Laut itu cantik. Dari daratan manusia bisa melihat betapa eloknya gelombang naik turun. Menghantarkan angin sejuh, mengundang beberapa ikan moody untuk berlarian di permukaan. Itupun jika sedang beruntung dapat menyaksikannya. Adapun luas laut tidak pernah mengecewakan meski sering mendapat sapuan sampah dari daratan. Kelapangannya membuat pecinta lautan selalu betah untuk singgah melihat dari dekat. Bahkan banyak di tepian sana yang menikmati keindahan ekosistem yang masih terjaga. Namun, kesan “wah” tersebut mungkin dapat membuat seseorang tidak mengucap hal serupa kala sudah masuk ke bagian dalam. Tersebut “Palung Mariana”.
Manusia tidak bisa tinggal tanpa udara. Teknologi memutarbalikkan ketidaksanggupan menjadi apapun bisa dilaksanakan. Melalui proses yang tidak sebentar, manusia dapat memerintah ciptaan kecil berbasis teknologi pula untuk menjelajah tanpa kenal keluh kesah. Bukti tersebut dapat membuka cakrawala baru kala mengetahui jika laut terdalam pun bukan tempat yang cukup menyenangkan.
Oh, ini bukan pantun, juga bukan puisi. Hanya mau mengingatkan saja. Kalaupun laut yang mengitari bumi ini punya sisi gelap, langit yang biru itu yang juga punya sisi gelap, mereka semua menyimpan keindahan. Menghapus ketidaktahuan menjadi pemahaman adalah anugerah. Lalu, gimana dengan relung yang satu itu? Yang sekarang berdiam di dalammu. Sering muncul ke permukaan wajahmu dengan wajah sendu. Terus? Bagaimana?