The Limit To Your Love
Me sleep walkin’ in endless nowhere My eyes keep closed My lips saying ‘in time. In time’ Time has it own limits As same as my mind And I know, there will come that time
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
The Limit To Your Love
Me sleep walkin’ in endless nowhere My eyes keep closed My lips saying ‘in time. In time’ Time has it own limits As same as my mind And I know, there will come that time

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ternyata Dira masih selalu ingin pulang. Ternyata Dira terlalu berekspektasi tinggi jadi ketika semua tidak sesuai harapan dia kecewa. Orang bilang begitulah hidup. Hanya saja Dira terlalu larut dalam kecewa.
plw
May 11th, 2026
Procrastination and the Constant Election about Ourselves
My biggest enemy has always been procrastination.
There's this familiar feeling almost every time I want to do something meaningful, an itch to "check the news" or just Google random stuff that pop up in my head. "Oh I'm just going to read this article for 5 minutes, no big deal". Initially, I started off as relaxed, and breezed through the article or whatever it is. But then things would spiral out of control and suddenly time passes. 30 minutes. 1 hour. 2 hours. More.
The internet is perhaps the closest thing I have to an addiction. At some point in my life, I read Wikipedia articles so much up to the point that I realize most of the information I obtained is useless. Why do I need to know about the minute details of a US congressperson life? Sometimes my mind made its own justification: "oh you need this as a life lesson" or whatever. But deep down, it's just an escape. And the more I do it, the more I got miserable.
Recently, I've been listening to the "Atomic Habits" audiobook, written by James Clear. I have been avoiding this book because it's too mainstream (?), but now I know why it got mainstream at the first place: the suggestions make so much sense. Though Clear wrote practical tips to overcome procrastination, what stood out to me the most was the mindset change.
"Your action is the vote you cast for the person you want to become". That is the central concept that really hits home for me. Clear emphasized that instead of aiming for a result (publishing a book, for example), we should aim for a process (becoming an author, which means that we write every day). That liberates me from the pressures of my own aspirations and ambitions, because the goal is not to get the ultimate outcome, but the goal is to become the person I want to be. The meaning of life does not hinge on momentary achievements (winning that award, publishing that book, premiering that film), but lies on the daily action we take (spending at least 3 hours on a project every day, writing at least 1 paragraph every day, working on the short movie 10 hours per week, etc).
Which brings me to my own procrastination challenge. Those 5 minutes in "I'm gonna read the news, it's only 5 minutes" actually matter because it's a small vote on the type of person I want to become. Instead of reading the news or whatever, I can use those 5 minutes to do the task I need to do, even a small, micro, atomic task (for example, writing a sentence for the paper I need to work on).
Now what I like about the James Clear approach is that we are living in a constant election about ourselves. Like in any democratic election, the winners don't usually win 100% of the votes (unless maybe you're in North Korea, even then I heard it's never one hundred percent). Which means that, yes, we will relapse some days. The point is to outvote it.
I like that line of thinking very much because it helps me lift of the guilt of deviating off track. Some days are just not good. But that's okay as long as I can outvote it.
I remember clearly that I first wanted to fight procrastination since 2011, when I was in tenth grade. Every year since I resolved that "I will beat procrastination this year" but I would find myself in the fault lines again. This time, after taking the election mindset, I can approach the issue with more calm.
Besides, reading Seneca's "On the Shortness of Life", I realized that procrastination has always been a universal, timeless issue. Even in the Quran, one of my favorite surahs is Al Asr, the Time. Humans have been struggling to use their time meaningfully.
And these times it's getting more challenging because we have this distraction machine in our pockets.
Now, I am going to cast a vote against "just for 5 minutes".
Rereading Tim Urban's blog on procrastination is also helpful. The biggest challenge is always starting. I know the dreadful feeling of starting, for example, my data science assignment. But then after 10 minutes or so, I got sucked in deep and actually enjoyed it. I would be in the state of flow.
Flow generates joy and happiness, and science backs this up. Procrastination is the enemy of flow.
So now I want to cast a vote for flow.
"Pemakaman Blueprint"
It was 2026 February 12th. Aku mencatat tanggal itu sebagai 'tanggal kelahiran kembali', dan emosi-emosiku terkait hal romantis selama satu dekade terakhir -- bisa dibilang mungkin lebih dari satu dekade karena sejak 2015 -- seperti hilang, lenyap. Gemini AI bilang "It's emotional amnesia". Haha, ada-ada aja. Tapi betulan.
Hilang, karena sejak awal hipotesis dan teori yang aku pakai salah.
Orang itu memenuhi catatan-catatan di blog ini, di diariku bertahun-tahun, puisi-puisiku. Aku masih mengakui perasaanku saat itu dan betapa, entah kenapa, saat menatap matanya seperti ada dinding tinggi antara kita. Tapi aku yang hari itu naif mengira dinding itu adalah tantangan yang harus kutaklukkan.
Aku ingat gerak-geriknya sampai hari ini, harum tubuhnya, senyumannya, tatapannya. Untuk memahami laki-laki yang kucintai tujuh tahun dan menjadi blue print untuk hubungan romantisku lainnya setelah tujuh tahun adalah seorang 'gay', aku ... shock. I never had a chance. I never have a chance.
Our long conversation, our long walks and debates, and discussions, and how I fell for him so hard, the hardest I've ever had ... poof! Lenyap.
He's still my friend. A friend I consider the best one so far. Tapi pemakaman ini tentang aku: kukira blueprint, ternyata miskonsepsi.
Life After 27: Mixed Anxiety and Depression Disorder (MADD)
Di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku menulis banyak tentang kesehatan mentalku. Kukira, setelah sesi konselingku, aku 'sembuh'. Kesembuhan, atau bahasa aku, 'stabil', bukan hal yang instan. Justru sejak aku bekerja, merantau, masuk ke sebuah sistem, aku yang sejak awal memang sudah 'sakit' rupanya rentan.
And I got sick. Tapi aku ga langsung berobat. Aku berusaha bertahan sedemikian rupa sendirian, semacam yakin aku pasti bisa asal aku beribadah, journaling, positive self-talk, olahraga, berusaha masuk ke komunitas, do whatever I can do. Aku mulai mengalami gejala yang parah di bulan kelima aku kerja dan itu berlangsung satu tahun lebih sampai berpengaruh ke kerjaan.
Aku takut ketemu orang. Sebagai guru, aku memilih lewat belakang kelas untuk mengajar agar ga ketemu guru dan staf lain. Aku KETAKUTAN. Aku takut, aku merasa gagal, dan aku sensitif mendengar orang lain ngobrol. Aku pulang ke rumah dan kemudian menangis hebat beberapa jam. Aku begadang sampai jam 2, jam 3. Kadang aku bolos pagi karena ga bisa bangun. Setelah lebih dari setengah tahun, aku beberapa kali dipanggil kepala sekolah. Kukira aku akan membaik setelah pulang kampung.
Ternyata tidak.
Kusadari sejak bulan Oktober tahun itu, fotoku seperti ... tidak bernyawa. Tatapan mataku sedih meskipun aku tersenyum. Desember, mataku sudah buram. Setelah berdiskusi dengan orang tua dan kepala sekolah, aku berobat di Januari 2024.
Dokter mendiagnosis itu MADD (Mixed Anxiety and Depression Disorder). Aku diberi beberapa obat setelah itu, diminta minum rutin.
Pertama kali sadar kalau selain punya kecemasan, aku juga ada depresi adalah hal paling depressing yang aku ketahui tahun itu. Kehidupan sosialku hancur sebelumnya dan selama berobat pun masih hancur. But I did my best.
Aku berobat selama delapan bulan, dan setelah itu ada peningkatan luar biasa pada caraku menghadapi masalah dan orang lain. Moodku lebih stabil. Meski ada relapse di tahun berikutnya, aku berobat lagi dan dokter bilang, "Tidak apa. Ibarat dinding, dindingmu retak dan harus kau rawat dengan kasih sayang. Jangan keras ke diri sendiri. Jika memang butuh pertolongan, tak apa berobat lagi."
Pengalaman ke poli jiwa di rumah sakit benar-benar menumbuhkan sudut pandang yang berbeda dan baru: ternyata, kadang, resiliensi saja belum cukup, dan tidak apa-apa meminta bantuan. I always thought that medications were bad, but I know how f-ed up it was when I struggled with those mental illnesses. Apakah aku sudah sembuh? Bisa dibilang, sekarang lebih pandai mengelola gejala dan tahu kapan harus berhenti saat sudah terlalu parah.
I learn many things during those years: setting boundaries, being more aware of my physical cues when I get triggered, how to love myself radically, and to accept myself, to hug myself despite my tendency to be flawless and perfect all the time. Aku mulai menyayangi diriku sendiri dan tidak menuntut apa-apa. Aku mulai menyayangi aku kecil. Tidak instan, semua proses itu. Meskipun aku saat itu masih keluar-masuk toxic relationship, somehow hubunganku dengan diri sendiri membaik. Self-esteemku membaik. Mulai bisa bilang 'tidak' tanpa mencak-mencak. Aku bisa marah tanpa harus membentak.
'Pemakaman' Blueprint Romantisku
Aneh, ya?
Memahami orang itu, orang yang membuatku meromantisasi Bandung for years dan kujadikan panduan saat menjalani hubungan romantis dengan laki-laki lain, gay, adalah salah satu pintu aku memahami diriku sendiri.
Aku kecil, yang berhadapan dengan abandonment issue, menganggap ketidaktersediaan seseorang adalah hal yang familiar. Dan entah bagaimana dia memenuhi semua ceklisanku, mengobrol denganku, namun dia tidak cukup available. Ternyata justru aspek-aspek itu yang membuatku tujuh tahun tidak move on-move on. Dan kusadari laki-laki setelah dia juga 11-12: tidak available, kadang-kadang toksik (parah), mokondo, dan beragam tipe ... Ah, rupanya kukira -- unconsciously -- cinta itu identik dengan penderitaan, karena aku kecil akrab dengan kerinduan, ketidakhadiran, dan perpisahan. Sesuatu yang 'stabil' tidak masuk ke dalam kamus emosiku.
Menyadari ini membuatku menangis hebat. Aku sudah menyadari sejak minum obat, dan mungkin sejak 2021 atau 2020an, tapi fakta baru itu betul-betul penyadaran yang ... mengubahku. Seketika, ingatan-ingatan romantisku intact tapi aku seperti amnesia emosi. Seolah-olah balik ke satu dekade lalu, aku lupa rasanya mencintai laki-laki blueprint ini dan orang-orang setelahnya. Ingat sih sebetulnya tapi seperti tidak relevan lagi.
Lalu aku merasa lebih terhubung dengan semua versiku, lebih terintegrasi, dan kesadaran ini aku terima penuh sembari menangis. Menangis lega, karena akhirnya aku tidak lagi memproyeksikan semua 'beban' mental itu pada imajinasiku. Berani menghadapinya, memeluk diriku seutuhnya, dan entah bagaimana rasanya lega. Beban di bahuku seperti di angkat, napasku lebih panjang.
Aku menandai itu sebagai 'Pemakaman Blueprint' (dan hari aku menerima diriku lebih tulus). Sebelum berharap pada orang lain -- apalagi yang familiar tapi tidak available atau tidak sehat, aku belajar jadi sosok available itu untuk diriku sendiri. Sosok sehat, seorang pelindung, penyayang, untuk diriku sendiri. Suasana hatiku lebih stabil sejak saat itu, dan I dunno how, tapi aku merasa kecepatan berpikirku juga meningkat. Aku lebih tegas, lebih logis, merasa lebih diriku sendiri. Bukan berarti aku tidak memiliki emosi negatif sama sekali. Hanya saja, aku tidak lari lagi. Aku tidak menyangkal.
And what an era to be alive. I mean, I feel more alive since that.
Setelah itu, aku lebih pay attention sama diriku sendiri. Barusan kemarin, aku ke fisioterapi untuk terapi punggungku yang sakit -- yang ternyata ada skoliosis, haha, dan setelah berobat entah kenapa makin pegel pake banget. But somehow, may I proud? To accept the love I deserve, from myself :)
Mati/Hidup
Ini cerita bukan tentang hidup atau kehidupan, tapi tentang kematian. Tampak menyeramkan? horor? atau biasa aja? Semua bergantung objek terhadap subjek dan seberapa dekat antar keduanya.
Cerita tentang hidup seringkali tak laku untuk dibaca atau bahkan untuk sekadar dibicarakan. Namun, cerita tentang kematian seringkali dijadikan acuan untuk mereka yang akan segera menyusul (baca: hidup).
"Jangan kayak si onoh", "Wah hebat betul dia ya", atau "Dia tuh orang baik, tapi tau ga ..." merupakan ungkapan yang seringkali terdengar dan sangat dekat dengan peristiwa kematian. Belajar hidup dari kematian, sebuah ungkapan yang konsisten mencuat setiap kali terjadi sebuah peristiwa kematian. Tapi, tidakkah lebih elok jika belajar untuk mati sejak masih hidup?
Karena pada akhirnya, kematian bukan cuma tentang tubuh yang berhenti bekerja, tapi tentang diri yang perlahan-lahan kehilangan arah, kehilangan makna, kehilangan keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri. Mungkin itulah “mati” yang lebih sering datang jauh sebelum waktunya. Dan mungkin, justru itu yang perlu kita pelajari lebih dulu.
Pada akhirnya ini bukan tentang hidup atau mati. Ini tentang Aku.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Maret, 2025
Hahaha, numpang tawa dulu, kayany skip 3 taun… makin kesini makin rempongg gaess. Mon maap 🙏🏼
Anw tude 30 ramadhan, dan hari ini gue mens. Which is besok ga bisa solat eid, sediiii..
Semoga Allah izinin kita sekeluarga ketemu ramadhan next year. Amiiin
Flashback sedikit,
Di 2022 gue n bojo dapet cobaan dari dampak pandemi. Kita bertahan hidup dari gali n nutup lobang, sampe awal 2023 kita drop banget. Hancur banget. Mental Fisik dan Shadi yang sangat berkorban. Tapi disemua ujian ini, gue sama Bojo bener bener saling backup n saling nguatin. Ujian hidup dan rumah tangga kita banget. Yaris yang uda 10 tahun nemenin gue dan kado pertama mobil dari bokap udah gone, ip X hasil kerja gue juga uda gone. Berat tapi mencoba ikhlas. Sampai akhirnya gue dan Sam banyak yang sayang dan bantu kita pelan pelan. Jujur kita belum stabil tapi kita bener bener merangkak dari ketepurukan ini.
Teruntuk keluarga. Temen. Sahabat. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semuanya dan apapun yang lagi dikerjakan dimudakan. Aamiin. Kita berdua masih terus menyelesaian apa yang harus diselesain bareng bareng cuma masih butuh waktu. Semoga Allah ridhoi kami.
2024 anak gue uda TK, juli 2025 akan SD. Beratttt coyy. Tapi we’ll see. Moga dapat yang sesuai kita mau.
Dan Ramadhan ini 30 hari gue diuji sama ujian rumah tangga, masa lalu gue ke blowup lagi. Jadi mood up n down, tapi dibalik semua ujian ini semoga Ramadhan gue ibadahnya di Terima Aamiin
Brb, perut gue mules keram. Nanti gue cerita lagi.
Kaya judul film NKCTHI.. eakkk
Seeyou
Long Time No Text!
Di tengah kepadatan tugas yang tiada akhir dan perasaan rindu ngonten seru bareng bestie, ada fenomena ganjil yang rasanya kok sayang banget ga saya abadikan dalam sebuah tulisan. Agar melatih daya ingat, berharap tetap waras dan waspada. Atau bahkan mungkin ini menjadi sebuah pertanda.
Saya ga menampik bahwa setiap tempat pasti ada penunggunya. Saya tinggal di rumah ini juga hampir seumur hidup, semenjak orang tua saya hijrah dari kota kelahirannya. Semuanya baik saja. Meski dari kecil sudah biasa melihat bayangan sekelebat, seperti ada orang yang berjalan, bahkan barang bergerak dengan sendirinya. Itu saya alamin dan ga bikin saya ngeri, selama ga ada yang tersakiti. Se-la-ma ti-dak a-da yang ter-sa-ki-ti.
Ada belasan kucing di rumah saya. Beberapa diantaranya memang punya kedekatan yang berbeda. Jiji, anak saya yang baru berusia 3 bulanan, adik dari si Jojo ganteng. Dari kecil memang sedikit berbeda dari lainnya. She is special, gorgeous, survivor, kesayangan mama Sopy. I love her! Dan sebagai seorang Ibu dari anak-anak kucing, saya juga ingin melihat anak-anak saya tumbuh sehat dan kuat.
Namun beberapa hari ini, kejadian menyebalkan terjadi. Setelah sebelumnya ada kaca hitam tebal yang remuk tanpa suara (yang harusnya kaca tsb bisa pecah seremuk itu kalau di hammer! Dan pasti suaranya berisik sekali), pintu-pintu tertutup dengan sendirinya, saya dan my mom uring-uringan di rumah, sekarang giliran anabul saya yang mendadak pincang hampir semua. Hhhhhh, hela nafas panjang panjang.
Saya benci harus melihat anabul saya jalan seperti orang pincang. Kalau berpikir nalar, bisa saja mereka habis guyon, lalu jatuh, atau tangan dan kakinya nyangkut di mana, akhirnya terkilir sampai bikin mereka susah jalan. TAPI KENAPA KOMPAK?! KENAPA HAMPIR SEMUA?! Masa karena virus yang bermutasi? Feline Infectious Peritonitis (FIP)? Calicivirus (FCV), Limping syndrome?
Entah kenapa, dibanding menerima alasan-alasan tsb, saya tergelitik dengan argumen bahwa dari sisi metafisik, fenomena kucing mendadak pincang sebelah bisa diartikan sebagai adanya gangguan energi atau entitas di lingkungan rumah. Dalam beberapa keyakinan, hewan dipercaya sensitif terhadap energi halus atau makhluk astral. Pincangnya kucing-kucing mungkin dianggap sebagai tanda bahwa mereka merasakan atau terpengaruh oleh energi negatif atau entitas tertentu yang ada di sekitar rumah.
Beberapa pendekatan metafisik juga mengatakan bahwa hewan dapat berfungsi sebagai pelindung pemiliknya, sehingga mereka mungkin "menyerap" gangguan yang seharusnya ditujukan kepada manusia. Dan kalau itu benar, alangkah jahatnya… :’(
Saya ga yakin itu berasal dari rumah, mengingat kejadian belasan tahun silam yang menyerang ayah saya. Kami sekeluarga pas maghrib harus keluar rumah karena atap seperti di bombardir petasan dan gerbang rumah kami seperti diguncang gempa. Bergetar laksana gempa tsunami skala rikter! Saya yang saat itu masih SMP lagi-lagi harus menyaksikan kejadian ga biasa.
Pagi tadi pun saya bangun dalam keadaan jantung berdebar debar, setelah sebelumnya ternyata mama saya juga mengalami kejadian serupa. Saya minum kopi juga enggak. Mama saya apalagi. Kalaupun harus deg-degan kan harusnya pas saya ketemu gebetan! Bukan bangun-bangun tiba-tiba jantungan.
Menurut kamu, aku terlalu parno disebabkan rentetan kejadian sebelumnya karena harusnya ini bisa dijelaskan secara ilmiah, atau emang bener ada yang ga beres di luar nalar dan logika manusia? Coba kasih tahu aku ya. Yang punya penglihatan juga kindly share your thought! Thanks!
Kecuali panasnya yang tidak akan dirindu, 7 bulan di Pekanbaru memang menjadi petualangan yang seru.