Cari Tetangga Dulu, Baru Buat Rumah
✍🏻 Muhammad Scilta Riska (Mahasiswa Pascasarjana Ulumul Qur'an Akademi Syifa' Qulub, Mesir)
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan banyak promosi tanah kavling atau perumahan dengan akad yang syariah.
Ini patut disyukuri karena orang sudah memahami pentingnya transaksi syariah tanpa riba.
Hanya saja, syariah bukan hanya sekedar akadnya. Tetapi juga bagaimana cara pandangnya.
Seperti konsep arsitekturnya, dan bagaimana kita membangun rumah tangga sesuai lifestyle sunnah Nabi.
Mari kita pahami bagaimana Nabi menjalankan rumah tangganya jika ingin bahagia.
Itu baru disebut syariah.
Apa yang menjadi pondasi dasar kita membangun rumah.
Seperti do’a Asiyah, tatkala hendak disiksa oleh Fir’aun. Pasca diketahui telah beriman kepada Rabb Nabi Musa. رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam firdaus,” (QS. At-Tahrim: 11).
Kenapa didahulukan di sisi-Mu kemudian sebuah rumah. Bisa saja kan disebut pertama sebuah rumah lalu di sisi-Mu?
Seolah ia meminta, tidak ingin rumah kecuali disisi Allah.
Al-Jār qabla ad-Dār. Mencari tetangga sebelum rumah.
Bukan sebaliknya, yang penting asal mencari/membangun rumah yang modern, lapang, strategis dekat dengan fasilitas umum dll.
Lihat dulu dengan siapa bertetangga. Dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang menguatkan keimanan.
Tetangga yang senantiasa mengingatkan kita akan kebaikan. Bahkan jika kita tidak berada di rumah, lingkungan kita tetap aman, saling menjaga.
Dan sebaik-baik rumah adalah dekat dengan rumah Allah.
Nabi Ibrahim menyimpan keluarganya seraya berdo’a, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati,”
Desain perumahan yang paling ideal adalah pusaran kegiatannya di masjid.
Adalah Masjid menjadi pusat peradaban. Lihatlah bagaimana desain kota Baghdad di zaman lalu.
Lingkungan apa yang kita dambakan jika pusat kehidupan penduduknya bukan ibadah. Semata urusan dunia saja.
Rasulullah pernah menyatakan ada empat kebahagiaan.
Adalah tetangga yang shaleh salah satunya.
Betapa bahagianya jika tetangga kita orang yang shalih.
Kita akan tetap merasa aman disampingnya. Aman dari lisan dan perbuatannya.
Anak-anak kita juga pergaulannya semakin terjaga. Seperti bersahabat dengan penjual parfum.
Minimal yang kita dengar, saksikan dan jumpai adalah kebaikan.
Dan betapa sengsaranya kala kita bertetangga dengan orang yang buruk akhlaknya.
Jika demikian, kita yang harus menjadi orang shalih dan muslihnya.
Wallahu 'Alam.
Watansoppeng, 5 Oktober 2021




















