I’m about to live react to Tirani because my BM teacher wants a synopsis by Monday.
Salute to my fellow F5 peers. How y’all doing?

seen from South Korea

seen from United States
seen from Latvia
seen from United States

seen from United States
seen from Paraguay
seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from TĂĽrkiye

seen from United States
seen from United States

seen from TĂĽrkiye

seen from TĂĽrkiye
seen from Latvia
seen from Iraq
seen from Latvia

seen from TĂĽrkiye
seen from United States
seen from United States
seen from South Africa
I’m about to live react to Tirani because my BM teacher wants a synopsis by Monday.
Salute to my fellow F5 peers. How y’all doing?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bukan Aku Pelakunya!
keadilan merupakan satu element yang harus diperjuangkan dalam kehidupan, maka banyak dari kita yang merasa marah ketika ketidakadilan itu merayap di atas muka bumi, terlebih jika ada yang bertindak semena-mena lalu bersembunyi dibalik jubah keadilan. banyak orang bersaksi di depan hakim agar dapat diringankannya tertuduh, yang lain bersaksi di depan hakim agar makin beratnya hukuman tertuduh. semua itu dapat diatur dengan ketamakan. maka, tirani seperti inilah yang seharusnya diwaspadai.
banyak sekali kasus di bumi ini yang ada karena diada-adakan, tersangka merupakan target dari ketiranian salah satu oknum yang bersembunyi dibalik layar. mereka mengawalinya dengan asas praduga tak bersalah, di mana mereka dibawa di depan hakim pengadilan untuk diadili dengan dakwaan yang belum pasti kepastiannya. setelah itu, persidangan dimulai.
terlapor, lalu memberikan kesaksiannya, didatangkannya bukti yang entah dari mana kebenarannya, sehingga dijadikannya dia tersangka, lalu didakwa dan akhirnya dipidana. memilukan. sekeras apapun dia mengucapkan “bukan aku pelakunya!”, tetap saja, tirani itu akan memakanmu! peradilan itu seperti dibuat untuk menciptakan ketidakadilan yang terstruktur, sistematis, dan terstruktur. peradilan itu ada karena agar dapat membuang orang-orang yang tidak sepaham dengan sang tirani dibalik jeruji besi. peradilan itu ada, untuk menguasai dunia dan menuntaskan nafsu sang tirani.
keadilan tetaplah keadilan, walaupun ketika orang melakukan tindakan menyimpang dengan mengatas namakan keadilan tetap saja, keadilan tidak akan melekat kepada yang batil.Â
bukankah sudah ada ketetapan yang mengatur dan membedakan mana yang harus dibela dan mana yang harus dibenci, sementara tirani yang mengikuti nafsu biadabnya justru malah sebagai juru kunci. kemana orang-orang yang meneriakkan keadilan? mereka malah diam ketika ada kebiadaban di depan matanya. hilanglah keadilan itu, larut dalam ketidakadilan, melebur menjadi satu, teranggap sudahlah dunia ini bersama kebohongan.
BERJUANG
Pilihan tak selalu berujung jawaban
pun tak memilih juga bukan.
Aku dan intuisiku terbebani
akan makna dari nurani
sedang kau begitu tirani.
Pada dasarnya,
tidak ada satupun insan
yang berjuang demi kepuasannya sendiri.
— Bandung, A.
Sajak Pagi
Ufuk timur yang berbahaya Bunyi gurinda menggilas kaca Tirani silih berganti, tak berkata-kata lagi, kemudian pergi Langkah kaki senyap, tiada, kemudian sunyi
Kapitalis sana sini yang tak kita hakimi Mengais mimpi di setiap cucuran air mata ibu pertiwi Coba saja abaikan-acuhkan, lalu kita remuk, terisolasi Kalah dalam permainan hidup sendiri
Imaji masa depan yang terluluh lantakkan datang mengancam mengecam rusaknya ahkam
Sungguh, Kitalah sunyi yang sepi di tengah keramaian Kitalah yang akhirnya tenggelam tak mampu bertahan
Antara Kekuasaan dan Kebebasan: Demokrasi Menghadapi Pluralisme dan Tirani Sosial
Hegemoni dan budaya yang Antonio Gramsci teorikan tidak hanya dapat mengubah tatanan politik pemerintahan, tapi juga tatanan sosial di masyarakat. Bagaimana jika kita membawa pemikirannya lebih jauh, tidak hanya mengenai perjuangan kelas, tetapi perjuangan terhadap toleransi yang kadang supremasinya dipegang oleh golongan-golongan tertentu. Noam Chomsky mengkritik pemerintahan Modi dengan menyebutnya "gejala fasisme tanpa ideologi fasis" yang dilansir The Telegraph dengan judul "Government Destroying Secular Democracy: Noam Chomsky" yang ditulis oleh Joyjit Ghosh, maka kita mendapatkan contoh kasus yang sekiranya akan penulis komparasikan dengan artikel Hadas Thier yang berjudul "We Need Solidarity, Not White Guilt, to Fight Racism" yang dilansir Jacobin Magazine.
Perlawanan Terhadap Intoleransi dan Perjuangan Kelas:
Sejarah manusia mencatat banyaknya perjuangan kelas yang timbul dan tenggelam bersama arus waktu. Revolusi-revolusi berkobar, ideologinya tersebar luas. Marxisme Antonio Gramsci jelas lebih terlihat lunak terhadap revolusi, tetapi menggoyahkan hierarki yang ada dengan cara yang perlahan namun pasti. Kekuasaan entah yang didasari kapitalisme maupun feodalisme, sama-sama memiliki masalah terhadap suatu golongan tertentu. Ada sekelompok orang yang memperjuangkan sesuatu karena adanya penindasan kepada sesuatu pula, kita melihatnya sebagai perjuangan kelas dan perjuangan suatu kelompok entah agama, ras, suku, atau ideologi politik.
Perjuangan kelas berusaha menjungkirbalikkan hierarki yang ada, hegemoni yang selama ini mengekang mereka di dalam suatu kekuasaan para pemilik modal. Kaum proletar adalah kaum mayoritas yang justru dikendalikan oleh minoritas yang berada di puncak. Tetapi berbeda dengan kasus intoleransi terhadap suatu perbedaan yang membuat mayoritas memiliki kekuasaan terhadap minoritas. Keduanya berbeda, tapi bisa memiliki kasus yang mirip.
Pemerintahan Modi yang fanatik Hindu didukung oleh mayoritas penduduknya yang beragama sama, perlawanan terhadapnya jelas adalah perlawanan terhadap mayoritas di masyarakat. Butuh kekuatan yang lebih untuk melawan penguasa dan masyarakat di saat yang sama. Begitu pula kasus rasisme yang tidak kunjung hilang entah di belahan bumi manapun, tetap bertahan terlebih karena masyarakatnya sering menjaga nilai-nilai tersebut, dan aparat maupun pemerintahannya juga masih ada yang menganutnya. Apa yang terjadi bukan lagi menjadi konflik vertikal, tetapi juga membawa konflik horizontal.
Antonio Gramsci, seorang intelektual Marxis Italia, meneorikan bahwa kekuasaan yang dipegang kelompok tertentu adalah hasil hegemoni yang diajarkan. Kita (kaum proletar) berpikir harus tunduk pada penguasa karena kita pikir mereka menguasai kita. Maka perjuangan kelas membangun kesadaran melawan gagasan bahwa kita selalu ditindas karena kita berpikir kita memang akan ditindas, seharusnya paradigmanya berubah menjadi pertanyaan mengapa kita harus ditindas padahal kita yang menjadi kelas paling keras untuk bekerja?
Kesadaran bahwa kaum proletar adalah mayoritas yang tengah dikuasai akan membangun pemikiran bahwa seharusnya mereka tidak dikendalikan oleh minoritas yang biasa mengeksploitasi mereka. Seharusnya mereka berhak untuk menuntut segala yang direbut dari mereka. Gramsci tidak asal berusaha menciptakan revolusi politik, ia mengkukuhkan hegemoni terlebih dahulu. Kaum kapitalis tetap berada dipuncak hierarki karena memang mereka berdiri didukung oleh pemikiran kaum proletar sendiri, kaum yang merasa bahwa memang mereka ditakdirkan untuk merasa sedemikian tertindas karena posisi mereka mengatakan demikian. Ketika pemikiran tersebut sudah hilang, kaum kapitalis tidak memiliki apa-apa lagi, mereka kehilangan buruh-buruh mereka, mereka kehilangan dukungan, karena hegemoni telah berpindah kepada kaum proletar yang kian gencar untuk menyebarkan pahamnya.
Gramsci yakin bahwa upaya yang dilakukan dengan membangun hegemoni yang baru dapat lebih efektif. Ia tidak terburu-buru untuk revolusi, perang posisi lebih baik dari perang fisik, ketika kaum proletar berada di posisi yang baik dan tepat, perang fisik pun akan mereka menangkan. Posisi inilah yang hegemoninya diperebutkan. Revolusi Gramsci adalah revolusi sosial.
Revolusi sosial yang sama bisa digerakkan juga untuk rasisme dan masalah horizontal yang lain. Dibutuhkan solidaritas terlebih dahulu untuk menyelesaikannya. Penguasa yang intoleran tidak boleh didukung oleh masyarakat yang intoleran juga, ada hegemoni yang mesti diperjuangkan, yaitu toleransi. Ketika toleransi sudah menguasai setiap bagian masyarakat, maka penguasa yang intoleran tidak akan meraih dukungan. Gerakan tersebut bisa berjalan bahkan tanpa melihat kelas-kelas yang ada, ketika orang-orang bergerak meruntuhkan pemerintahan yang konservatif, tanpa membawa nama ideologi tertentu.
Tapi untuk kasus ini, kita akan beralih kepada teori yang ditulis J.S. Mill di dalam On Liberty, yaitu Tirani Sosial.
Pendahuluan On Liberty yang Membahas Campur Tangan Suatu Pihak:
Pemerintah dan tirani masyarakat adalah dua pihak yang bisa mencampuri urusan seorang individu. Jika pemerintah sudah terdengar biasa di dalam sejarah manusia bahwa mereka sering menjadi lawan dari masyarakat, maka ketika demokrasi telah tercipta, masyarakat bisa memilih wakilnya sendiri untuk memerintah mereka, penguasa pun bukan lagi hal yang identik sebagai lawan masyarakat. Ketika penguasa diangkat oleh masyarakat sendiri, maka akan muncul golongan mayoritas di dalamnya.
Ada golongan mayoritas di masyarakat yang bisa menekan minoritas terhadap nilai-nilai yang mereka pegang. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa tiap individu harus dilindungi bukan hanya oleh penguasa, tetapi juga dari masyarakat. Lembaga-lembaga yang melindunginya harus ada. Hal ini yang seringkali luput dari perhatian kita, dan kita dapat melihat banyak pelanggaran terhadap diri seseorang di berbagai tempat, seakan-akan mayoritas tidak akan pernah salah, bahwa yang jahat hanya bisa penguasa. Yang kita lihat nanti adalah terbentuknya tirani sosial.
Mayoritas yang nantinya juga menjadi perwakilan di dalam pemerintah membuat keadaan semakin memburuk. Penindasan yang dilakukan pemerintah bersama aparat bisa dibenarkan oleh mayoritas di masyarakat ini, dan minoritas kehilangan hak kebebasannya. Kita melihat suatu bencana dalam demokrasi pada situasi tersebut, ketika demokrasi mesti berhadapan dengan pluralisme dan masalah besar intoleransi. Kekuasaan bukan lagi menjadi upaya menyejahterakan, tetapi menjadi tempat perebutan kepentingan.
Tulisan Hadas Thier mengindikasikan hal ini, bahwa tetap banyak orang yang bersikap intoleran yang menyebabkan rasisme bisa terjadi. Ketika akarnya di masyarakat telah hilang dengan solidaritas, maka keadilan rasial bisa tercipta,
"But if the struggle for racial justice is going to avoid being isolated and quelled, multiracial solidarity is essential. The movement will need a base that is wide enough and deep enough to force concessions from an entrenched power structure that benefits from the status quo."
Pendapat Noam Chomsky dan tulisan Hadas Thier sama-sama menunjukkan dukungan kepada bentuk protes terhadap pemerintah negara yang mereka maksud masing-masing. Chomsky dengan dukungannya terhadap protes atas demokrasi sekuler yang dilanggar di India, dan Thier dengan gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat. Tetapi yang jelas, isu pada keduanya mencederai demokrasi.
Penerapan hukum yang semerta-merta pun malah menjadi-jadi. Kebebasan individu diganggu masyarakat yang menjadi tirani, situasi ketika perbedaan adalah suatu hal yang dipermasalahkan dan mesti diganjar hukuman seandainya ditentang. Padahal, kebebasan individu harus diperjuangkan untuk hal-hal yang tidak merugikan orang lain baik langsung maupun tidak langsung.
Kebebasan dalam Berpendapat adalah Tonggak
Dibutuhkan masyarakat dan penguasa yang terbuka dengan diskusi untuk mempermudah jalan menuju toleransi yang menyeluruh. Hal ini menyangkut kekurangan manusia dalam berpendapat dan berargumen yang menyebabkan kebenarannya tidak dapat mutlak. Pihak-pihak yang merasa tidak-dapat-sesat ini yang menyebabkan banyaknya penindasan pada kelompok-kelompok tertentu yang pendapatnya berlainan.
Menurut J.S. Mill, suatu pendapat bisa saja benar tapi bukan kebenaran seluruhnya. Kebenaran adalah potongan-potongan yang tiap potongan bisa ada di pendapat lain, dan menganggap pendapat sendiri adalah kebenaran seutuhnya adalah kesalahan besar. Inilah yang membuat setiap pendapat haruslah menghadapi pendapat lawannya, suatu upaya agar menemukan jalan yang paling benar.
Suatu pendapat atau argumen harus diuji oleh argumen lain untuk menunjukkan dan mempertahankan kebenarannya. Ketika hal ini tidak diterapkan, maka akan terjadi pembuatan hukum yang melanggar kebebasan individu dan mendukung cacat sosial (social stigma). Situasi ketika pendapat yang lazim diterima oleh banyak orang dipaksakan secara legal untuk dianut kepada orang lain yang berbeda pendapat di dalam masyarakat itu.
Pemaksaan terhadap kebebasan individu ini menyebabkan kemajuan menjadi tersendat. Demokrasi menjadi tidak berkembang. Yang semestinya perbedaan adalah kebutuhan yang dimiliki suatu peradaban agar tetap berusaha mencari jalan yang paling benar, malah disalahartikan dengan berusaha menghilangkannya untuk mengupayakan kestabilan.
Lantas bagaimana cara menerapkannya kepada masyarakat? Di sinilah pendapat Gramsci mendapatkan tempat sebagai jalan untuk mencapai perubahan. Masyarakat dan penguasa memiliki filsafatnya sendiri, atau semacam kerangka berpikir. Filsafat masyarakat memberikan potensialitas pada realita yang bisa diciptakan melalui kehendak. Maka upaya menyebarkan toleransi terhadap setiap individu yang berbeda agama, suku, ras, dan diferensiasi sosial lainnya lewat diskusi dapat memenangkan kaum minoritas dalam "perang posisi", menciptakan solidaritas melewati batas-batas perbedaan melawan intoleransi.
Pada akhirnya, demokrasi yang dipikir dapat menyelesaikan masalah hak-hak warga negara, dalam bentuk implementasinya mendapat banyak pelanggaran juga terhadap warga negaranya sendiri tanpa disebut sebagai tindakan melanggar kebebasan individu. Selama ada upaya untuk menyadarkan akan kebebasan individu, maka hal itu harus diperjuangkan.
Karena menurut Machiavelli, "Jika pemimpin dan rakyat sudah sama-sama korup, maka teramat sulit, kalau bukan mustahil, bagi masyarakat itu untuk hidup merdeka."
Original post on Medium
28 Juni 2020

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[On the Cover] Rahma Azhari: Wanita Tangguh dari Tirani Azhari! Sudah lama tak terlihat di layar kaca, akhirnya POPULAR bisa membawa kembali salah satu dari bidadari keluarga Azhari.
Puisi Kang Suhendra "Melawan Tirani"
Puisi Kang Suhendra “Melawan Tirani”
[ad_1]
Melawan Tirani
Apalah arti diri Ketika sungai-sungaiku kau curi Tanahku kau gali Keringatku kau gunakan mencuci alas kaki Wahai tuan Kupertanyakan apalah arti kemerdekaan diri Ketika sikapmu melebihi tirani
Jika soe hok gie memilih mengasingkan diri lalu mati Aku hanya ingin berlari Dalam derasnya badai pasir
Baca juga :JustoKnow/2017/12/10/puisi-kang-suhendra-tentang-kesepian/
Lalu terus…
View On WordPress
DI BAWAH SELIMUT KEDAMAIAN PALSU apa guna punya ilmu kalau hanya untuk mengibuli apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu di mana-mana moncong senjata berdiri gagah kongkalingkong dengan kaum cukong di desa-desa rakyat dipaksa menjual tanah tapi, tapi, tapi, tapi dengan harga murah apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu --Wiji Thukul, Nyanyian Akar Rumput, Jakarta: Gramedia, 2017, h. 73 . . . đź“· from @zeljko_zoricic #wijithukul#nyanyianakarrumput#thukul#tirani#wijithukulquotes#althclothbdg#kaostokohalthclothbdg#kaosbukualthclothbdg#kaostokohdanbuku#althalogue#bandung#jawabarat#indonesia#buku#bibliophile#bookworm#booklovers#bookaddict#pecintabuku#kaosfilsafat#kaostasawuf#kaossains#kaossastra#kaosmusik#kaosseni#kaosbudaya#kaosquotes#kaoskomunitas#kaostokoh#kaosbuku