Benak Jica tidak menyangka akan di opname hari ini dan operasi besoknya. Meminta ijin mama untuk operasi lewat telepon.
Lalu mama dan adiknya datang karena tentu saja harus ditemani, jika sebelumnya dia selalu sendiri ke RS.
Sejujurnya jika Jica sendiri pun tak apa dengan alasan tidak ingin merepotkan keluargannya.
Malamnya berganti shift dengan Ayah yang baru pulang. Belum lagi katanya harus bawa rontgen thorax karena tadi salah bawa rontgen organ.
Nah lo banyak bener rontgennya?
Sebenarnya Jica hanya operasi jari polidaktil (memiliki jari lebih dari 5) di bagian jempol yang dulu sempat dioperasi saat berumur 2tahun namun ia merasa jempolnya membengkak dan nyri setelah 3 minggu sebelumnya setelah 20thn kemudian. Belum lagi Jica kidal harus selalu berurusan dengan tangan kirinya.
Oh ya kenapa harus bawa rontgen thorax?buat ngecek persiapan sebelum operasi katanya.
Saat di ruang operasi besoknya Jica terlihat bingung karena mungkin baru bangun tiba-tiba ke ruangan operasi.
Saat keluar dia lemas namun bersemangat
“Bagus tau kayak di drama korea banyak lampu-lampu diruang operasinya” lalu melanjutkan
“Terus ada dokter koas yg inget aku tapi aku nggak begitu inget” diam sekejap
“Terus aku keliatanya dibius total dan tiba-tiba bangun jari aku nyeri banget parah kerudung ga kobe dan dede kecil depan aku nangis-nangis”
Ayah bilang dijempolnya ada kantung nanah dan daging membesar belum tau penyebabnya minggu depan baru tahu menurut dokternya. Jica diam lalu istirahat untuk sementara karena lelahnya operasi.
Ketika itu Jica sadar betul bahwa kebahagiaan hakikinya adalah orang tua dan keluarganya yang selalu siap siaga menjaga. Dan mandiri seutuhnya pun butuh seseorang untuk membantunya.