Menikmati ketidaksesuaian
Bisa jadi, ini adalah cara Allah untuk mengajari saya bagaimana menikmati setiap detik kehidupan. Setelah proses pengajuan visa yang tidak sesuai dengan rencana, sehingga harus reschedule jadwal, sore ini saya harus menunggu kereta yang terlambat hingga 1 jam 45 menit.
Saat proses pengajuan visa yang tidak semulus dugaan, saya tak henti-hentinya khawatir. Bagaimana kalau proses legalisir di kemenkumham lama, bagaimana jika berkas masuk ke kemenlu mundur, bagaimana jika proses pengajuan visa di kedutaan tidak bisa express? Masa harus reschedule jadwal? Kalau reschedule jadwal, bagaimana dengan informasi keberangkatan di tanggal tsb yang sudah tersebar ke rekan kolega sanak saudada. Bagaimana kalau biaya reshedule pesawat mahal? Dan ke khawatiran yang lain.
Akhirnya, sampai pada satu titik, saya pasrah. Ya sudah lah kalau memang visanya keluarnya setelah jadwal yang sudah di tentukan. Ya sudahlah kalau memang perlu reschesule jadwal pesawat. Alhamdulillah, dengan berusaha untuk pasrah, saya bisa lebih tenang, bisa fokus lagi dengan pekerjaan, bisa tidur nyenyak, dan bisa makan enak.
Sore ini, jadwal keberangkatan kereta adalah sekitar pukul 17. Kenyataannya, keretanya baru datang sekitar jam 19. Awalnya dikabarkan bahwa kedatangan kereta jadinya pukul 18.10. Saya sudah khawatir, bagaimana nanti kalau sampai tujuan malam sekali. Kemudian diinformasikan bahwa kereta datangnya pukul 18.40. Saya tambah khawatir.
Sampai akhirnya, saya pasrah. Dengan rasa pasrah ini, saya mencoba untuk bisa lebih menikmati apa yang bisa saya kerjakan. Saya membaca buku, mencoba membaca buku dengan tenang, dan Alhamdulillah berhasil.
Saya baru menyadari, bahwa saya perlu belajar untuk selalu bisa menikmati situasi dan kondisi, apapun bentuknya. Semoga saja ke depan saya bisa.
Stasiun Poncol, 28 Januari 2019.









