Malam ditakdirkan gelap, angin bernasib untuk mendinginkan segala. Dia pun lega. Telah melepas penatnya. Telah menghibur dirinya. Telah berpaling dari kota yang disinggahinya cukup lama.
Kaca ditetesi oleh gerimis yang tak lama kemudian menjadi deras. Lubang hadir di sisi dan tengah jalan diantara aspal yang berair. Langit tak lagi menangis, dan pelangi mulai nampak.
"Akhirnya reda juga", ujarnya sambil menghela nafas.
Asap mengepul didalam ruang 1,75x2 meter itu. Sigaret dua batang dihidupkannya dari mati. Diusapnya pula kaca yang berembun, sembari menyentuh pedal gasnya secara perlahan. Matanya berkilau, berkaca-kaca, basah seperti kaca kendaraannya; dia menangis tanpa sengaja.
"Heh, hujan diluar mengapa bisa masuk kemari?", ucapnya membela diri.
Digenggamnya erat roda setir, membelokkan mobil di perempatan jalan di depan; lampu sedang menyala hijau, marka memutih di tengah gelap jalan. Rasa-rasanya, hidupnya juga telah mampu dia kendalikan, dari semua rasa-rasa liar yang kadang datang kadang pergi. Tapi tetap ada beberapa makna yang gagal diresapi, dimana perpisahan melupakan konsep bahwa yang rusak tak berarti mati. Iya, dia tidak berjalan lurus. Berpaling ke kanan sini untuk membelakangi masalah di ujung kiri. Menuju titik terjauh, mendayung melebihi pulau tempatnya berlabuh, mengendarai alasan yang diperkuat oleh berbagai pembelaan.
"Barangkali aku memang jalan tanpa marka. Banyak kendaraan melintas dan berhenti di atasku. Semua menyisipkan kesan, beberapa diantaranya menyelipkan pesan. Dan aku tetap di tempat yang sama, hingga memudar di suatu hari nanti", ujarnya, memulai monolog di malam yang sunyi itu.
"Hei, kebetulan sekali, hidupku hanya sibuk untuk bernafas. Nafas-nafas percuma, yang nanti akan diambil oleh waktu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hari-hari yang kulalui tanpa progress-tanpa malu. Ambil saja sekarang bila mau!", geramnya.
Pernah diingatnya di suatu hari, hujan begitu deras, dan dia mencela nama seseorang di sela-selanya.
"Kalian sama-sama pembohong! Menjanjikan sejuk dan dingin tapi akhirnya juga malah masuk angin. Ini sama sekali tak sesuai dengan apa yg kita perjanjikan awalnya. Kita susun rencana atas segalanya dengan baik, tapi semuanya pada akhirnya berubah jadi sesuatu yang remeh. Chairil Anwar ternyata memang benar, kau bahagia dan aku yang tinggal rangka!". Lalu semua ekspresi Chairil menjadi ekspresinya di hari itu.
Perjalanan dalam sepi, monolog tentang keresahannya seorang diri, semuanya seperti mimpi. Atau kemarau yang dihapus hujan sehari. Atau ingat yang jadi lupa. Atau apapun itu. Malam itu, sunyi dan emosi mengambil semua ingatannya sampai pagi.