Kalau masih ada perasaan kecewa, artinya kamu masih salah meletakkan harapan.
Belajar sabar itu perjalanan tiada henti. Jangan merasa sudah cukup sabar. Karena ujian akan selalu naik tingkatannya. Yang sekarang kau hadapi, tidak berhenti disini. Kesabaran hari ini, jadikanlah bekal untuk ujian esok hari. Kita hanya perlu terus meluaskan jangkauannya, menjadi sabar yang tak bertepi.
Kali ini, lika-liku menuju operasi. Lama sekali menanti, panjang sekali proses yang dilalui.
Beberapa bulan lalu kita memulai langkah ini. Memutuskan cuti kuliah, kembali hanya di rumah, dan siap berjuang tanpa menyerah. Agar aku bisa memaksimalkan segala peran disana, terutama sebagai mahasiswa. Agar hilang bayangan rasa bersalah karena sempat menunda, ingin memperbaiki semuanya.
Juni 2023. Bulan pertama, kesabaran pertama. Tentu bukan sebenar pertama dalam perjalanan panjang ini, tapi bolehlah jika dikatakan begitu. Harus menunggu dokter yang sedang cuti. Sebulan lamanya. Serasa membuang waktu. Percuma.
Juli 2023. Bulan kedua, pertemuan pertama dengan dr. Bintang setelah beliau cuti. Ini operasi besar, harus di program dulu, ada banyak ceklis yang perlu dipenuhi. Pekan depan daftar lewat poli reguler di Wijaya Kusuma. Juga dikonsulkan ke poli rehab medik untuk fisioterapi.
Masih di bulan yang sama. Akhirnya kembali lagi ke poli reguler bertemu para residen. Ceklis ini diperlukan untuk memastikan tidak ada infeksi ataupun peluang infeksi. Rontgen, cek laboratorium, dan konsul ke poli lain. Kagetnya, sebanyak 21 ceklis bisa menghabiskan waktu sekitar dua bulan. Harus selama itu kahh?!
Agustus 2023. Bulan ketiga, mulai konsul ke poli lain: Poli Jantung, Poli Gigi dan Mulut, Poli THT-KL. Anak muda ini sudah rekam jantung, dengan tatapan heran perawat yang kemudian paham bahwa ini hanya untuk pemeriksaan sebelum operasi. Konsul poli gigi sejak bulan lalu, untungnya tidak ada gigi berlubang yang perlu tindakan lain, hanya scaling gigi yang terjadwal bulan ini. Setelah selesai dari masing-masing poli, dokter menyerahkan kembali ke poli ortho dan lanjut konsul ke poli berikutnya.
Poli THT. Siang itu ambil darah untuk pemeriksaan ASTO. Hasilnya cukup mengejutkan. Adanya peningkatan ASTO mengindikasikan bahwa amandel yang berisi sel imun sudah lemah atau kalah dan dapat menjadi sumber infeksi. Tonsilektomi (operasi amandel) harus dilakukan. Operasi untuk persiapan operasi wkwk, gimana konsepnya, sih.
Untuk operasi kecil seperti tonsilektomi saja perlu penjadwalan dan persiapan. Tidak bisa sekarang juga dilakukan. Rontgen thorax sudah pasti. Juga kompres hidung dengan memasukkan semacam kasa basah yang nanti ditarik benangnya, untuk kemudian endoskopi (teropong) hidung sampai tenggorokan saja. Ternyata ada penebalan di amandel belakang yang setelah ditelusuri melalui tes alergi (ditusuk 24 titik dan diberi alergen), ada alergi teh dan kedelai. Bisa jadi bahan makanan itulah penyebab penebalannya. Kenapa basic banget, deh, mana bisa hidup tanpa ituhh.
September 2023. Bulan keempat, tanggal 14 dijadwalkan tonsilektomi. Bulan ini dan bulan depan tidak banyak tulisan yang tersimpan, mungkin sedang lelah dan bosan. Ujungnya sama sekali belum kelihatan. Dijalani dengan biasa saja dan sederhana, tanpa banyak meromantisasi perasaan yang timbul tenggelam.
Rawat inap dengan penuh semangat. Terasa sekali perbedaannya, ruang jeda di rantaun mengubah banyak sudut pandang. Sebab tau, kali ini hanya operasi kecil saja, berkali melewati yang lebih besar dari itu dengan perasaan yang berat dan terpaksa, sebatas memang harus begitu adanya.
Masa pemulihan pun tak banyak kendala. Semua berawal dari hati yang lebih tertata sehingga siap menaklukkan apa saja. Sedikit-sedikit melanggar diet makan yang ditentukan, asal tau batasannya. Kontrol pertama hasilnya sudah baik, tapi aturannya mesti dua kali kontrol. Selesai kisah di THT kembali diserahkan pada Orthopaedi.
Oktober 2023. Bulan kelima, ditampar lagi oleh fakta bahwa dokter cuti. Selesai juga semua ceklis dilengkapi, sudah kadung senang hati bakal penjadwalan operasi. Sudah tau kalau daftar hari ini pun, bisa jadi terjadwal masih sebulan lagi. Tapi kali ini, dihadang lagi oleh rintangan sabar.
Sebelum masuk poli, mengobrol dengan seorang ibu. Saat itu terucap, "Saya udah nggak kaget lagi, Bu, kalau harus begini begitu, tertunda atau melewati proses yang ternyata lebih lama dari yang dibayangkan." Sudah bukan masanya lagi mengeluhkan, "Sampai kapan harus begini?" "Kapan semua ini berakhir?" dan rentetan pertanyaan lain terkait waktu. Karena jawabannya sudah tentu, "Perluas lagi sabarmu."
Benar saja, ketika masuk poli dan menyampaikan untuk penjadwalan operasi, respon dok residen: "wahh ikii." ternyata perlu menunggu lagi karena dr. Bintang cuti sedang seminar di Bali. Beneran bikin melongo berasa langsung diuji sama perkataan diri sendiri.
November 2023. Bulan keenam, cepat sekali bukan waktu berjalan? Sudah sejauh ini, ah, maksudku seluama ini. Satu semester cuti yang kuambil sudah hendak usai. Tapi bahkan, prosesnya berjalan amat sangat perlahan. Disebut baru mulai, tentu salah setelah terlewat lima bulan lamanya. Disebut setengah perjalanan, siapa yang tau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik usai?
Mengawali pekan pertama dengan penuh optimisme akan segera dijadwalkan operasi. Berharap semaksimal mungkin agar tak melebihi akhir tahun. Dan yayy berhasil dapat jadwal akhir bulan ini tanggal 30!! Alhamdulillah hilalnya sudah mulai kelihatan. Lebih cepat dari yang dibayangkan.
Memasuki pekan kedua ditonjok (bukan ditampar lagi) oleh fakta bahwa penjadwalan pekan lalu tidak valid. dr. Bintang belum dapat laporan dan tindakan pun belum didiskusikan. Melihat hasil rontgen terbaru, diperlukan CT Scan untuk penentuan tindakan. Masih berharap bisa operasi sesuai tanggal awal.
Radiologi mematahkan harapan. Yang benar saja, mendaftar tanggal 8 dan dapat antrian di tanggal 29 ?! Kalau begini mana mungkin operasi sesuai jadwal awal, padahal bulan depan dr. Bintang kembali cuti untuk pergi ke Swiss dan akan hadir lagi di akhir bulan.
Artinya, jika tetap tanggal 30 bulan ini maka kontrol setelahnya hanya akan bertemu sekali dengan dr. Bintang lalu beliau cuti. Dan jika diundur maka tidak mungkin bulan berikutnya, kemungkinan terbesar (dan terberat) berpindah jadwal di awal tahun baru.
Ah, sudahlah. Berulang kali kita diajarkan untuk tak menaruh harap pada selain-Nya. Selalu siapkan ruang kecewa untuk setiap harapan dan tawa. Tak mungkin semua sesuai mau kita, karena Allah Maha Tau segalanya. Memangnya kita siapa? berhak menentukan arah yang bahkan kita buta apa yang akan terjadi setelahnya.
Sejenak melepaskan rumit kepala. Segalanya kita serahkan pada Sang Pencipta Alam Semesta. Berserah dengan benar, tak akan membawa kita pada kecewa.
Pada pekan ketiga, tetap datang ke poli meskipun entah untuk apa. Karena tanpa hasil CT Scan, proses pun tak bisa dilanjutkan. Untungnya, hari itu tidak pulang sia-sia. Dokter residen yang langsung menuju radiologi untuk meminta perubahan jadwal. Yess bisa maju jadi tanggal 23, lumayan lah tidak ada satu pekan yang terbuang hanya untuk menunggu antrian.
Akhir pekan bahagia sekali, berkumpul dan bercengkrama dengan teman memang sangat diperlukan di fase yang penuh rasa kesepian. Mengulas balik masa lalu dengan penuh senyuman. Bertemu para guru yang sangat berperan membentuk pribadi kami sekarang. Nostalgia penuh tawa itu ditutup dengan kabar bahagia saat perjalanan pulang, bahwa jadwal CT Scan diajukan tanggal 22, lebih tepatnya esok hari. Kusebut sebagai, berkah silaturahmi.
Pekan keempat, diawali dengan MSCT kemudian kontrol dan dinyatakan bahwa pekan depan rawat inap untuk operasi. Akhirnya bernapas lega. Walaupun masih mengganjal karena pernyataan itu tidak disampaikan langsung oleh dr. Bintang melainkan oleh residen saja. Prosedur tindakan dari hasil MSCT pun belum dijelaskan. Tapi marilah kita kuatkan prasangka baik pada ketetapan.
Persiapan rawat inap sudah setengah jalan. Umi izin kerja, baju disetrika, barang disiapkan, hingga bank soal UAS adik pun buru-buru dikerjakan. Karena nanti Umi tak bisa mendampingi penuh selama pekan ujian yang berbarengan dengan jadwal operasi.
Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk:
Alhamduliah 'alā kulli hāl wa ni'mah. Takjubnya, aku tak terlalu kecewa. Lebih dari perasaan 'sudah biasa'. Meyakini bahwa ketetapan Allah yang terbaik sangat menenangkan.
Masih ada sedikit terbesit rasa kecewa. Tapi membawaku pada pertanyaan, "Selama ini kamu berharap pada siapa?" Harapan yang salah tujuan hanya akan memberatkan langkah di jalan. Kalau masih ada rasa kecewa, artinya kamu masih salah meletakkan harapan.
Pada akhirnya, ujung kisah ini masih dinantikan. Lusa akan menjadi jawaban dari pertanyaan kenapa. Dan seterusnya akan menjadi petualangan satu hikmah menuju hikmah lainnya.
Selasa, 28 November 2023. Pukul 02.11 WIB.















