun perlu menjadi istri yang hebat. Harus bisa berpikir bagaimana caranya makan ketika pak sayur tidak lewat, atau harus menghitung-hitung kelengkapan rumah apa saja yang butuh dibeli, daj juga harus mempersiapkan bahan-bahan bulanan. Terkadang, itu pun tak dirasa mudah oleh sebagian orang.
Beberapa tips yang mungkin berguna buat teman-teman yang belum menikah:
1. Gunakan uang dengan bijak, biasakan menghemat.
Kamu ngga akan pernah tau akan mendapat pasangan yang lebih, cukup, atau kurang nantinya. Setidaknya, kamu sudah siap bila harus menghadapi itu, dan rela mengeluarkan uang tabunganmu kalau kurang, dan tidak menjadi boros serta bermewah-mewahan kalau memang lebih. Tapi, kita semua berharap dan berusaha ingin memberikan yang terbaik buat pasangan kan?
2. Sekali-kali cobalah memasak, dimulai dari belanja ke pasar hingga ke supermarket.
Supaya tau nama-nama bahan, nama lainnya, penggantinya bila tidak ada, dan juga harganya. Mana yang ada di pasar dan tidak, harganya murah mana antara pasar dan supermarket, lebih nyaman belanja di mana. Buat para calon suami juga gitu, biar pada ngga curiga kenapa uang bulanan cepat sekali habisnya. Karena kebutuhan rumah tangga itu terlihat sedikit padahal ya cukup banyak. Dan ini benar perlu keterampilan untuk merencanakan pembeliannya, supaya tidak boros juga.
3. Biasakan dengan lingkungan rumah dan tetangga. Jangan terus-terusan pergi ke mall.
Kalau masih kos, ya paling tidak akrab dengan penjaga kos, atau tetangga kos yang mungkin umurnya terpaut lebih tua. Ternyata menjalin komunikasi dengan yang lebih tua, yang mana kita baru kenal, dan hidup bersama 24 jam ngga mudah loh. Kurangin hobi pergi naik taksi online ke Mall atau jalan-jalan tanpa tujuan, biar betah di rumah dan ngga jadi hobi keluyuran sendiri.
4. Sebagai calon suami dan kepala keluarga, wajib mempersiapkan lingkungan yang baik untuk keluarga.
Sangat lebih baik telah mempersiapkan tempat tinggal yang layak dan hunian yang nyaman untuk keluarga, bila berencana tidak tinggal bersama ayah dan ibu. Mulailah survey tidak hanya satu tempat, bagaimana lokasinya, tetangganya, banjir atau tidak, rumahnya bocor atau tidak, cahayanya cukup atau tidak, paling penting adalah nyaman atau tidak. Menyiapkannya sudah bersih walaupun isinya belum lengkap pun sangat menyenangkan. Pikirkan juga bagaimana akan mengisinya.
5. Sebagai calon istri dan ibu, sangat perlu sebelum menikah untuk menanyakan masalah tempat tinggal, keuangan, dan rencana hidup.
Inilah mengapa kita perlu mencari yang sekufu, termasuk dalam masalah prinsip harta. Kita harus realistis, hidup memang butuh uang. Berapapun uangnya, ya pasti cukup, tapi kebutuhan pun akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Apalagi ketika sudah hamil dan memiliki anak. Uang bisa dicari dan akan datang, pertanyaannya apakah pasangan mau untuk berusaha seperti itu, atau hanya berprinsip menunggu rezeki datang tanpa usaha yang sungguh-sungguh? Apakah siap bila diajak hidup sulit, dalam artian kalau selama ini ada ART yang membantu setrika misalnya, tetapi ternyata penghasilan tidak cukup untuk memenuhi itu, atau ketika biasa mencuci menggunakan mesin cuci tapi ternyata harus mencuci dengan tangan karena belum ada rezeki untuk membelinya, apakah sanggup, beda yah hanya mencuci cucian 1 orang dan 2 orang, termasuk mencuci selimut dan seprai kalau tidak ada biaya laundry juga. Kapan akan mempunyai rumah sendiri, apakah seumur hidup mau terus mengontrak atau tinggal bersama orang tua. Jangan sampai prinsip kecil seperti ini menjadi sumber masalah nantinya, terlihat sepele, tetapi bila sudah berumah tangga segala hal yang sepele itu bisa menjadi besar, dan uang sering menjadi masalahnya. Sementara, masalah ini sangat bisa dihindari sejak sebelum menikah, melihat apakah pasangan memang mampu atau tidak, dan bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah ini. Juga masalah kendaraan, kalau terbiasa naik mobil sendiri dan tiba-tiba tidak ada mobil, pasti akan jadi bulan-bulanan juga.
Dan sebenarnya, semua hal di atas sudah sangat dijelaskan dalam Islam, sehingga mengapa sangat penting memahami agama sebelum menikah. Termasuk memahami hikmah mengapa laki-laki wajib shalat di masjid dan mengapa perempuan lebih mulia di rumah. Karena telah dijelaskan pula dalam Islam bagaimana cara memuliakan suami atau istri, bagaimana menjadi suami atau istri yang qana'ah, cara manajemen keuangan islami, dan sebagai macamnya. Tak semua memang paham agama dan sanggup menerapkannya.
“Aku ngga khawatir kalau kamu ngga masak atau ngga nyapu, aku khawatir kalau kamu menunda shalatmu dan tidak tepat waktu.”
Saat itu aku yakin, aku tidak salah pilih.
Sementara buat yang sudah menikah dan merasakan sepi, lebih baik tidak terlalu aktif di instagram dan mantengin story terus supaya berhenti membandingkan kehidupan orang lain ya bu ibu. Solusinya adalah mute akun-akun yang suka pamer kehidupan duniawi, move on follow akun-akun yang mengingatkan akhirat dan dunia parenting aja hahaha. Cari kegiatan di luar rumah minimal seminggu sekali. Sosialisasi akan membantu menyembuhkan perasaan tidak berguna. Kalau di rumah, lakukan hal-hal yang bermanfaat dan membuat hati senang tanpa perlu membicarakan orang lain atau menebar kebencian.
Terus kalau pengen dapat kerja sesuai profesi yang deket rumah, udah nyari ngga dapet-dapet, coba kalau pagi baca surah Al-Waqi'ah dan malam setelah isya/sebelum tidur baca Al-Mulk. Dengerin muratalnya juga gapapa deh biar biasa. Semoga tiba-tiba dapat tawaran kerjaan yah atau ada rezeki yang datang, tiba-tiba ada notif grup yang ngasih kabar kerjaan atau kegiatan positif, aamiin. Membiasakan hal ini ketika sebelum menikah juga akan sangat membantu ketika telah menikah nanti loh, karena dapat membantu membuka pintu rezeki dari Allah.
Semoga dalam tulisan ini ada kebaikan yang dapat diambil. Kita semua berproses dan belajar. Melakukan salah itu tidak apa-apa, yang terpenting adalah mau mendengarkan dan belajar kembali. Start to love yourself no matter what!
@shafiranoorlatifah | 25 Maret 2019
Yang masih belajar dan terus berbenah.