#Curhat: Guilt Radar
Kemarin ngeliat reels, tulisannya kurang lebih begini, "Orang yang berbuat salah padamu, akan mengira bahwa semua storymu adalah tentang dia. Kamu story muka babi juga dipikirnya sedang nyindir dia."
I suddenly flashed back to how someone replied to my story—one where I posted a photo of myself at the beach, lengkap dengan caption yang saying sorry to myself for letting me fight that hard.
Gue sendiri, di WhatsApp yang khusus buat first circle gue adalah orang yang definietly jarang banget bikin story. Dan bener aja, sebulan kemudian BOOM, ketahuan dia selingkuh. Kayaknya hati nuraninya udah kasih spoiler duluan.
Itu definisi guilty conscience speaks the loudest! Orang yang bersalah sering kali lebih sensitif dari yang kita kira. Mereka bisa merasa diserang padahal kita nggak ngomong apa-apa. Itu karena mereka udah sadar sendiri akan kesalahannya, cuma mereka masih denial atau takut ketahuan.
Gue juga sempat kepikiran beberapa hal tentang itu. Pertama, soal a thing inside me. Kalau diingat-ingat, gue bikin story itu karena gue merasa benar-benar sedih beberapa minggu entah kenapa dan mau bilang maaf ke diri sendiri. Dan bisa jadi, itu ada kaitannya dengan intuisi yang sering kali bekerja di bawah sadar, ngasih sinyal lewat cara-cara atau bentuk yang nggak selalu obvious. Kadang bisa muncul dalam bentuk pilihan lagu, kata-kata, atau mood tertentu yang tiba-tiba terasa pas sama situasi lo, tanpa lo tahu persis kenapa. Gue saat itu mungkin nggak secara sadar mikir kalau lagi dibohongin, tapi ada sesuatu dalam diri gue yang udah ngeh and pick up the signs dari sikap seseorang itu, cuma gue belum mengartikulasikannya sebagai kecurigaan. Dan akhirnya? Terbukti juga.
Kedua, gue ingat sama buku yang baru gue baca beberapa halaman dan sampai hari ini belum kelar—Give Yourself Some Space by Hisako Yukawa. Mungkin ada kaitannya sama denialnya gue. Sesering diri gue ngasih sinyal bahwa something was wrong, tapi gue terus-terusan denial, "bisa aja gue yang salah." Dulu gue nggak bisa lihat dengan jelas semua keterkaitannya, karena waktu itu gue masih ada di dalamnya. Tapi begitu gue selesai dari sana dan ninggalin semua pada tempatnya, semuanya jadi lebih jelas. Kadang yang bikin nggak jelas bukan situasinya, tapi karena kita masih terlalu dekat dan terlalu terlibat. Tapi begitu ada jarak, kita bisa lihat semuanya tanpa bias.
Tbh, itu satu-satunya hubungan yang gue jalanin bertahun-tahun yang bikin gue lebih percaya orang lain daripada diri gue sendiri. Makanya sekarang gue getol banget teriakin ke Ladies: trust your feelings and intuition! With a grain of salt, of course.
Oke balik lagi ke babi di atas. Tapi emang ya, rasa bersalah itu kayak alarm otomatis. Mereka yang tahu mereka salah bakal selalu waspada, meskipun nggak ada yang nuduh. Dan ini jadi semacam random test buat ngeliat siapa yang diam-diam nyimpen rasa bersalah. Lo nggak perlu ngusut atau curiga berlebihan, mereka sendiri yang bakal kebakar sama perasaan mereka.
Kita nggak perlu jadi detektif buat tahu ada yang nggak beres. Cukup posting sesuatu yang totally random, duduk santai, dan tunggu siapa yang tiba-tiba muncul dengan energi panik. Mungkin mereka lagi ketakutan sama bayangan dosanya sendiri. Ang ang ang ang










